Light the World!

Icon

Cerahkan Dunia. Mari Saling Berbagi

Kematian yang Meninggalkan Pelajaran

 Betapa Kehidupan Sangatlah Berharga

brokenglass3Malam ini, Minggu 01 Februari sebuah email dari Friendster masuk ke dalam inbox Gmail-ku. Sebuah reminder tentang ulangtahun sahabatku K. innalillahi wa innalillahi rajiuni, sang sahabat ini sudah almarhum beberapa waktu lalu. Tapi akun dia di FS masih ada dan belum di-update statusnya. Database server FS mencatat hari ulangtahunnya, dan otomatis akan mengirimkan reminder kepada semua teman-teman yang terkoneksi dengan sahabat K ini.

Sedikit berdesir di dada, aku mencoba melihat halaman akun K di FS. Tak ada yang berubah pada status akun dia, hanya pada bagian comment aku melihat masih ada komentar-komentar yang disampaikan oleh para kawan yang menyampaikan duka-cita dan doa. Aku panggil isteriku, kami membaca komentar atau testimoni tentang K.

Tak terasa, sekian bulan sudah K telah pergi. Walau sedikit lama belum berhubungan, teringat serasa baru kemarin pernah bersahabat dengan K. Terbayang kami pernah akrab di kelas eksekutif (ekstensi) UBL. Terkadang beberapa kali main band di studio musik, jalan-jalan dan berbagai kegiatan lainnya.

Memang kematian bisa menjemput kapan saja, tak tua, tak muda. Sehat atau sakit dia pasti datang.

Isteriku jadi berkata, “Kak, Efa jadi takut ni setelah melihat FS teman kakak tadi.”

“Kenapa?”, tanyaku.

“Efa tiba-tiba ingat akan mati. Efa jadi takut, kalau kematian itu datang sementara belum banyak amal dan bekal yang dibawa….”

Aku tertegun.

Aku meneruskan membaca beberapa testimoni terakhir dari teman-teman di FS-nya K. Walau dia telah tiada, masih ada beberapa komentar atau testimoni yang tampil di halaman FS dia. Barangkali isteri beliau yang meng-approve testimoni ini.

Entah mengapa, aku semakin menjadi tergetar. Teringat sang sahabat yang meninggal muda, meninggalkan seorang isteri yang belum lama dinikahi dia.

Ya Allah, betapa umur adalah rahasia-Mu. Setiap kita memperingati hari ulang tahun, pada hakikatnya itu adalah petanda semakin berkurang jatah umur.

Sang Baginda Muhammad SAW bersabda, “Perbanyaklah mengingat kematian”. Bahwasanya, memang kematian (maut) itu adalah guru/pelajaran yang terbaik.

Biasanya selama ini, berita kematian adalah menjadi hal biasa saja bagiku. Tapi entah mengapa malam ini aku begitu tergetar dan ketakutan. Teringat pada umur yang berjalan serasa sia-sia. Apa sajakah yang telah berharga dan amal yang telah dibuat?

Seandainya memang kematian menjemputku saat ini, apa amalku? Teringat dosa dan kesia-sian yang dilakukan. Teringat pada umur yang belum berharga. Teringat pada bekal yang akan dibawa, teringat belum ada yang berharga yang akan ditinggalkan.

Kupandang isteriku yang sudah mulai terlelap tidur, kupandang “wahai isteriku, seandainya aku pergi, apa yang akan terjadi padamu?”

Bayangan-bayangan kekuatiran pada yang akan kuhadapai seandainya maut menjemput. Kekuatiran pada isteri yang sendirian ditinggalkan.

Dengan bergetar kubasuh tubuh ini dengan wudhu’. Kutegakkan shalat Taubat, dan pada sujud terakhir tak tahan lagi aku tersedu-sedu. Takut pada dosa, azab yang akan dihadapi di alam kubur. Terbayang dosa dan kesia-siaan semasa hidup. Terbayang kurangnya amal dan bekal dibawa dan ditinggalkan.

Bergetar hebat badan ini, tersedu-sedan. Seandainya tak takut membangunkan isteri karena sedu-sedan ini, mungkin sudah melolong aku minta ampun dan menangis.

