Light the World!

Icon

Cerahkan Dunia. Mari Saling Berbagi

We Will Not Go Down (Song for Gaza)

Silahkan klik tanda “Play” pada tampilan youtube di bawah untuk mendengarkan lagu. Untuk mendownload lagu, silahkan menuju link ini: http://www.michaelheart.com/Song_for_Gaza.html

WE WILL NOT GO DOWN (Song for Gaza)

(Composed by Michael Heart)
Copyright 2009

A blinding flash of white light
Lit up the sky over Gaza tonight
People running for cover
Not knowing whether they’re dead or alive

They came with their tanks and their planes
With ravaging fiery flames
And nothing remains
Just a voice rising up in the smoky haze

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight

Women and children alike
Murdered and massacred night after night
While the so-called leaders of countries afar
Debated on who’s wrong or right

But their powerless words were in vain
And the bombs fell down like acid rain
But through the tears and the blood and the pain
You can still hear that voice through the smoky haze

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight

Filed under: Dunia, Islam, Life, Religi, Sisi Lain

Palestina, Oh Palestina!

Pagi ini saya menyaksikan di televisi, seorang anak kecil Palestina terkapar buta. Mukanya hancur dan matanya tak bisa melihat lagi. Israel menjatuhkan bom ke tempat tinggalnya, bom yang mengandung cairan kimia. Asapnya pekat dan membakar daging, malah sampai ke tulang. MasyaAllah, kemana warga dunia? Kemana PBB, Amerika yang mengaku pejuang HAM? Kemana negara-negara Arab?

Pada tayangan lainnya, satu ambulan penuh mayat bergerak cepat membelah kota yang hancur. Ada para ibu, ayah yang menangis histeris menyaksikan ananda tercinta tergeletak tak bernyawa. Ada jejeran anak-anak lugu yang berbungkus kain kafan, dan ada lagi yang belum. Asap hitam pekat dan putih membumbung dari kota yang luluh-lantak. Tak ada lagi tempat yang aman, rumah, sekolah, mesjid jadi sasaran bom peluru kendali. Tak cukup rasanya, sekedar air mata saja kita berikan ke Palestina.

Per hari ini (13-01) sudah 920 lebih warga Gaza tewas. Setiap menonton TV, hanyalah mendapatkan kabar setiap hari puluhan dan ratusan orang yang tewas. Hari demi hari, hanyalah menghitung jumlah orang yang mati.

Tak habis pikir, sekolah PBB, rumah sakit, ambulan, dan wartawan pun diserang. Dari TV saya menyaksikan seorang wartawan Televisi yang sedang meliput, ditembak berkali-kali. Setelah terkapar, sang wartawan mengangkat tangannya—mungki tanda menyerah atau minta ampun, tapi ditembak lagi berkali-kali sampai tak bisa bergerak lagi.

Seluruh dunia bersatu-padu mengutuk agresi Israel atas tanah Palestina. Mereka tak lagi memandang agama dan bangsa. Persoalan Palestina adalah persoalan kemanusiaan. Seluruh warga dunia bersimpati, tapi kenapa pemerintahannya masing-masing banyak yang membisu?

Sudah jelas, apa yang dilakukan Israel sekarang ini adalah holocaust. Basmi habis warga Palestina demi pembentukan Israel Raya yang terbentang dari Mesir sampai Irak. Maka, pembantaian tak berkemanusiaan harus dilakukan terhadap warga Palestina. Bisa kita lihat, sasaran agresi adalah para anak-anak dan wanita. Karena merekalah penerus generasi Palestina. Setelah wanita terbunuh dan tak lagi menghasilkan anak, setelah anak-anak habis, maka siapakah lagi yang akan meneruskan generasi Palestina?

Aah… Kok bisa ya, negara-negara pengusung HAM bisa berdiam diri melihat kekejaman ini? Rumah sipil, wanita dan anak-anak dibantai, sekolah PBB tempat berlindung diroket, rumah sakit dibom, ambulan diserang, wartawan diberondong peluru. Tempat-tempat terlarang dan dilindungi oleh hukum internasional….

