Light the World!

Icon

Cerahkan Dunia. Mari Saling Berbagi

Perjalanan ke Bandung

Akhir minggu lalu, tepatnya 02 – 04 Agustus kami—saya dan isteri—berada di Bandung. Selain ingin menghadiri acara diskusi “All About Textile” yang diadakan oleh teman-teman TDA Bandung, kami juga ingin melakukan perjalanan bisnis dan silaturahmi ke Bandung.

Berangkat setengah sepuluh pagi, saya dan isteri naik bus Jakarta – Bandung dari Cawang, Jakarta Timur. Sampai di Bandung jam setengah satu siang, langsung menuju ke lokasi acara di restoran Republik Kuliner milik Kang Agah. Demi acara ini, Kang Agah rela menutup restoran untuk umum dan hanya diperuntukkan bagi teman-teman TDA yang mengikuti acara ini.

Restoran sudah penuh oleh peserta, selain dari TDA Bandung ada juga saya melihat Pak Edi Supriadi dari Jakarta, selain dari teman-teman daerah lain. Diskusi dibawakan oleh Pak Eko yang fasih menjelaskan seluk-beluk dunia tekstil. Semakin bertambah pengetahuan saya tentang tekstil, yang selama ini banyak orang menyamakan tekstil dengan garmen. Seringkali kita bertanya pada seseorang, “Usaha apa”. Terkadang ada yang menjawab, “Usaha saya di bidang tekstil.” Ternyata ada perbedaan antara tekstil dengan garmen. Garmen ternyata adalah bidang dalam pengolahan hasil tekstil.

Suasana diskusi di Republik Kuliner. Masakan disini juga enak-enak.

Suasana diskusi di Republik Kuliner: Ngumpul Enak Makan Enak

Pak Eko Veri

Pak Adib dan Pak Eko

Pak Adib dan Pak Eko

Materi All About Textile

Materi All About Textile

Selain Pak Eko, ada pak Adib yang menambahkan. Beliau bicara sekilas tentang dunia tekstil di Cina dan pengalaman beliau selama disana. Ada kejutan dari Pak Wisnu, pelaku dunia garmen yang membuka rahasia berapa biaya jahit kaos, murah ternyata. Sudah pasti, selesai acara saya manfaatkan untuk bincang-bincang dengan orang yang kompeten dengan dunia tekstil dan garmen ini. Misi saya ke Bandung adalah ingin mencari sumber-sumber material untuk produksi baju renang muslimah saya.

Sore hari, kami menuju Geger Kalong, Bandung Utara. Rencana ingin menginap di cottage Daarut Tauhid tapi tidak jadi. Tahun lalu, kami dan Pak Roni dan isteri pernah menginap di penginapan DT ini dalam perjalanan silaturahmi, bisnis dan jalan-jalan di Bandung.

Sebelum mencari penginapan, kami singgah menikmati mie ayam dan bakso di pinggir jalan menuju wilayah DT. Belum berapa lama menikmati, hujan deras turun membasahi Bandung. Setelah sebelumnya hujan pertama membilas Bandung saat acara diskusi di Republik Kuliner, lalu reda. Sekarang hujan kedua turun kembali dengan lebatnya. Sudah lama hujan tak turun di Bandung, berbarengan dengan kedatangan kami, hujan membasuh turun ke bumi.

Malam mulai menjemput, kami harus menuntaskan menjamak shalat Magrib dan Isya. Tapi hujan tak kunjung benar-benar reda, terpaksa diterobos juga. Gerimis membasahi badan, dingin Bandung utara mulai menggigit daging. Setelah beberapa kali mencari penginapan yang pas, akhirnya dapat juga penginapan yang lumayan, dekat pula dengan Masjid Daarut Tauhid.

Malam pertama di Bandung kami lewati dengan dingin yang menusuk tulang, bagi kami orang Jakarta yang terbiasa dengan panas, hawa Bandung utara di malam hari itu begitu dingin, setelah hujan petang hari yang menambah hawa semakin dingin pula.

Hari Kedua

Pukul setengah empat pagi kami sudah bangun. Shalat Tahajud di penginapan, lalu meneruskan Witir di Masjid DT. Di sana sudah penuh oleh jamaah yang shalat tahajud, berzikir, tafakur dan witir. Ada Aa Gym saya lihat di antara jamaah. Menyenangkan bisa beribadah malam hari dan Shubuh berjamaah di masjid yang penuh jamaah. Selain jalan-jalan, beribadah pun terpenuhi di Bandung ini.