Ya Allah, ternyata belum banyak hal yang berharga yang aku perbuat selama ini. Banyak salah dan dosaku. Seandainya masih berkenan Kau panjangkan umurku, berikan aku kesempatan berbuat banyak hal baik dan berbuat amal. Ampunilah salah dan dosaku, ya Allah.

Tak terasa air mata terus mengalir. Betapa meruginya diri selama ini.

Dengan membaca istighfar, aku memohon ampun dan memohon kepada Allah. Berikanlah aku kesempatan untuk memperbaiki diri, berbuat amal dan meninggalkan kebaikan.

Benar kata Sang Nabi, bahwa pada kematian itu terdapat pelajaran yang sangat besar.

Terimakasih ya Allah, Engkau telah memberikan kesadaran dan peringatan pada diriku. Betapa selama ini kematian berlalu saja di depanku. Bahkan ketika mengantarkan yang mati ke kuburan pun, tak banyak bekas hinggap di hatiku. Seakan itu adalah peristiwa biasa saja. Ada yang datang tentu saja ada yang pergi.

Tapi malam, ini sebuah peringatan dan pelajaran sangat besar telah kudapatkan. Terimakasih dan segala puji bagi-Mu, ya Allah atas peringatan ini. Jika ada umurku, tentu saja aku masih diberi kesempatan oleh-Mu.

Terimakasih sahabatku K. Engkau memang telah pergi,  semoga inilah yang terbaik buatmu. Semoga Allah SWT mengampuni dosamu, dan menempatkan engkau di tempat yang terbaik. Pada sisa akhir hidupmu, Allah telah memberikan hidayah dan hadiah kepada dirimu, Engkau telah dipanggil masuk Islam. Semoga kehidupan baru di alam sana memberikan kebahagiaan padamu. Tinggallah kami yang hidup ini yang masih belum tentu masa depan sejati kami, apakah kami akan mendapatkan neraka atau surga. Apakah kami akan mendapatkan kebahagiaan tertinggi dengan bisa bertemu dengan Allah SWT.

Ya Allah, ampunilah segala dosaku. Berikanlah kesempatan bagiku untuk membahagiakan isteriku. Berikanlah kami anak keturunan yang menjadi penyejuk mata, menjadi penerus kebaikan dan yang akan mendoakan kami apabila kami telah tiada.

Ya Allah, sesungguhnya tiada Tuhan selain diri-Mu. Aku bertaubat kepada-Mu. Betapa zhalimnya diri ini selama ini. Berikanlah kesempatan padaku untuk berbuat baik, untuk meninggalkan warisan yang terus mengalirkan doa dan memberikan keselamatan padaku nanti.

Aamien ya Allah….

(Jakarta, 01-01-2008: 23.58

Filed under: Refleksi, Religi, Solilokui

We Will Not Go Down (Song for Gaza)

Silahkan klik tanda “Play” pada tampilan youtube di bawah untuk mendengarkan lagu. Untuk mendownload lagu, silahkan menuju link ini: http://www.michaelheart.com/Song_for_Gaza.html

WE WILL NOT GO DOWN (Song for Gaza)

(Composed by Michael Heart)
Copyright 2009

A blinding flash of white light
Lit up the sky over Gaza tonight
People running for cover
Not knowing whether they’re dead or alive

They came with their tanks and their planes
With ravaging fiery flames
And nothing remains
Just a voice rising up in the smoky haze

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight

Women and children alike
Murdered and massacred night after night
While the so-called leaders of countries afar
Debated on who’s wrong or right

But their powerless words were in vain
And the bombs fell down like acid rain
But through the tears and the blood and the pain
You can still hear that voice through the smoky haze

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight

Filed under: Dunia, Islam, Life, Religi, Sisi Lain

Palestina, Oh Palestina!

Pagi ini saya menyaksikan di televisi, seorang anak kecil Palestina terkapar buta. Mukanya hancur dan matanya tak bisa melihat lagi. Israel menjatuhkan bom ke tempat tinggalnya, bom yang mengandung cairan kimia. Asapnya pekat dan membakar daging, malah sampai ke tulang. MasyaAllah, kemana warga dunia? Kemana PBB, Amerika yang mengaku pejuang HAM? Kemana negara-negara Arab?

