Light the World!

Cerahkan Dunia. Mari Saling Berbagi

Bila Waktu Berjalan Mundur

daylight-savings-timePernahkah Anda menyaksikan, jam yang menjadi patokan waktu anda berjalan mundur? Jika selama ini kita menyaksikan arah putaran jam adalah bergerak dari kiri ke kanan. Sehingga arah ini menjadi patokan gerak juga bagi orang-orang, “Bergerak searah jarum jam.”

Lalu, bagaimana kalau seandainya gerak putaran jarum jam tidak mengarah ke kanan, tapi ke kiri? Nah lho! Iya, bagaimana kalau seandainya gerak jarum jam anda tidak lagi ke kanan tapi ke kiri, alias mundur?!

Sudah beberapa hari ini jam meja di rumah bergerak mundur, alis bergerak dari kanan ke kiri. Berbalik arah dari kebiasaan jarum jam biasa. Bermula dari suatu malam, tiba-tiba gerak jarum jam mati. Hari sudah menjelang larut tapi saya melihat jarum jam masih menunjukkan pukul setengah 9 malam. Saya pikir baterenya mungkin sudah habis.

Lalu saya ganti batere jam, setel jarum ke posisi yang normal sesuai waktu saat itu. Mesin jam mulai berdetak kembali. Saya pikir selesailah sudah.

Pagi hari, saya melihat jarum jam menunjukkan pukul setengah sembilan. Saya tak terlalu memperhatikan apakah sesuai jam dengan posisi waktu saat itu. Tapi saya mulai merasakan keanehan. Lalu beberapa waktu kemudian saya melihat jarum jam setengah delapan, wah ada yang nggak benar nih. Saya pikir mungkin jamnya mati, lalu saya ambil jam tapi masih mendengar detak mesin. Waduh! Ada apa ini?

Saya diamkan saja. Lalu beberapa saat kemudia saya melihat kembali ke jarum jam, nah lho, kok posisi jarum jam semakin jam mundur? Sementara waktu tidak lagi sesuai. Masa’ hari masih pagi tapi jam menunjukkan jam malam?

Walah! Jamku ternyata berjalan mundur!

Lalu pikiranku berkelana. Seadainya waktu—perjalanan hidupku bisa berjalan mundur pula, seperti gerak jamku tentu akan banyak cerita dan perancangan hidup yang berubah. Seandainya waktu bisa diulang kembali, tentu akan beda cerita hidupku hari ini.

Pada usia yang sudah kepala tiga, berlainan sekali pilihan jalan hidup yang kutempuh hari ini dibandingkan cita-cita masa laluku. Perjalanan hidup yang berkelok-kelok, jalan nasib yang berliku mencari arah tuju. Beragam jalur telah ditempuh, akhirnya sekarang masuk pada pilihan yang realistis dan yakin: Bahwa pilihan sebagai saudagar adalah pilihan hidup yang kupilih saat ini!

Sudah hampir setahun, tepatnya April 2009 aku sudah memutuskan enterpreneur sebagai jalan hidupku. Setelah sekitar 3 tahun bekerja sebagai karyawan pada salah satu perusahaan IT, aku memutuskan mundur keluar kerja tanpa tabungan dan persiapan material. Dengan Bismillah aku memutuskan berhenti, dunia kerja bukanlah duniaku. Dunia wirausaha—Tangan Di Atas adalah sesungguhnya jalan hidupku.

Terlambat memang, pada usia kepala 3 dan setelah berumah tangga kenapa aku baru menemukan jalan ini? Kemana saja aku berkelana selama ini? Pencarian jati diri, jatuh-bangun terantuk cobaan hidup. Kuliah yang tak selancar orang kebanyakan, terlambat tamatnya. Pencarian jalur hidup, jalan politik pun pernah kumasuki. Tapi itu bukanlah duniaku. Terlalu banyak yang harus dikorbankan pada dunia politik, dunia kerja dan sebagainya. Harus berani dan tega untuk membunuh atau menindas nurani sendiri.

Tahun 1993 merantau ke Jakarta, berharap pada perubahan hidup tidak dengan cara berdagang. Kebanyakan orang kampungku merantau ke Jakarta adalah ingin mencari kerja atau berusaha (berdagang). Tapi aku ingin melanjutkan pendidikan, kuliah. Tapi nasib dan pengharapan di Jakarta tidaklah seindah bayangan. Perjalanan dan pencarian menempuh berbagai liku dan kisah. Tak terbayang dan tak terniat sedikit pun untuk menjadi pengusaha atau berdagang (berbisnis).