Aa Gym mengimani shalat Shubuh, dilanjutkan dengan ceramah agama. Aa menyapa para jamaah dengan gaya khasnya, ternyata ada di antara jamaah yang datang dari luar Jawa.

Masjid Daarut Tauhid yang menyatu dengan lingkungan

Masjid Daarut Tauhid yang menyatu dengan lingkungan

Dari informasi yang didapat, hari Minggu ini kami memutuskan pergi ke Cigondewah untuk mencari material baju renang. Dari Geger Kalong naik bus kota Damri. Ada suasana berbeda yang saya temukan saat naik bus kota ini, dan membandingkannya dengan naik bus kota di Jakarta.

Bus berjalan biasa saja, tanpa kebut-kebutan seperti di Jakarta. Penumpang naik dan turun beberapa kali, supir menepikan mobilnya menunggu yang naik dan turun dengan sabarnya.

Salah seorang penumpang ingin turun, “Kirik…!”, maksudnya “Kiri” dengan tambahan “k” untuk minta berhenti. Yang aneh, si penumpang wanita yang minta turun malah masih duduk, berteriak kiri dan menunggu bus baru benar-benar berhenti lalu berdiri untuk turun. Kalau di Jakarta, sudah didamprat sang supir dan kondektur kita.

Lalu, setelah bus melaju tak lama kemudian di belakang terdengar suara pula ingin minta berhenti. Seorang ibu ingin turun.

“Ayo… Mari buk…. Ayo, silahkan turun…. Ditunggu….”, suara kondektur terdengar ramah mempersilahkan sang penumpang untuk turun. Luar biasa! Mana ada yang seperti ini di Jakarta, kondektur dengan ramah mempersilahkan penumpang untuk turun. Paling, supir memberhentikan mobil di tengah jalan, lalu bentakan kondektur memaksa penumpang yang minta turun. Ketika kaki belum sempurna menjejak ke bumi, sang supir sudah menancapkan gas melarikan kendaraan. Tinggallah sang penumpang yang panik, kebingungan di tengah jalan di kepung sepeda motor yang melaju dengan gila.

Setelah 2 kali ganti angkutan umum, sampai juga di Cigondewah.

Hari Minggu ternyata toko-toko di Cigondewah banyak yang tutup. Sia-sia saja perjalanan kali ini, selain menambah pengalaman baru dan tahu lokasi. Pasar Cidondewah tak ubahnya pasar Cipadu yang ada di wilayah dekat Jakarta, tepatnya di wilayah Tangerang. Pasar ini adalah satu kawasan wilayah yang terdiri dari pertokoan yang menjual bahan-bahan sisa pabrik.

Karena tak ada yang bisa ditemukan di tempat yang libur ini, maka kami kembali ke pusat kota. Selepas turun dari angkot di Kalapa, kami berjalan kaki menuju Alun-alun. Sepanjang jalan, penuh dengan pertokoan busana yang sangat ramai oleh pengunjung. Beragam toko busana, dari baju, celana, aksesories, sepatu, distro dan sebagainya padat oleh pengunjung yang berbelanja atau sekedar masuk saja. Memang Bandung kota wisata belanja, penuh orang membelanjakan uang untuk mendapatkan aneka busana dan makanan.

Sebelum ke alun-alun sengaja saya mencari satu warung makan Minang yang ada di depan alun-alun. Teringat tahun ‘94 saya pernah makan disana dan masakannya enak sekali. Tapi saya tak menemukannya lagi, ya terpaksa makan di warung yang ada saja.

Selesai makan, kami menuju alun-alun yang tepat di depan Masjid Raya Bandung. Ramai orang berkunjung dan bermain disana. Banyak orang beristirahat di halaman alun-alun, dan di pelataran masjid. Sayang sekali, keindahan masjid agung ternoda oleh banyak pedagang kaki lima. Ada penjual bakso, CD, sate, rujak, mainan, balon dan sebagainya. Ada juga pasangan-pasangan yang berpacaran di depan masjid, sayang sekali. Banyak orang berkunjung ke masjid, tapi bukan beribadah. Hanya menjadikan halaman masjid sebagai tempat kongkow-kongkow dan istirahat setelah lelah berbelanja.

Masjid Raya Bandung, ramai dengan berbagai kegiatan

Masjid Raya Bandung, ramai dengan berbagai kegiatan

Foto mesra dulu ah, dengan isteri tercinta;)

Dari masjid, saya menuju Parahyangan Plaza yang ada di samping masjid. Ada teman lama yang memproduksi kaos dan punya gerai distro di lantai 1, nama labelnya Six Clothing. Parahyangan Plaza memang lokasi khusus dari para pemain distro, beragam label ada disini, dari yang ternama sampai pemain baru.