Untuk melawan sedikit pejuang Hamas, Israel mengerahkan seluruh angkatan perang dan puluhan ribu tentara. Menjatuhkan bom-bom kimia berbahaya. Apakah yang terjadi…..?

Filed under: Dunia, Islam, Religi

Palestina, Kepada Siapa Mereka Berharap?

Sudah lama saya tak menulis di blog ini. Banyak sebenarnya hal-hal baru atau curahan yang ingin ditulis, tapi ya, menulis rupanya perlu mood juga. Dan ketika ingin memulai menulis kembali di blog, ingin saya awali dengan hal-hal yang positif dan menyegarkan. Tapi ketika melihat kondisi saudara kita di Palestina, saya haruslah menyuarakan nasib mereka.

Hari-hari terakhir ini kita disuguhkan adegan memilukan dan tontonan kebiadaban Israel menyerang dan membunuh bangsa Palestina. Pesawat-pesawat tempur Israel memuntahkan rudal-rudal yang menghancurkan rumah, sekolah, rumah sakit, tempat ibadah dan fasilitas masyarakat Palestina. Seluruh dunia menyaksikan, dan PBB pun tak bisa berbuat apa-apa.

Sudah lebih dari 425 nyawa melayang, banyak dari mereka adalah anak-anak dan kaum perempuan. Apa yang diinginkan oleh Israel? Coba menciptakan ketidakstabilan dunia? Pola penyerangan yang dilakukan, hampir sama dengan Amerika ketika menyerang Afganistan dan Irak. Tak peduli kata dunia!

Apakah seimbang menyerang negara yang tak punya pesawat tempur, tak punya tank dan mesin perang? Apakah alasan perlawanan Hamas menjadi pembenaran untuk melenyapkan Palestina?

Ah… betapa dunia hanya bisa menonton dan berpidato saja. Tak bisa berharap pada Amerika–yang mengaku polisi dunia. Tak bisa berharap pada dunia Eropa. Sama juga tak bisa berharap pada dunia Arab. Persoalan Palestina-Israel hanya dipandang semata masalah Yahudi dengan Islam, atau Israel melawan Palestina–yang dianggap teroris.

Orang seolah lupa, atau masa bodoh. Bahwa dahulu ada bangsa Palestina–yang terdiri dari Islam, Yahudi dan Kristen hidup damai di wilayah Yerusalem di bawah kekuasaan Ustmaniyah. Lalu datanglah kaum zionis yang merasa berhak atas Tanah Harapan, tanah yang dijanjikan. Inggris mendukung dan memberikan bantuan berdirinya negara Israel di tanah Palestina. Dari secuil tanah, lama-lama mereka mencamplok, membunuh dan mengusir bangsa Palestina. Coba lihat gambar di bawah ini berapa rakus dan jahatnya Israel ini.

israel-palestine_map

Warna putih adalah Israel & hijau Palestina: Pada awalnya hanyalah secuil tapi semakin lama semakin besar.

Betapa rakusnya Israel. Dari bangsa terbuang di Eropa dan Amerika, dianggap sampah dan musuh masyarakat karena perangainya, sekarang berkuasa dan ingin menguasai dunia. Kelompok Zionis berambisi Israel Raya harus berdiri dari Sungai Nil sampai Sungai Eufrat. Dari Mesir sampai Irak.

Kepada siapa bangsa Palestina berharap? Kita hanya bisa berdoa, dan menyumbangkan harta, tenaga dan yang paling tinggi tentu nyawa untuk membela mereka. Mereka tak butuh sekedar retorika.

Sebagai bangsa Indonesia, jangan lupa pada sejarah. Palestina adalah salah satu bangsa yang pertama kali mendukung kemerdekaan bangsa Indonesia. Ketika dunia belum tahu dan memandang Indonesia, mereka sumbangkan banyak hal demi kemerdekaan bangsa ini. Tentu tak ada salahnya ‘kan, sebagai balas budi kita haruslah pula menolong mereka.