Tapi apa yang terjadi hari ini? Hampir setahun sudah aku memutuskan full bisnis, full TDA. Banyak harapan dan gairah yang aku rasakan, bahwa dunia wirausaha, dunia tangan di atas adalah sebenarnya pilihanku. Tak lagi mencari gaji, tapi menjemput dan menerima rezeki Allah SWT yang tak berbatas!

Memang terlambat gairah dan jalan hidup ini kutemukan. Seandainya waktu bisa berjalan mundur, beberapa tahun atau puluh belasan tahun yang lalu, tentu akan kurancang nasib dan jalan hidupku. Tentu akan berlainan cerita hari ini. Aku hari ini tentulah tidak lagi masih berjuang mandiri.

Terkadang iri pada anak-anak muda yang masih belia atau muda usia, tapi sudah mandiri dalam ekonomi. Kalau saja kesadaran hidup ini kuperoleh saat masih usia belasan, atau paling tidak katakanlah aku sudah mulai bisnis pada usia dua puluhan tentu sudah banyak pencapaian diri.

Seandainya waktu bisa berjalan mundur, seperti jam mejaku sekarang ini. Tentu saja banyak cerita dan akan berlainan diriku saat ini. Tapi hidup adalah rahasia, sekarang ini yang bisa lakukan saja yang terbaik. Berbuat, bekerja, berusaha, berdoa, bekerja dan ikhlas pada apa yang diperoleh. Sabar, tawakal dan bersyukur pada apa saja yang didapatkan. Tentu Allah SWT akan mengerti, bahwa tidak ada usaha yang tidak akan mendapatkan hasil.

Filed under: Perjalanan Hidup, Refleksi, Solilokui

Ramadhan di Kampung

Seperempat hari-hari bulan puasa telah dijalani. Bulan ibadah, bulan melatih diri dan menimba pahala. Berbagai cara dan aktivitas yang dilakukan untuk menyambut dan mengisi bulan suci ini.

Teringat saya ketika masih remaja, menjalani bulan puasa di kampung halaman nun jauh di perut pulau Sumatera. Masa-masa gembira dan berkawan dengan teman seusia maupun yang tua. Ya, selain dengan teman sebaya saya juga suka berteman dengan orang yang usianya lebih tuda dari saya.

Hari-hari bulan puasa penuh kegembiraan dan penuh kenangan bagi saya. Ketika sore telah meninggi, kami berkawanan akan menuju sungai-sungai yang ada di kampung kami. Ya, siang terasa panas di Pangkalan Koto Baru, sebuah daerah yang panas berada di penghujung Sumatera Barat mengarah Propinsi Riau. Kampung saya adalah daerah lintasan garis khatulistiwa yang membelah bola bumi,

Berenang di arus sungai, berkecipak-kecipuk, bercanda kami lewati petang hari. Ada juga diantara kami yang membawa senapan ikan, terbuat dari kayu dengan mata tembak dari jeruji besi ban sepeda. Ujungnya diruncingi, lalu ditarik dan ditahan dengan ban karet. Sambil menyelam, picu senapan dilepaskan maka melesatlah ia menembus air, menuju tubuh ikan yang meregang terpanah besi.

Air sungai yang sejuk dan segar meredam panasnya tubuh kami. Setelah puas bersabun dan berendam, lalu kami menghanduki badan dan bersiap pulang. Terkadang dalam perjalanan pulang, melewati kebun-kebun petani, tak urung ada juga diantara kami yang nekat mencuri buah limau (jeruk) untuk buka puasa. Buah yang ranum begitu menggoda. Wah, bulan puasa kok mencuri ya? :D

Berlari, Bergembira

Berlari, Bergembira

Dalam perjalanan pulang, terkadang kami berpacu lari. Rambut kucel, mata merah dan kulit kusam dan kering karena kelamaan berendam dalam air adalah rupa kami anak-anak yang pulang mandi. Senja menjelang ketika kami sampai di rumah masing-masing. Ganti baju, lalu bersiap berbuka puasa.

