Light the World!

Cerahkan Dunia. Mari Saling Berbagi

Sekali Retak Sulit Utuh Kembali

crack-glass-bird-mdSekali retak, kalau tak hancur sulit untuk kembali.

Alam terkembang jadi guru. Pengalaman memberikan pelajaran yang terbaik, penuh hikmah. Menjaga kaca haruslah penuh kehati-hatian. Sekali retak, maka sulit untuk kembali seperti semula. Hanyalah menghitung waktu akan datangnya kehancuran. Apalagi kalau sudah berderai, sulit untuk mengumpulkan yang terserak, membentuk rupa seperti semula. Kalau pun bisa merangkai, seperti puzzle yang terbentuk, tetap saja tampak ketidak-utuhan.

Sekarang ini zamannya orang jualan “kecap”. Mengaku, “kecap gue yang yang nomor satu!” Obral janji, cari data, cara fakta, cari kesalahan orang lain. Semua mengaku diri, kelompok, organisasi dan partainya yang terbaik. “Pilih saya, pilih kami!”

Perlu kecerdasan otak dan kecerdasan nurani untuk menilai. Walau seperti sirup yang dihidangkan, barangkali racun yang terpendam. Kemasan boleh cantik, tapi isi lebih penting. “Kubak kulik, tampak isi”, demikian orang Minang katakan. Ketika dukupas kulitnya, maka tampaklah isinya. Teliti sebelum membeli. Jangan terayu pada pandang mata, jangan terbuai oleh suara. Ada skenario di balik panggung.

Sejarah adalah adalah jejak-rekam dari pengalaman. Belajarlah dari masa lalu, lalu bersiaplah untuk masa depan. Pandang jauh dilayangkan, pandang dekat ditukikkan. Jangan silau oleh pandang jauh, lubang di hadapan siap menjerumuskan. Jangan khusuk pada langkah kaki, tapi ranting menghantam dahi, singa di kejauhan siap menerkam tak disadari.

Mereka boleh saja jual citra, seperti tukang obat cuap-cuap suara. Awas, teliti dulu sebelum membeli. Pelajari program, teliti masa lalu, pelajari jejak-rekam sejarahnya. Jangan terpukau oleh janji-janji yang mengatasnamakan rakyat. Sekali mereka terhantarkan ke atas panggung, berjoget dia lupa pada massa. Cerita dan peran tunduk pada skenario, bukan pada selera penonton.

Ini pesta 5 tahunan, ataukah keprihatinan? Sekali salah memilih, maka menyesallah selamanya.

Hayo bung, ayo mbak, ayo kak, ayo bapak-ibu. Pilihlah yang terbaik. Kalau gelas sudah retak, jangan dipakai untuk minum kembali.

Filed under: Indonesia, Inspirasi-Motivasi, Refleksi

Bila Waktu Berjalan Mundur

daylight-savings-timePernahkah Anda menyaksikan, jam yang menjadi patokan waktu anda berjalan mundur? Jika selama ini kita menyaksikan arah putaran jam adalah bergerak dari kiri ke kanan. Sehingga arah ini menjadi patokan gerak juga bagi orang-orang, “Bergerak searah jarum jam.”

Lalu, bagaimana kalau seandainya gerak putaran jarum jam tidak mengarah ke kanan, tapi ke kiri? Nah lho! Iya, bagaimana kalau seandainya gerak jarum jam anda tidak lagi ke kanan tapi ke kiri, alias mundur?!

Sudah beberapa hari ini jam meja di rumah bergerak mundur, alis bergerak dari kanan ke kiri. Berbalik arah dari kebiasaan jarum jam biasa. Bermula dari suatu malam, tiba-tiba gerak jarum jam mati. Hari sudah menjelang larut tapi saya melihat jarum jam masih menunjukkan pukul setengah 9 malam. Saya pikir baterenya mungkin sudah habis.

Lalu saya ganti batere jam, setel jarum ke posisi yang normal sesuai waktu saat itu. Mesin jam mulai berdetak kembali. Saya pikir selesailah sudah.