Filed under: Dunia, Islam, Religi

Ramadhan di Kampung

Seperempat hari-hari bulan puasa telah dijalani. Bulan ibadah, bulan melatih diri dan menimba pahala. Berbagai cara dan aktivitas yang dilakukan untuk menyambut dan mengisi bulan suci ini.

Teringat saya ketika masih remaja, menjalani bulan puasa di kampung halaman nun jauh di perut pulau Sumatera. Masa-masa gembira dan berkawan dengan teman seusia maupun yang tua. Ya, selain dengan teman sebaya saya juga suka berteman dengan orang yang usianya lebih tuda dari saya.

Hari-hari bulan puasa penuh kegembiraan dan penuh kenangan bagi saya. Ketika sore telah meninggi, kami berkawanan akan menuju sungai-sungai yang ada di kampung kami. Ya, siang terasa panas di Pangkalan Koto Baru, sebuah daerah yang panas berada di penghujung Sumatera Barat mengarah Propinsi Riau. Kampung saya adalah daerah lintasan garis khatulistiwa yang membelah bola bumi,

Berenang di arus sungai, berkecipak-kecipuk, bercanda kami lewati petang hari. Ada juga diantara kami yang membawa senapan ikan, terbuat dari kayu dengan mata tembak dari jeruji besi ban sepeda. Ujungnya diruncingi, lalu ditarik dan ditahan dengan ban karet. Sambil menyelam, picu senapan dilepaskan maka melesatlah ia menembus air, menuju tubuh ikan yang meregang terpanah besi.

Air sungai yang sejuk dan segar meredam panasnya tubuh kami. Setelah puas bersabun dan berendam, lalu kami menghanduki badan dan bersiap pulang. Terkadang dalam perjalanan pulang, melewati kebun-kebun petani, tak urung ada juga diantara kami yang nekat mencuri buah limau (jeruk) untuk buka puasa. Buah yang ranum begitu menggoda. Wah, bulan puasa kok mencuri ya? :D

Berlari, Bergembira

Berlari, Bergembira

Dalam perjalanan pulang, terkadang kami berpacu lari. Rambut kucel, mata merah dan kulit kusam dan kering karena kelamaan berendam dalam air adalah rupa kami anak-anak yang pulang mandi. Senja menjelang ketika kami sampai di rumah masing-masing. Ganti baju, lalu bersiap berbuka puasa.

Setelah berbuka puasa saya menuju Masjid yang ada di dekat pasar untuk bersiap melaksanakan shalat Isya dan Tarawih. O ya, rumah saya ada di pinggir pasar. Lebih tepatnya terpencil jauh di belakang pasar, menembus hutan karet maka bertemulah rumah saya. Dan untuk melaksanakan tarawih saya dan keluarga perlu berjalan beberapa ratus meter untuk sampai di pasar dan menuju Masjid Taqwa, nama mesjid kami.

Malam-malam bulan puasa mesjid kami penuh sekali. Semua orang, tua-muda, anak-anak dan remaja tumpah di dalam mesjid. Menjelang mendekati hari raya maka kita akan lihat orang-orang perantauan yang sudah pulang kampung nampak bergabung shalat Isya dan bertarawih di Masjid. Bagi yang muda-muda yang baru terkena virus puber, kesempatan ini adalah untuk cuci mata. Lirik-lirik pandang, menemukan yang mencerahkan mata. Terkadang tertampak gadis-gadis cantik perantauan, yang selama ini jarang dilihat. Sudah tentu wajah-wajah kota begitu berbeda dan menawan dibandingkan wajah-wajah gadis kampung kami. Bukan berarti gadis-gadis kampung kami tidak menawan, tapi ya.. terkadang gadis kota terkadang menggoda juga. Rumput tetangga nampaknya lebih bagus dari rumput di halaman sendiri… Lebih terawat gitu… he.he….

Selesai tarawih lalu diisi dengan ceramah agama. Pengurus masjid sengaja mengundang buya/ustad dari luar daerah. Kami tekun mendengarnya. Semua ucapan kami simak, yang penting kami catat di buku catatan yang merupakan tugas dari guru di sekolah. Dan catatan ceramah ini haruslah nanti diparaf oleh sang ustad. Selesai ceramah barulah ditutup dengan shalat witir.