Setelah berbuka puasa saya menuju Masjid yang ada di dekat pasar untuk bersiap melaksanakan shalat Isya dan Tarawih. O ya, rumah saya ada di pinggir pasar. Lebih tepatnya terpencil jauh di belakang pasar, menembus hutan karet maka bertemulah rumah saya. Dan untuk melaksanakan tarawih saya dan keluarga perlu berjalan beberapa ratus meter untuk sampai di pasar dan menuju Masjid Taqwa, nama mesjid kami.

Malam-malam bulan puasa mesjid kami penuh sekali. Semua orang, tua-muda, anak-anak dan remaja tumpah di dalam mesjid. Menjelang mendekati hari raya maka kita akan lihat orang-orang perantauan yang sudah pulang kampung nampak bergabung shalat Isya dan bertarawih di Masjid. Bagi yang muda-muda yang baru terkena virus puber, kesempatan ini adalah untuk cuci mata. Lirik-lirik pandang, menemukan yang mencerahkan mata. Terkadang tertampak gadis-gadis cantik perantauan, yang selama ini jarang dilihat. Sudah tentu wajah-wajah kota begitu berbeda dan menawan dibandingkan wajah-wajah gadis kampung kami. Bukan berarti gadis-gadis kampung kami tidak menawan, tapi ya.. terkadang gadis kota terkadang menggoda juga. Rumput tetangga nampaknya lebih bagus dari rumput di halaman sendiri… Lebih terawat gitu… he.he….

Selesai tarawih lalu diisi dengan ceramah agama. Pengurus masjid sengaja mengundang buya/ustad dari luar daerah. Kami tekun mendengarnya. Semua ucapan kami simak, yang penting kami catat di buku catatan yang merupakan tugas dari guru di sekolah. Dan catatan ceramah ini haruslah nanti diparaf oleh sang ustad. Selesai ceramah barulah ditutup dengan shalat witir.

Selesai tarawih dan witir, maka ramailah jamaah yang menuju pasar. Berbagai makanan pemuas selera telah menunggu. Biasanya yang paling ramai adalah tukang penjual bakso. Saya ingat, bakso si abang dari Jawa ini begitu istimewa. Rasanya enak sekali. Biasanya saya, mencampuri kuahnya dengan sambal, cabe, kecap dan sedikit cuka. Yang pertama kali habis dimakan tidaklah mie atau baksonya, tapi kuahnyalah yang pertama kali ludes. Kuah bercampur gomok/lemak ini begitu enak sekali, sehingga saya perlu meminta tambahan kuah kepada si abang lalu mengaduk kembali dengan bumbu-bumbu yang ada.

Malam semakin tinggi. Pasar pun kembali sepi. Orang-orang pulang ke rumah. Kami para remaja, tidak ikut pulang. Kami lalu menuju mesjid untuk bermukim (iktikaf). Terkadang yang anak-anak biasanya bermain petak umpet, kejar-kejaran atau berbagai permainan terlebih dahulu.

Masjid adalah tempat tidur bagi kami kaum laki-laki. Bagi orang Minang pantang lelaki yang sudah remaja untuk tidur di rumah. Rumah adalah tempat bagi kaum perempuan kami. Di masjid kami melakukan berbagai aktivitas. Sebelum tidur, kami bergantian membaca Al-Quran (bertadarus). Berbagai irama ngaji melantun membelah malam di kampung kami. Berbeda dengan cara orang mengaji di pulau Jawa, di kami berusaha melantunkan kaji dengan irama dan lantunan terbaik. Kami sudah belajar irama ngaji dari kecil.

Kami jarang tidur pada malam-malam puasa. Kalau selesai mengaji biasanya kami bergurau, main silat-silatan, tendangan-tendangan yang kami contoh dari filem kungfu yang kami tonton dari tempat pemutaran video. Selagi kami main silat dan kungfu-kungfuan, yang tua-tua masih asik meneruskan mengaji sampai sahur tiba.

Suara-suara merdu dan sumbang kami membelah malam. Speaker TOA dari menara masjid memancarkan alunan terbaik dari kami. Terkadang membumbung tinggi, lalu menukik menembus kabut-kabut malam. Demikian terus mengantarkan lelap para penduduk kampung. Dan ketika saat sahur hampir tiba, lalu suara-suara kami membangunkan para penduduk untuk bangun dan melakukan makan sahur. “Sahuurr.. sahur.. Bangun ibu-ibu, saatnya sahur….”