Pada tayangan lainnya, satu ambulan penuh mayat bergerak cepat membelah kota yang hancur. Ada para ibu, ayah yang menangis histeris menyaksikan ananda tercinta tergeletak tak bernyawa. Ada jejeran anak-anak lugu yang berbungkus kain kafan, dan ada lagi yang belum. Asap hitam pekat dan putih membumbung dari kota yang luluh-lantak. Tak ada lagi tempat yang aman, rumah, sekolah, mesjid jadi sasaran bom peluru kendali. Tak cukup rasanya, sekedar air mata saja kita berikan ke Palestina.

Per hari ini (13-01) sudah 920 lebih warga Gaza tewas. Setiap menonton TV, hanyalah mendapatkan kabar setiap hari puluhan dan ratusan orang yang tewas. Hari demi hari, hanyalah menghitung jumlah orang yang mati.

Tak habis pikir, sekolah PBB, rumah sakit, ambulan, dan wartawan pun diserang. Dari TV saya menyaksikan seorang wartawan Televisi yang sedang meliput, ditembak berkali-kali. Setelah terkapar, sang wartawan mengangkat tangannya—mungki tanda menyerah atau minta ampun, tapi ditembak lagi berkali-kali sampai tak bisa bergerak lagi.

Seluruh dunia bersatu-padu mengutuk agresi Israel atas tanah Palestina. Mereka tak lagi memandang agama dan bangsa. Persoalan Palestina adalah persoalan kemanusiaan. Seluruh warga dunia bersimpati, tapi kenapa pemerintahannya masing-masing banyak yang membisu?

Sudah jelas, apa yang dilakukan Israel sekarang ini adalah holocaust. Basmi habis warga Palestina demi pembentukan Israel Raya yang terbentang dari Mesir sampai Irak. Maka, pembantaian tak berkemanusiaan harus dilakukan terhadap warga Palestina. Bisa kita lihat, sasaran agresi adalah para anak-anak dan wanita. Karena merekalah penerus generasi Palestina. Setelah wanita terbunuh dan tak lagi menghasilkan anak, setelah anak-anak habis, maka siapakah lagi yang akan meneruskan generasi Palestina?

Aah… Kok bisa ya, negara-negara pengusung HAM bisa berdiam diri melihat kekejaman ini? Rumah sipil, wanita dan anak-anak dibantai, sekolah PBB tempat berlindung diroket, rumah sakit dibom, ambulan diserang, wartawan diberondong peluru. Tempat-tempat terlarang dan dilindungi oleh hukum internasional….

Untuk melawan sedikit pejuang Hamas, Israel mengerahkan seluruh angkatan perang dan puluhan ribu tentara. Menjatuhkan bom-bom kimia berbahaya. Apakah yang terjadi…..?

Filed under: Dunia, Islam, Religi

Palestina, Kepada Siapa Mereka Berharap?

Sudah lama saya tak menulis di blog ini. Banyak sebenarnya hal-hal baru atau curahan yang ingin ditulis, tapi ya, menulis rupanya perlu mood juga. Dan ketika ingin memulai menulis kembali di blog, ingin saya awali dengan hal-hal yang positif dan menyegarkan. Tapi ketika melihat kondisi saudara kita di Palestina, saya haruslah menyuarakan nasib mereka.

Hari-hari terakhir ini kita disuguhkan adegan memilukan dan tontonan kebiadaban Israel menyerang dan membunuh bangsa Palestina. Pesawat-pesawat tempur Israel memuntahkan rudal-rudal yang menghancurkan rumah, sekolah, rumah sakit, tempat ibadah dan fasilitas masyarakat Palestina. Seluruh dunia menyaksikan, dan PBB pun tak bisa berbuat apa-apa.

Sudah lebih dari 425 nyawa melayang, banyak dari mereka adalah anak-anak dan kaum perempuan. Apa yang diinginkan oleh Israel? Coba menciptakan ketidakstabilan dunia? Pola penyerangan yang dilakukan, hampir sama dengan Amerika ketika menyerang Afganistan dan Irak. Tak peduli kata dunia!