Pagi hari, saya melihat jarum jam menunjukkan pukul setengah sembilan. Saya tak terlalu memperhatikan apakah sesuai jam dengan posisi waktu saat itu. Tapi saya mulai merasakan keanehan. Lalu beberapa waktu kemudian saya melihat jarum jam setengah delapan, wah ada yang nggak benar nih. Saya pikir mungkin jamnya mati, lalu saya ambil jam tapi masih mendengar detak mesin. Waduh! Ada apa ini?

Saya diamkan saja. Lalu beberapa saat kemudia saya melihat kembali ke jarum jam, nah lho, kok posisi jarum jam semakin jam mundur? Sementara waktu tidak lagi sesuai. Masa’ hari masih pagi tapi jam menunjukkan jam malam?

Walah! Jamku ternyata berjalan mundur!

Lalu pikiranku berkelana. Seadainya waktu—perjalanan hidupku bisa berjalan mundur pula, seperti gerak jamku tentu akan banyak cerita dan perancangan hidup yang berubah. Seandainya waktu bisa diulang kembali, tentu akan beda cerita hidupku hari ini.

Pada usia yang sudah kepala tiga, berlainan sekali pilihan jalan hidup yang kutempuh hari ini dibandingkan cita-cita masa laluku. Perjalanan hidup yang berkelok-kelok, jalan nasib yang berliku mencari arah tuju. Beragam jalur telah ditempuh, akhirnya sekarang masuk pada pilihan yang realistis dan yakin: Bahwa pilihan sebagai saudagar adalah pilihan hidup yang kupilih saat ini!

Sudah hampir setahun, tepatnya April 2009 aku sudah memutuskan enterpreneur sebagai jalan hidupku. Setelah sekitar 3 tahun bekerja sebagai karyawan pada salah satu perusahaan IT, aku memutuskan mundur keluar kerja tanpa tabungan dan persiapan material. Dengan Bismillah aku memutuskan berhenti, dunia kerja bukanlah duniaku. Dunia wirausaha—Tangan Di Atas adalah sesungguhnya jalan hidupku.

Terlambat memang, pada usia kepala 3 dan setelah berumah tangga kenapa aku baru menemukan jalan ini? Kemana saja aku berkelana selama ini? Pencarian jati diri, jatuh-bangun terantuk cobaan hidup. Kuliah yang tak selancar orang kebanyakan, terlambat tamatnya. Pencarian jalur hidup, jalan politik pun pernah kumasuki. Tapi itu bukanlah duniaku. Terlalu banyak yang harus dikorbankan pada dunia politik, dunia kerja dan sebagainya. Harus berani dan tega untuk membunuh atau menindas nurani sendiri.

Tahun 1993 merantau ke Jakarta, berharap pada perubahan hidup tidak dengan cara berdagang. Kebanyakan orang kampungku merantau ke Jakarta adalah ingin mencari kerja atau berusaha (berdagang). Tapi aku ingin melanjutkan pendidikan, kuliah. Tapi nasib dan pengharapan di Jakarta tidaklah seindah bayangan. Perjalanan dan pencarian menempuh berbagai liku dan kisah. Tak terbayang dan tak terniat sedikit pun untuk menjadi pengusaha atau berdagang (berbisnis).

Tapi apa yang terjadi hari ini? Hampir setahun sudah aku memutuskan full bisnis, full TDA. Banyak harapan dan gairah yang aku rasakan, bahwa dunia wirausaha, dunia tangan di atas adalah sebenarnya pilihanku. Tak lagi mencari gaji, tapi menjemput dan menerima rezeki Allah SWT yang tak berbatas!

Memang terlambat gairah dan jalan hidup ini kutemukan. Seandainya waktu bisa berjalan mundur, beberapa tahun atau puluh belasan tahun yang lalu, tentu akan kurancang nasib dan jalan hidupku. Tentu akan berlainan cerita hari ini. Aku hari ini tentulah tidak lagi masih berjuang mandiri.