Sekitar pukul setengah empat kami pulang ke rumah masing-masing. Saat sampai di rumah, biasanya orangtua kami masih menyiapkan makanan untuk sahur. Atau kalau orangtua belum bangun kamilah yang membangunkan mereka. Sudah tentu dalam perjalanan pulang dari masjid menuju rumah, kami terus berteriak membangun para tetanngga agar bangun untuk sahur.

Selesai sahur, lalu saya kembali ke Masjid yang ada di pasar untuk melaksanakan shalat subuh berjamaah. Masjid kembali penuh dan kami pun kembali berkumpul dengan teman-teman. Selesai shalat subuh biasanya ada ceramah agama.

Selesai shalat subuh, para jamaah pun berpencar pulang. Tapi ada yang kegiatan yang tidak bagus rupanya, dan itu sudah menjadi tradisi. Asmara subuh, itulah istilahnya yang disebut oleh orang-orang. Kesempatan untuk jalan pagi dan curi pandang mencari lawan jenis.

Ah, apapun itu. Ramadhan di kampung begitu berkesan buat saya. Kenangan masa lalu, yang tak terulang lagi di Jakarta.

(Gambar:  Rarindra Prakarsa)

Filed under: Kenangan, Perjalanan Hidup

Kebahagiaan dalam Kemerdekaan

Sepulang dari Tanah Abang, mampir sebentar di Mesjid Al Hikmah yang berada di belakang Djakarta Theater. Rencana ingin menunaikan shalat Ashar terlebih dahulu, sebelum balik pulang naik Patas 44 Senen-Cileduk. Hatiku bahagia sekali saat ini. Dada serasa penuh sesak oleh rasa syukur, kenikmatan dan kebahagiaan. Rasa syukur ini begitu mendesak, sehingga perlu sekali rasanya, selepas shalat duduk sebentar mencurahkan isi hati. Ku buka tas jinjing notebook, mulailah aku menuliskan tulisan ini.

Setelah turun dari bus Kopaja 19 dari Tanah Abang di Sarinah, berjalan kaki menuju mesjid yang berjarak sekitar 250 meter dari jalan Sudirman. Berpapasan aku di keramaian jalan kaki dengan orang-orang pekerja kantoran, karyawan departemen store, dan para pekerja lainnya yang sehabis shalat, istirahat sore atau entah niat apa ramai sekali mereka di jalan. Melihat orang-orang berpakaian rapi, tertawa, bersama gerombolan mereka. Ada yang lalu-lalang, ada yang singgah di warung-warung makanan pinggir jalan. Lalu aku membandingkan dengan diriku, baju kaos kerah, celana jean dan cuma bersendal kulit, menenteng tas.

Lalu aku berkaca pada mereka dan pada diriku, siapakah yang lebih bahagia? Orang pekerja dengan aturan masuk kerja kantor mulai jam 08.00, lalu pulang pukul 17.00 atau lebih. Sementara aku? Aku adalah bos atas diriku sendiri, mau kemana saja, kapan saja terserah diriku.

Ya, seperti hari ini. Aku baru keluar rumah sekitar pukul setengah dua siang setelah seharian di rumah saja, buka laptop, buka internet browsing, memantau dan menjalankan bisnis dari rumah seharian. Setelah itu menuju Tanah Abang, sentra bisnis terbesar Asia Tenggara. Lalu kirim barang menggunakan jasa TIKI.

Sudah 2 bulan lebih aku menjadi manusia merdeka, manusia yang bebas menentukan nasib dan masa depanku. Tanpa tekanan kerja, tanpa belas kasih tangan orang lain. Ya, sudah 2 bulan lebih aku menjadi tangan di atas (TDA). Sebutan untuk orang merdeka yang tidak lagi mengharap rezeki dengan menjadi anak buah orang lain. Kutempuh dunia bisnis, dunia usaha tanpa kepastian pendapatan. Kutempuh dunia yang disebut oleh baginda nabi: “Sembilan dari sepuluh pintu rezeki itu ada pada berdagang/bisnis.”

Betapa nikmat menjadi TDA. Walau cuma recehan, walau cuma Rp 50 ribu yang didapat, tapi nikmatnya betapa aduhai bila dibandingkan dengan ratusan ribu hasil menjadi pekerja. Rezeki yang didapat dari keringat sendiri, atas kemauan sendiri, atas semangat menjemput rezeki yang tidak lagi dari hasil upahan, wow.. betapa nikmat dirasa. Saat ini aku adalah bos, aku adalah administrator, sekaligus aku adalah pengantar barang. Tapi aku yakin, insyaAllah tak lama lagi aku akan menanjak lebih tinggi. Saat ini adalah masa perjuangan dan penempaan!