Selesai tarawih dan witir, maka ramailah jamaah yang menuju pasar. Berbagai makanan pemuas selera telah menunggu. Biasanya yang paling ramai adalah tukang penjual bakso. Saya ingat, bakso si abang dari Jawa ini begitu istimewa. Rasanya enak sekali. Biasanya saya, mencampuri kuahnya dengan sambal, cabe, kecap dan sedikit cuka. Yang pertama kali habis dimakan tidaklah mie atau baksonya, tapi kuahnyalah yang pertama kali ludes. Kuah bercampur gomok/lemak ini begitu enak sekali, sehingga saya perlu meminta tambahan kuah kepada si abang lalu mengaduk kembali dengan bumbu-bumbu yang ada.

Malam semakin tinggi. Pasar pun kembali sepi. Orang-orang pulang ke rumah. Kami para remaja, tidak ikut pulang. Kami lalu menuju mesjid untuk bermukim (iktikaf). Terkadang yang anak-anak biasanya bermain petak umpet, kejar-kejaran atau berbagai permainan terlebih dahulu.

Masjid adalah tempat tidur bagi kami kaum laki-laki. Bagi orang Minang pantang lelaki yang sudah remaja untuk tidur di rumah. Rumah adalah tempat bagi kaum perempuan kami. Di masjid kami melakukan berbagai aktivitas. Sebelum tidur, kami bergantian membaca Al-Quran (bertadarus). Berbagai irama ngaji melantun membelah malam di kampung kami. Berbeda dengan cara orang mengaji di pulau Jawa, di kami berusaha melantunkan kaji dengan irama dan lantunan terbaik. Kami sudah belajar irama ngaji dari kecil.

Kami jarang tidur pada malam-malam puasa. Kalau selesai mengaji biasanya kami bergurau, main silat-silatan, tendangan-tendangan yang kami contoh dari filem kungfu yang kami tonton dari tempat pemutaran video. Selagi kami main silat dan kungfu-kungfuan, yang tua-tua masih asik meneruskan mengaji sampai sahur tiba.

Suara-suara merdu dan sumbang kami membelah malam. Speaker TOA dari menara masjid memancarkan alunan terbaik dari kami. Terkadang membumbung tinggi, lalu menukik menembus kabut-kabut malam. Demikian terus mengantarkan lelap para penduduk kampung. Dan ketika saat sahur hampir tiba, lalu suara-suara kami membangunkan para penduduk untuk bangun dan melakukan makan sahur. “Sahuurr.. sahur.. Bangun ibu-ibu, saatnya sahur….”

Sekitar pukul setengah empat kami pulang ke rumah masing-masing. Saat sampai di rumah, biasanya orangtua kami masih menyiapkan makanan untuk sahur. Atau kalau orangtua belum bangun kamilah yang membangunkan mereka. Sudah tentu dalam perjalanan pulang dari masjid menuju rumah, kami terus berteriak membangun para tetanngga agar bangun untuk sahur.

Selesai sahur, lalu saya kembali ke Masjid yang ada di pasar untuk melaksanakan shalat subuh berjamaah. Masjid kembali penuh dan kami pun kembali berkumpul dengan teman-teman. Selesai shalat subuh biasanya ada ceramah agama.

Selesai shalat subuh, para jamaah pun berpencar pulang. Tapi ada yang kegiatan yang tidak bagus rupanya, dan itu sudah menjadi tradisi. Asmara subuh, itulah istilahnya yang disebut oleh orang-orang. Kesempatan untuk jalan pagi dan curi pandang mencari lawan jenis.

Ah, apapun itu. Ramadhan di kampung begitu berkesan buat saya. Kenangan masa lalu, yang tak terulang lagi di Jakarta.

(Gambar:  Rarindra Prakarsa)

Filed under: Kenangan, Perjalanan Hidup

Perjalanan Sabtu

Sabtu 23 Agustus 2008 yang lalu ada 3 kegiatan berkesan buat saya. Yaitu spritual, silaturahmi dan bisnis. Pertama, spritual. Kami—saya dan isteri—mendapatkan undangan untuk menghadiri acara “Pentas Kreatifitas Tanpa Batas” sekaligus peluncuran program Wakaf Tunai yang diselenggarakan oleh Yayasan HIMMATA Jakarta.