Apakah seimbang menyerang negara yang tak punya pesawat tempur, tak punya tank dan mesin perang? Apakah alasan perlawanan Hamas menjadi pembenaran untuk melenyapkan Palestina?

Ah… betapa dunia hanya bisa menonton dan berpidato saja. Tak bisa berharap pada Amerika–yang mengaku polisi dunia. Tak bisa berharap pada dunia Eropa. Sama juga tak bisa berharap pada dunia Arab. Persoalan Palestina-Israel hanya dipandang semata masalah Yahudi dengan Islam, atau Israel melawan Palestina–yang dianggap teroris.

Orang seolah lupa, atau masa bodoh. Bahwa dahulu ada bangsa Palestina–yang terdiri dari Islam, Yahudi dan Kristen hidup damai di wilayah Yerusalem di bawah kekuasaan Ustmaniyah. Lalu datanglah kaum zionis yang merasa berhak atas Tanah Harapan, tanah yang dijanjikan. Inggris mendukung dan memberikan bantuan berdirinya negara Israel di tanah Palestina. Dari secuil tanah, lama-lama mereka mencamplok, membunuh dan mengusir bangsa Palestina. Coba lihat gambar di bawah ini berapa rakus dan jahatnya Israel ini.

israel-palestine_map

Warna putih adalah Israel & hijau Palestina: Pada awalnya hanyalah secuil tapi semakin lama semakin besar.

Betapa rakusnya Israel. Dari bangsa terbuang di Eropa dan Amerika, dianggap sampah dan musuh masyarakat karena perangainya, sekarang berkuasa dan ingin menguasai dunia. Kelompok Zionis berambisi Israel Raya harus berdiri dari Sungai Nil sampai Sungai Eufrat. Dari Mesir sampai Irak.

Kepada siapa bangsa Palestina berharap? Kita hanya bisa berdoa, dan menyumbangkan harta, tenaga dan yang paling tinggi tentu nyawa untuk membela mereka. Mereka tak butuh sekedar retorika.

Sebagai bangsa Indonesia, jangan lupa pada sejarah. Palestina adalah salah satu bangsa yang pertama kali mendukung kemerdekaan bangsa Indonesia. Ketika dunia belum tahu dan memandang Indonesia, mereka sumbangkan banyak hal demi kemerdekaan bangsa ini. Tentu tak ada salahnya ‘kan, sebagai balas budi kita haruslah pula menolong mereka.

Filed under: Dunia, Islam, Religi

Kecewa dengan Filem Ayat-ayat Cinta

Sabtu, Malam minggu (01/03) kemarin saya dan isteri berkesempatan menonton filem Ayat-ayat Cinta (AAC) di bioskop di daerah Blok M. Rencana mau mononton yang main sekitar jam 7-an malam.

Bioskop yang berada di lantai 6 Blok M Plaza dipenuhi oleh orang-orang yang antri dan lesehan menunggu jadwal tayang. Hal ini mengingatkan saya saat ikut mengikuti histeria filem Ada Apa dengan Cinta beberapa tahun lalu. Gegap-gempita orang-orang yang penasaran oleh bujuk-rayu iklan.

Kami ikut mengantri, ternyata tiket sudah habis untuk 2 jadwal tayang ke depan. Hanya tersisa untuk main jam 21.45. Okelah, karena penasaran jadilah kami memesan tiket untuk 2 jam ke depan.

Ternyata, filem AAC tidaklah sehebat novelnya. Sangat disayangkan, kedahsyatan dan misi yang dikandung oleh Kang Habib dalam novelnya hancur oleh kepentingan lain! Tulisan ini adalah sebagai bentuk kekecewaan saya terhadap hasil filem mini.

Novel aslinya, bolehlah dikatakan sebagai novel islami. Tapi menonton filem ini saya sungguh kecewa. Tak saya temukan kekuatan Islam dan idealisme seperti novelnya.