Aku bersyukur padamu ya Allah, atas pelajaran dan pelatihan yang Kau ajar-latih padaku saat ini. Aku sangat percaya dengan pertolongan-Mu aku bisa meraih apapun yang aku inginkan. Aku telah mengizinkan diriku berubah, aku telah mengizinkan nasibku untuk menjadi lebih baik. Aku izinkan diriku untuk mendapatkan apapun yang aku inginkan dengan mudah dan menyenangkan. Terimakasih ya Allah, aku bersyukur atas tempaanmu. Saat ini aku penuh dengan kebahagiaan dan rasa syukur.

Aku percaya, saat ini aku sedang meretas jalanku untuk mencapai kemakmuran dan keberlimpahan, dimana itulah takdirku yang akan ditentukan.

Teras Mesjid Al Hikmah, 26 Juni 2008, 16.22 WIB, sebelum bersiap menuju pulang ke rumah.

Filed under: Perjalanan Hidup

Baru Launching GRESS Langsung Dapat Order

Alhamdulillah, setelah memutuskan resign dari tempat kerja saya mulai bisa fokus menjalankan bisnis. Jika selama ini terbentur oleh rutinitas dan jadwal kerja, sekarang saya punya kebebasan waktu.

Bebas waktu, bebas finansial? Yang pertama sudah, dan yang kedua InsyaAllah semoga tercapai. Karena dengan dunia bebas sekarang ini InsyaAllah terbuka peluang menjemput rezeki Allah SWT.

Setelah menjalankan bisnis dengan menjual baju renang muslimah dengan merek bourgoutti, sekarang saya me-launching baju renang baru dengan merek GRESS. Buat webstore dengan WordPress, utak-atik lalu publish ke umum dengan mengirim ke milis TDA dan Hanya Wanita pada Senin, 05 Mei 2008.

Alhamdulillah, baru saja dilaunching, masuk sms yang menanyakan produk kami. Dan Alhamdulillah lagi, setelah itu langsung masuk order memesan baju renang GRESS. Chating dengan calon pelanggan, masuk uang ke rekening saya untuk memesan baju ini. InsyaAllah ini order pertama pembuka pintu rezeki yang lebih banyak lagi.

Semoga rezekiku semakin bertambah dan semakin banyak lagi syukur yang akan disampaikan.

Filed under: Bisnis, Menuju Full TDA, Perjalanan Hidup, Syukur, Teknologi , ,

Sang Elang

Mengalirlah sang waktu,

pada malam yang penuh rahasia, adalah milik mereka yang terjaga. Apa arti diri, bila tak paham akan makna?

Perjalanan telah ditempuh, tak ada kata pulang. Bukan perantauan lagi namanya, jika diputuskan tak akan lagi kembali. Kapal telah dibakar, majulah terus, tak mungkin lagi kembali.

Sang Elang telah sadar diri, tak ingin terkurung lagi dalam kandang si ayam. Terbang, gapailah sejauh cakrawala. Jika harus membubung, membubunglah setinggi-tingginya. Dan jika harus menukik, menukiklah setajam-tajamnya. Terkam mangsa di lautan, terkam di padang yang luas.

Tak usahlah takut pada badai. Elang sayapmu akan semakin kekar ketika berani menghadang angin. Sedang pipit, menyuruk ia di rimbunan pohon ketika mengahadapinya.

Elang terlahir untuk mengarungi cakrawala, menempuh lautan. Menjelajahi bumi yang luas, langit yang tak terbatas.

Filed under: Inspirasi-Motivasi, Life, Perjalanan Hidup, Sastra, Solilokui

Meraih Impian

Sampailah sudah saya pada hari terakhir bekerja sebagai karyawan, setelah sebulan sebelumnya mengajukan diri berhenti. Sesuai peraturan kantor, surat pengunduran (memajukan diri) harus diajukan sebulan sebelum berhenti. Maka, Selasa 15 April 2008 tunailah sudah masa-masa “pengabdian”.

Ada debar-debar membayangkan masa depan, debar mengakhiri hari terakhir bekerja. Menyerahkan diri sepenuhnya pada Allah SWT, tak ada lagi jaminan “kesejahteraan” setiap akhir bulan.