Bertempat di Grha Citra Caraka Telkom, berlangsung pentas unjuk kreatifitas para anak jalanan. Acara yang dipandu oleh Dwiki Dharmawan ini tampil penuh pesona kreatifitas para anak jalanan. Ternyata dalam keterbatasan mereka mampu menampilkan segala potensi mereka yang hebat. Ternyata, persoalan mereka hanyalah kesempatan saja. Soal kemampuan dibanding dengan anak-anak yang mampu mereka tak kalah, malah lebih hebat.

Panggung: Indonesia Selamatkan Mereka

Panggung untuk Sahabat

Sebuah panggung untuk mengenang sahabat mereka: Ade, seorang anak jalanan yang mengamen mengumpulkan uang untuk membelikan sebuah televisi untuk membahagiakan ibunya. Suatu malam sebuah mobil menabrak dirinya, membuat dia meninggal dan sang supir pun kabur. Untuk memenuhi janji Ade kepada ibunya, maka para sahabat yang setia membelikan televisi dambaan Ade, dan berniat untuk menyerahkan kepada sang ibunda tercinta. Sayang, sampai saat ini orangtua Ade tidak diketahui siapa nama dan keberadaannya. Pada nisan Ade, tertulis nama: Ade Irawan bin Fulan, karena tidak diketahui siapa nama ayahnya. Bagi para pembaca yang mengetahui orang tua Ade mohon untuk membantu keberadaannya kepada teman-teman Ade.

Kegiatan kedua adalah silaturahami sekaligus bisnis. Sebenarnya sih lebih besar silaturahminya.

Bertepatan dengan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, Mbak Riri dan Pak Ipul telah meluncurkan toko offline. Setelah sukses dengan toko online riristore.com, mereka mengembangkan bisnis dengan membuka toko riil, yang diberi nama Aminah Shop. Bertempat di Perumahan Villa Mutiara, Jl. Permata I No. 5, Ciputat – Tangerang, toko mereka sudah mulai mendapatkan transaksi penjualan.

Sudah Mulai Banyak Order

Pemilihan lokasi yang cukup ramai di perumahan, dan display produk membuat para penghuni komplek tertarik untuk mengunjungi. Ada beberapa produk teman-teman TDA yang saya lihat terpajang disini. Dan saya mendapatkan kabar, bahwa bourgoutti merupakan produk dengan penjualan yang tertinggi.

Alhamdulillah, semoga dengan aksi nyata ini menjadi pembuka pintu rezeki dan bisnis Pak Ipul dan Mbak Riri semakin berkembang terus.

Selepas dari toko Aminah Shop, kami berlanjut bersilaturahmi ke rumah Pak Edi. Beliau ini adalah jebolan TDA Apprentice yang membuka toko Alifia, grosir pakaian bayi. Banyak cerita yang kami saling tukarkan. Rupanya bisnis pakaian bayi Alifia semakin berkembang, berkolaborasi dengan teman-teman TDA telah membuka cabang baru di Blok A Tanah Abang. Saat ini Tanah Abang mengalami peak season menyambut puasa. Ramainya pengunjung tentu saja memberikan kejipratan rezeki buat mereka.

Filed under: Bisnis, Silaturahmi

Semoga Indonesia Terus Merdeka

63 tahun tak terasa kita sudah merdeka. Merdeka dalam pengertian sudah terlepas dari penjajahan fisik.

Apakah benar sudah merdeka sepenuhnya, dalam pengertian yang sebenarnya?