Separoh filem ini yang saya temukan adalah kegagapan, atau barangkali kegagalan sutradara dalam menterjemahkan tulisan ke bentuk visual. Sepertinya sutradara gagap dalam menerjemahkan isi novel ke dalam bentuk gambar. Potongan-potongan cerita yang tidak utuh dan ganjil. Seakan memaksakan jalan cerita seperti alur novel. Barangkali alasan klise, kalau ingin mengikuti alur cerita mungkin waktu 2 jam tidak akan cukup. Tapi yang saya temukan, alur cerita yang tidak utuh. Seakan yang kita lihat hanyalah penggalan-penggalan cerita yangtidak bersinergi.

Pemilihan peran yang tidak pas, lucu melihat tokoh-tokoh yang diusung tidak mewakili figur novel. Wajah-wajah Mesir yang digantikan oleh wajah melayu. Visualisasi yang tidak berhasil mengangkat alam dan jiwa Mesir sungguh sangat disayangkan karena memang lokasi shooting tidak dilakukan di Mesir. Dalam pendahuluan novel Kang Habib, digambarkan Mesir yang panas luar biasa, betapa sulitnya Fahri menjalani masa-masa disana, kurang berhasil diangkat oleh filem ini.

Memang tidak mudah untuk mengangkat cerita yang bertemakan dakwah, berlabelkan Islam ke dunia filem. Apalagi bagi seorang yang tidak berkecimpung dalam dakwah dah kurang mendalami agama. Seorang sutradara senior saja, Charul Umam ketika pertama kali ditawari untuk menggarap filem ini memerlukan berkonsultasi terlebih dahulu ke seorang ustad. Sang ustad menyarankan, kalau ingin menggarap filem ini maka dia mesti nyantri terlebih dahulu. “Mas, kalau memang jadi membuat film itu, mbok sampeyan nyantri dulu di Mesir barang tiga bulan, biar bisa tahu persis bagaimana khas kehidupan di sana.” (Baca eramuslim.com). Akhirnya Hanung yang menggarap filem ini. 

Bisa kita bayangkan, filem ini jauh dari alam dan budaya Mesir, apalagi jauh dari Islam.

Tapi yang paling mengecewakan dan mengkuatirkan saya adalah rusaknya akidah dan runtuhnya nilai-nilai Islam oleh filem ini. Hebatnya kekuatan gambar atau filem adalah secara halus membuat masyarakat menjadi permisif, dan lupa pada idealisme. Bayangan Fahri yang ahli agama dan menjaga akhlak, digambarkan suka berduaan dengan Maria. Padahal dalam Islam dilarang berduaan dengan yang bukan muhrim. Gambaran Aisha yang seorang akhwat, menundukkan pandangan dan sejuk dipandang, berganti dengan seorang wanita yang mau beradu-pandang dengan Fahri. Dan yang paling parah adalah betapa beraninya sutradara menggambarkan adegan perciuman, dan suasana malam pertama antara Fahri dan Aisha. Apa sih maksud yang ingin diangkat oleh adegan ini? Ingin menunjukkan malam pertama? ‘Kan tidak mesti dengan berciuman, cukup masuk kamar lalu matikan lampu, penonton akan mengerti kok…

Dalam Islam, membicarakan atau membawa suasana kamar tidur, hubungan suami-isteri ke luar rumah dan menceritakan ke orang lain adalah tabu. Ini berani sang sutradara, dan betapa naifnya. Dalam bayangan kita, seorang ikhwan dan ikhwat itu lugu, tidak berani beradu pandang. Tapi dalam filem ini, kesan yang kita tangkap, betapa tingginya jam terbang antara Fahri dan Aisha dalam hubungan dengan lawan jenis. Dimulai dengan adu pandang, lalu tahu-tahu mereka berdua sudah nyosor berciuman dan langsung rebahan. Saya tidak melihat ini filem dakwah, seakan saya melihat filem barat atau sinetron murahan.