Terkadang iri pada anak-anak muda yang masih belia atau muda usia, tapi sudah mandiri dalam ekonomi. Kalau saja kesadaran hidup ini kuperoleh saat masih usia belasan, atau paling tidak katakanlah aku sudah mulai bisnis pada usia dua puluhan tentu sudah banyak pencapaian diri.

Seandainya waktu bisa berjalan mundur, seperti jam mejaku sekarang ini. Tentu saja banyak cerita dan akan berlainan diriku saat ini. Tapi hidup adalah rahasia, sekarang ini yang bisa lakukan saja yang terbaik. Berbuat, bekerja, berusaha, berdoa, bekerja dan ikhlas pada apa yang diperoleh. Sabar, tawakal dan bersyukur pada apa saja yang didapatkan. Tentu Allah SWT akan mengerti, bahwa tidak ada usaha yang tidak akan mendapatkan hasil.

Filed under: Perjalanan Hidup, Refleksi, Solilokui

Kematian yang Meninggalkan Pelajaran

 Betapa Kehidupan Sangatlah Berharga

brokenglass3Malam ini, Minggu 01 Februari sebuah email dari Friendster masuk ke dalam inbox Gmail-ku. Sebuah reminder tentang ulangtahun sahabatku K. innalillahi wa innalillahi rajiuni, sang sahabat ini sudah almarhum beberapa waktu lalu. Tapi akun dia di FS masih ada dan belum di-update statusnya. Database server FS mencatat hari ulangtahunnya, dan otomatis akan mengirimkan reminder kepada semua teman-teman yang terkoneksi dengan sahabat K ini.

Sedikit berdesir di dada, aku mencoba melihat halaman akun K di FS. Tak ada yang berubah pada status akun dia, hanya pada bagian comment aku melihat masih ada komentar-komentar yang disampaikan oleh para kawan yang menyampaikan duka-cita dan doa. Aku panggil isteriku, kami membaca komentar atau testimoni tentang K.

Tak terasa, sekian bulan sudah K telah pergi. Walau sedikit lama belum berhubungan, teringat serasa baru kemarin pernah bersahabat dengan K. Terbayang kami pernah akrab di kelas eksekutif (ekstensi) UBL. Terkadang beberapa kali main band di studio musik, jalan-jalan dan berbagai kegiatan lainnya.

Memang kematian bisa menjemput kapan saja, tak tua, tak muda. Sehat atau sakit dia pasti datang.

Isteriku jadi berkata, “Kak, Efa jadi takut ni setelah melihat FS teman kakak tadi.”

“Kenapa?”, tanyaku.

“Efa tiba-tiba ingat akan mati. Efa jadi takut, kalau kematian itu datang sementara belum banyak amal dan bekal yang dibawa….”

Aku tertegun.

Aku meneruskan membaca beberapa testimoni terakhir dari teman-teman di FS-nya K. Walau dia telah tiada, masih ada beberapa komentar atau testimoni yang tampil di halaman FS dia. Barangkali isteri beliau yang meng-approve testimoni ini.

Entah mengapa, aku semakin menjadi tergetar. Teringat sang sahabat yang meninggal muda, meninggalkan seorang isteri yang belum lama dinikahi dia.

Ya Allah, betapa umur adalah rahasia-Mu. Setiap kita memperingati hari ulang tahun, pada hakikatnya itu adalah petanda semakin berkurang jatah umur.

Sang Baginda Muhammad SAW bersabda, “Perbanyaklah mengingat kematian”. Bahwasanya, memang kematian (maut) itu adalah guru/pelajaran yang terbaik.

Biasanya selama ini, berita kematian adalah menjadi hal biasa saja bagiku. Tapi entah mengapa malam ini aku begitu tergetar dan ketakutan. Teringat pada umur yang berjalan serasa sia-sia. Apa sajakah yang telah berharga dan amal yang telah dibuat?

Seandainya memang kematian menjemputku saat ini, apa amalku? Teringat dosa dan kesia-sian yang dilakukan. Teringat pada umur yang belum berharga. Teringat pada bekal yang akan dibawa, teringat belum ada yang berharga yang akan ditinggalkan.