Mengutip “Tri Sakti” yang disampaikan oleh Bung Karno, kemerdekaan yang ingin dicapai adalah:

  1. Berdaulat di bidang politik;
  2. Mandiri dalam bidang ekonomo;
  3. Berkepribadian dalam bidang budaya.

Pertama, apakah kita sudah berdaulat dalam bidang politik? Bukankah saat ini masih ada kita temukan campur tangan asing (Barat) dalam kebijakan-kebijakan politik dan dalam negeri kita? Belum lama ini, anggota Kongres Amerika menyurati pemerintah untuk membebaskan para tokoh OPM (Organisasi Papua Merdeka). Ada apa dengan Amerika? Sehingga lancang mengurus urusan dalam negeri Indonesia? Belum lagi hal-hal lain, sampai pemilu dan cara berdemokrasi pun kita diajari dan meniru gaya Amerika. Bukankah sudah terbukti ratusan tahun, nilai bermasyarakat bangsa kita, yaitu musyawarah dan mufakat serta prinsip gotong-royong manjur dalam menjaga dan membentuk Indonesia?

Yang kedua, kemandirian dalam bidang ekonomi. Ah, jauh rasanya. Bukankah aset penting negara yang menguasai hajat hidup orang banyak ternyata telah banyak dikuasai oleh bangsa asing? Tanah, air, emas, minyak, mineral dan kandungan bumi lainnya ternyata bukan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat Indonesia? Tapi malah memperkaya kapitalisme asing?

Apalagi yang ketiga, berkepribadian dalam bidang budaya.

Sulit rasanya sekarang ini mencari budaya Indonesia. Tengang-rasa, saling menolong, berat sama dipikul ringan sama dijinjing. Bulat air karena pembuluh, bulat kata karena mufakat, seciap bak ayam, sedencing bak besi sudah berganti one man one vote. Yang kuatlah akhirnya yang menang. Berganti dengan individualistik dan pendekatan kekuasaan serta yang terkuat.

Tingkah laku hedonisme, gaya hidup materialisme dan menghamba Barat. Anak muda yang berlaku lebih barat dari Barat. Sinetron, filem dan gaya hidup yang melakukan rekayasa sosial (social engineering) tak terasa menyuntikkan perubahan nilai pada anak bangsa. Jadilah mutan-mutan yang berjalan tanpa jati diri.

Bung Karno juga menyatakan: Kemerdekaan itu adalah jembatan emas. Dimana di seberangnya jalan terbelah dua. Yang satu menuju kesejahteraan sama rasa sama rata. Yang satu lagi menuju bencana nasional yang disebut dengan istilah sama ratap sama tangis.

Tinggal kita mau memilih jalan mana yang akan ditempuh. Sesungguhnya mempertahankan kemerdekaan lebih sulit dari merebutnya.

Saat ini, yang kaya semakin kaya. Yang miskin semakin teraniaya. Saatnya untuk berbuat apa saja untuk menyelamatkan bangsa dan negara. Berbuat sesuai bidang masing-masing. Para politikus bertobatlah dari mengkorupsi harta rakyat. Para pebisnis berjuanglah untuk memakmurkan orang banyak, keuntungan bukanlah semata mengejar pemuasan diri semata. Para pendidik, didiklah generasi baru bangsa dengan nilai sejati bangsa ini. Janganlah biarkan kami lupa dengan warisan nilai nenek moyang.

Selamat merdeka negeriku.

Filed under: Indonesia

Strategi Online

Penjualan melalui internet (online) saat ini tengah menjadi trend buat para pelaku bisnis. Baik perusahaan atau pelaku bisnis mencoba memasuki pasar melalui internet ini. Baik pelaku yang mempunyai toko riil—dalam arti punya toko offline dengan berupa tempat nyata ataupun yang hanya mengandalkan semata pada toko maya (online) dalam arti tidak punya toko nyata.

Tapi ada hal yang menjadi persoalan pada hampir semua pemain online. Berdasarkan sebuah survey, dari sekian banyak orang yang berkunjung ke suatu website, 70% pergi begitu saja, 30% yang tertarik, dan paling hanya 2,5% saja yang melakukan transaksi. Itu pun sudah bagus, kalau tidak hanya 1% saja atau tidak melakukan transaksi sama sekali.

Bicara marketing online, tidak semata hanya olah SEO (search engine optimize) saja, supaya website kita ramai oleh pengunjung. Apa artinya, kalau pun website kita ada pada halaman satu Google, tapi tak ada yang melakukan transaksi atau tidak terjadi deal yang diinginkan?