Pagi sebelum berangkat, isteriku bertanya, “Ada yang jemput dari kantor ‘nggak?”

“‘Nggak ada”, jawabku.

“Kalau ‘gitu, Efa aja deh yang jemput kakak”, isteriku tersenyum menawarkan diri.

“‘Nggak usah”, sambungku. “Tunggu aja di rumah.”

Maka, berangkatlah aku ke kantor untuk terakhir kalinya. Hari ini aku selesaikan serah-terima pekerjaan, meeting dengan Manajer System Development untuk koordinasi pekerjaan dengan yang menggantikan. Alhamdulillah, sesuai dengan tawaran dia dan kesepakatan kami beberapa lalu saat aku mengajukan resign, mantan manajerku menawari aku untuk memberikan training kepada karyawan yang menggantikan. Beliau minta aku menyusun proposal penawaran. Ya, Alhamdulillah deh. ‘Nggak ‘nganggur amat, ada rezeki yang telah menunggu :)

Sesaat menjelang pulang dari kantor, lewat chatting isteriku menyampaikan, “Kak, nanti sebelum sampai rumah, sms Efa ya. Nanti Efa jemput di depan.”

Isteriku masih tetap ingin menyambutku secara istimewa. Walau tak jadi menjemput langsung ke kantor tapi paling tidak jemput ke depanlah. Untuk diketahui, rumah (lebih tepatnya kontrakan) kami agak masuk ke dalam dari jalan raya.

nirwana-kom Acer 4920, sang pengganti

Selesai shalat Maghrib, dengan tas ransel besar kusandang barang-barang terakhir dari kantor. Sesaat kutatap komputerku yang kuberi nama nirwana-kom yang telah menemaniku selama 2 tahun 10 bulan ini semasa berjuang sebagai karyawan. Suka-duka, dialah yang menemami perjuanganku sebagai karyawan.

Setelah menyampaikan selamat tinggal dengan beberapa teman yang belum pulang dan menyampaikannya juga melalui intranet maka kutinggalkan kantor. Kuhirup udara kebebasan pertama setelah full TDA di malam Jakarta yang sesak berasap.

Sesampai gang masuk rumah, isteriku sudah menyambutku. Tersenyum dia, “Kak, makan pisang bakar dulu yuk.” Dia menawarkan, rupanya dia mau menyambut secara istimewa. Lalu kami menuju warung yang menjual pisang bakar, walau akhirnya makan bakso juga akhirnya di warung sebelahnya.

Kami ‘ngobrol-ngobrol, dan saya sangat menikmati saat-saat ini.

…………………….

Pagi Rabu ini, setelah Shalat Shubuh, kubuka laptop mulai menulis. Duet Opick dan Tasya menemani.

“Bersujud kepada Allah, bersyukur sepanjang waktu. Setiap nafasmu, seluruh hidupmu semoga diberkahi Allah….”

Banyak hal yang ingin diceritakan, tapi sedikit yang tertulis. Beberapa langkah akan ditapaki untuk mencapai mimpi. Hari ini adalah hari pertamaku bebas dari rutinitas harian seperti biasa. Tak ada lagi degup kuatir keterlabatan, berpacu di pagi yang macet menuju kantor. Gesit mendapatkan bus kota yang kosong, atau sekedar mendapatkan bangku tempat duduk.

Selamat tinggal “zona nyaman”. Dikaulah masa lalu, kuhadang masa depan. Kuraih mimpi. Jika selama ini rezekiku sudah terjatah, maka sekarang adalah masa menjemput dan menunggu rezeki yang tak pasti. Ya, dengan potensi ketidakpastian ini berarti Allah sudah menetapkan rezeki tidak lagi terbatas. Berarti ada potensi rezeki besar tak terbatas disana.

Semoga Allah ridha dengan pilihanku ini.

Filed under: Menuju Full TDA, Perjalanan Hidup ,

Light The World!

Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Pangulu_Kayo Selamat datang di blog pribadi saya. Panggil saja saya Syam. Hanyalah manusia biasa yang ingin menjadi LUAR BIASA. Semua orang adalah guru dan setiap tempat adalah sekolah. Mari saling berbagi.
Lebih lengkap Tentang Saya
Wassalam,
Helsusandra Syam (hensyam2000@yahoo.com)