Kupandang isteriku yang sudah mulai terlelap tidur, kupandang “wahai isteriku, seandainya aku pergi, apa yang akan terjadi padamu?”

Bayangan-bayangan kekuatiran pada yang akan kuhadapai seandainya maut menjemput. Kekuatiran pada isteri yang sendirian ditinggalkan.

Dengan bergetar kubasuh tubuh ini dengan wudhu’. Kutegakkan shalat Taubat, dan pada sujud terakhir tak tahan lagi aku tersedu-sedu. Takut pada dosa, azab yang akan dihadapi di alam kubur. Terbayang dosa dan kesia-siaan semasa hidup. Terbayang kurangnya amal dan bekal dibawa dan ditinggalkan.

Bergetar hebat badan ini, tersedu-sedan. Seandainya tak takut membangunkan isteri karena sedu-sedan ini, mungkin sudah melolong aku minta ampun dan menangis.

Ya Allah, ternyata belum banyak hal yang berharga yang aku perbuat selama ini. Banyak salah dan dosaku. Seandainya masih berkenan Kau panjangkan umurku, berikan aku kesempatan berbuat banyak hal baik dan berbuat amal. Ampunilah salah dan dosaku, ya Allah.

Tak terasa air mata terus mengalir. Betapa meruginya diri selama ini.

Dengan membaca istighfar, aku memohon ampun dan memohon kepada Allah. Berikanlah aku kesempatan untuk memperbaiki diri, berbuat amal dan meninggalkan kebaikan.

Benar kata Sang Nabi, bahwa pada kematian itu terdapat pelajaran yang sangat besar.

Terimakasih ya Allah, Engkau telah memberikan kesadaran dan peringatan pada diriku. Betapa selama ini kematian berlalu saja di depanku. Bahkan ketika mengantarkan yang mati ke kuburan pun, tak banyak bekas hinggap di hatiku. Seakan itu adalah peristiwa biasa saja. Ada yang datang tentu saja ada yang pergi.

Tapi malam, ini sebuah peringatan dan pelajaran sangat besar telah kudapatkan. Terimakasih dan segala puji bagi-Mu, ya Allah atas peringatan ini. Jika ada umurku, tentu saja aku masih diberi kesempatan oleh-Mu.

Terimakasih sahabatku K. Engkau memang telah pergi,  semoga inilah yang terbaik buatmu. Semoga Allah SWT mengampuni dosamu, dan menempatkan engkau di tempat yang terbaik. Pada sisa akhir hidupmu, Allah telah memberikan hidayah dan hadiah kepada dirimu, Engkau telah dipanggil masuk Islam. Semoga kehidupan baru di alam sana memberikan kebahagiaan padamu. Tinggallah kami yang hidup ini yang masih belum tentu masa depan sejati kami, apakah kami akan mendapatkan neraka atau surga. Apakah kami akan mendapatkan kebahagiaan tertinggi dengan bisa bertemu dengan Allah SWT.

Ya Allah, ampunilah segala dosaku. Berikanlah kesempatan bagiku untuk membahagiakan isteriku. Berikanlah kami anak keturunan yang menjadi penyejuk mata, menjadi penerus kebaikan dan yang akan mendoakan kami apabila kami telah tiada.

Ya Allah, sesungguhnya tiada Tuhan selain diri-Mu. Aku bertaubat kepada-Mu. Betapa zhalimnya diri ini selama ini. Berikanlah kesempatan padaku untuk berbuat baik, untuk meninggalkan warisan yang terus mengalirkan doa dan memberikan keselamatan padaku nanti.

Aamien ya Allah….

(Jakarta, 01-01-2008: 23.58

Filed under: Refleksi, Religi, Solilokui

Light The World!

Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Pangulu_Kayo Selamat datang di blog pribadi saya. Panggil saja saya Syam. Hanyalah manusia biasa yang ingin menjadi LUAR BIASA. Semua orang adalah guru dan setiap tempat adalah sekolah. Mari saling berbagi.
Lebih lengkap Tentang Saya
Wassalam,
Helsusandra Syam (hensyam2000@yahoo.com)