Apa yang salah?

Padahal website/webstore sudah dibuat canggih sekali. Menggunakan engine atau software khusus serta menggunakan shopping cart pula. Padahal, ada yang hanya menggunakan blog saja tapi transaksinya luar biasa. Tampilan dan content biasa-biasa saja, tapi mengalahkan transaksi webstore yang dibuat dengan konsep e-commerce.

Ternyata ada ilmunya saudara-saudara. Perlu strategi dan taktik rupanya.

Saya mendapatkan tambahan ilmu ini saat mengikuti TDA Forum yang diadakan di Hotel Sofyan, Jumat malam 15 Agustus yang lalu. Disampaikan oleh pakar internet marketing nomor satu Indonesia, Nukman Luthfie. Beliau menyampaikan strategi bagaimana melakukan penjualan melalui internet (internet marketing). Bersyukur saya bisa pada forum penuh ilmu ini, sekaligus pada saat yang sama juga diluncurkan (soft launching) portal TDA yang akan menjadi rujukan bisnis dan kewirausahaan di Indonesia.

Iim Rusyamsi: Kata Sambutan dari Presiden TDA

Soft Launching Web Portal Tangan Di Atas

Pak Nukman, Menyampaikan Materi dengan Gaya Menawan

Mas Riyeke Ustadiyanto: Pakar SEO Indonesia yang datang dari Bali

Strategi penjualan melalui internet (online) pada dasarnya sama dengan strategi yang dilakukan untuk membuka toko biasa (offline). Bagaimana membuat konsep dan penjabaran/implementasi penjualan. Ada hal-hal mendasar yang harus diperhatikan.

Diantara yang menjadi catatan saya adalah, pertama: Pahami target yang menjadi pembeli.

Kita tidak bisa membuat online store hanya berdasarkan selera kita sebagai pemilik saja. O, ini yang bagus, ini yang tidak. Tidak bisa, kita harus bisa memahami selera pasar kita. Apa kira-kira yang akan membuat pengunjung akan tertarik? Kita juga harus memahami, diantara sekian banyak pengunjung itu terdiri dari berbagai tingkatan kategori; ada yang awam, paham, dan butuh. Dari ketiga kategori pengunjung ini kita bisa membuat tampilan website yang membantu mereka. Kita tidak bisa menyama-ratakan mereka, apalagi memahami mereka dengan selera kita.

Kedua: Apa produk yang dijual?

Seharusnya kita bisa mengklasifikasi produk yang dijual, dan ditujukan untuk siapa? Hendaknya produk yang dijual masih dalam satu klasifikasi dan memang yang dicari oleh pengunjung. Tidak bagus dalam satu webstore disitu ada dijual apa saja. Ada baju, ada makanan, mainan dan sebagainya. Hendaknya fokus, apakah pakaian muslim, distro kaos anak muda, mainan, atau apa saja yang penting jelas apa dan target pasarnya apa.

Banyak lagi yang disampaikan oleh Pak Nukman. Penjabaran dari strategi dan sedikit taktik bagaimana website yang dibuat menarik dan digemari oleh pengunjung. Tapi tidak semua ilmu yang disampaikan dalam forum tersebut bisa saya jabarkan disini. Apalagi ada trik-trik dan rahasia yang hanya disampaikan khusus untuk peserta forum saja.

Menurut saya, sajian Forum TDA kemarin adalah daging semua. Kalau pun ada tulang sedikit, tetap renyah kok untuk dilahap :)

Jadi, ya menyesallah anda yang tidak bisa datang kemarin. Semoga di lain waktu ada kesempatan lagi untuk menikmati sajian dari Pak Nukman.

Filed under: Bisnis, tangandiatas

Light The World!

Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Selamat datang di blog pribadi saya. Panggil saja saya Syam. Hanyalah manusia biasa yang ingin menjadi LUAR BIASA. Semua orang adalah guru dan setiap tempat adalah sekolah. Mari saling berbagi.
Lebih lengkap Tentang Saya
Wassalam,
Helsusandra Syam (hensyam2000@yahoo.com)