Belum lagi, cerita poligami Fahri dengan dua isteri. Dalam Islam, mana boleh itu isteri-isteri tinggal dalam satu atap. Ini yang kita lihat, Fahri dan isteri pertamanya membawa isteri keduanya tinggal bersama, di rumah isteri pertamanya pula. Digambarkan, kedua isterinya bersebelahan kamar. Jadi, Fahri harus bergiliran menyambangi kedua isterinya yang bersebelahan kamar. Wah…wah… kacau ini…

Ah, pokoknya banyak kekurangan filem ini. Kalau mau diteruskan akan banyak kritik saya lainnya terhadap filem ini. Jadinya, sepanjang menonton filem ini, saya berdua dengan isteri bukannya menikmati, malah berdiskusi dan mengkritisi….

Saya tidak tahu bagaimana tanggapan Habirurahman, pengarang AAC. Sejauhmana dia terlibat dalam pembuatan filem ini. Semestinya beliau harus mengklarifikasi filem ini. Dan Hanung, sebagai seorang sutradara ternyata tidaklah seideal tulisan yang beliau tulis di blognya untuk mengantarkan filem ini. Seorang Sutradara, kalau dia seorang seniman sejati, maka dia akan teguh memegang idealismenya. Tidak mau tunduk pada kepentingan pemilik modal. Dia terus berjuang menyampaikan idealismenya.

Akhirnya, saya hanya melihat ada pertarungan dua kepentingan dalam filem ini: antara idelalisme dan kapitalisme. Ada kepentingan pemilik modal, kepentingan ekonomi dan motif terselubung dalam filem ini. Apalagi setelah saya tahu produser dan perusahaan yang mengusung filem ini sama dengan yang memproduksi sinetron-sinetron murahan dan merusak generai muda dan anak-anak Indonesia.

Filed under: Indonesia, Religi

Menggapai Kesempurnaan Diri

free

Ada kegembiraan dan ada juga kesedihan. Ada yang terlunasi dan ada juga yang hilang.

Gembira, terpenuhi ujian dan terlaksana amal ibadah. Berpuasa sebulan penuh, bertarawih-witir—walau tak sempurna tapi dijalani jua Ramadhan dengan penuh cita. Menahan diri, menjaga hati dan tingkah laku. Semoga amal dibalas sempurna, dan keridhaan Sang Kekasih didapat.

Sedih, karena Ramadhan bulan suci akhirnya pergi meninggalkan diri. Adakah tahun depan diri ini ‘kan mendapatinya lagi? Sehingga semakin sempurna diri dan semakin dekat dengan Ridha Sang Ilahi?

Semoga berkah dan bekas Ramadhan memalut diri. Tempaan super training sebulan penuh berbekas dan menghiasi diri setahun ke depan dan selamanya. Ya Allah, rindu pada-Mu dan Rasul-Mu, semoga diri ini mendapatkan Cinta-Mu dan Baginda Nabi.

Filed under: Religi

Marhaban Ya Ramadhan

Belum berapa lama, serasa waktu tak lebih dari sekejab masa dan kini ia datang lagi.

Serasa tak terbakar dosa, masih jelaga memalut kalbu tak sempurna ibadahku.

Menahan lapar, melatih sabar, mengasah kepekaan diri, belajar bersyukur atas arti nikmat. Menjaga hasrat, melatih diri mencapai tangga Ilahi. Setahun terlewati, Ramadhan datang lagi padaku.

Ya Rabb, bukankah terbukti buatku. Betapa Penyayangnya Dirimu padaku. Walau tak sempurna tobatku, walau tak bersih diriku masih saja Kau undang aku mendekat pada-Mu, menikmati jamuan-Mu.

Beruntunglah orang yang hari ini lebih baik dari kemarin, merugilah jika sama saja. Dan orang yang celaka adalah jika hari ini lebih buruk dari hari sebelumnya.

Mari memperbaiki diri. Ramadhan sudah di ambang pintu.

Filed under: Religi, Solilokui

Light The World!

Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Selamat datang di blog pribadi saya. Panggil saja saya Syam. Hanyalah manusia biasa yang ingin menjadi LUAR BIASA. Semua orang adalah guru dan setiap tempat adalah sekolah. Mari saling berbagi.
Lebih lengkap Tentang Saya
Wassalam,
Helsusandra Syam (hensyam2000@yahoo.com)