Selepas bincang-bincang nostalgia dan seluk-beluk bisnis, kami melanjutkan perjalanan meninjau pusat-pusat belanja di sekitar alun-alun. Pertokoan ramai oleh orang yang belanja, jalanan penuh oleh para pejalan kaki. Berjalan-jalan malam hari di Bandung alangkah menyenangkan sekali.

Selepas makan malam di salah satu restoran Sunda, kami balik ke penginapan. Malam terus beranjak, Bandung malam hari terasa sejuk hawanya.

Hari Ketiga

Hari ketiga adalah full bisnis. Tidak saya ceritakan suka-duka hari ini.

Selesai bertemu dengan beberapa calon potensial, kami balik ke Jakarta dengan kereta malam Argo Gede. Kereta kelas eksekutif yang masa lalu tiketnya mahal sekali, sekarang sudah turun harga menjadi Rp 45 ribu saja. Malam yang jatuh, tak menyisakan sedikit pun pemandangan di luar kaca. Ditambah ruangan kereta yang dingin, tentu saja tidur adalah hal yang terbaik yang dilakukan. Ya, lebih baik tidur saja, dengan kenangan 3 hari selama di Bandung.

Dapat ilmu, silaturahmi, jalan-jalan, spritual, bisnis, lengkap sudah paket perjalanan selama 3 hari di Bandung, dari rencana semula hanya menginap semalam saja. Bandung, kota sejuk dengan dinamika tersendiri, ketenangan yang memikatku, suatu saat ingin rasanya punya rumah disini.

Oleh-oleh dari Bandung, masuk angin. Dikerok oleh isteri

Oleh-oleh dari Bandung, masuk angin. Dikerok oleh isteri :D

Filed under: Perjalanan

Selamat Tahun Baru 1429 Hijriyah

Semoga tahun baru membawa banyak kebaikan dan keberkahan buat kita.

Filed under: Perjalanan

Rekaman Seputar Workshop TDA

Sabtu yang lalu (01/12/07), saya dan isteri main ke Mangga 2 Square (M2S). Kebetulan ada 2 kegiatan yang bisa saya lakukan disana. Pertama, ada calon pembeli toko online yang kami kelola: eFashion Store yang tertarik dengan koleksi blazer dan ingin melihat contoh dan penawaran kami di kantor mereka di dekat M2S. Dan yang kedua, hari itu adalah pelaksanaan workshop membuat blog yang diadakan oleh TDA di cafe net Ayola, di M2S juga. Eh, ada yang ketiga juga. Saya janji ingin menemui Pak Roni untuk membawa pesanan VCD The Secret yang sudah lama beliau pesan ke saya.

Jadilah hari itu, saya dan isteri pergi kesana. Dengan menyandang “ransel perjuangan” yang memuat 5 contoh blazer saya berangkat ke M2S. Kenapa disebut “ransel perjuangan”, karena ransel ini pernah menemani suka-duka perjalanan hidup saya. Semenjak zaman jalanan sebagai aktivis dulu, berpanas-berhujan, dikejar-kejar tentara, kena asap gas air mata. sampai masuk ke ruangan terhormat. Seperti kalong di malam hari, berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Tidur di kampus ini, di kampus itu, dimana-mana. Ransel ini adalah lemari berjalan saya. Ada beberapa setel pakaian, handuk, perlengkapan mandi, buku bacaan, buku catatan, dan sebagainya.

Zaman berubah, sang ransel pensiun dan tersimpan begitu saja. Eh, sekarang dia kembali menjadi bagian dari “perjuangan” saya (kami) yang lain. Kenapa saya sebut kami? Ya, ransel ini juga menjadi sandangan isteri saya “menjajakan” dagangan kami…. Kalau dulu ransel ini dalah teman setia masa bujangan saya, sekarang menjadi teman keluarga kami….

Eh, kembali ke awal cerita. Kalau bercerita yang barusan bisa lama nih waktunya…:) Perjuangan kami dalam merintis bisnis ini akan menjadi kenangan terindah tersendiri nantinya….

Setelah menemui calon pembeli blazer, saya dan isteri lalu menemui teman-teman TDA yang asik ber-workshop ria. Inilah rekaman gambar yang dapat saya tampilkan.
———————————————
Foto bareng setelah acara TDA Workshop:
tda_workshop

Suasana workshop, yang dipandu oleh Pak Ipul Anwar:
tda_workshop1
Ibu-ibu TDA, kalau sudah ‘ngumpul pasti ngomongin bisnis. Beda ya dengan ibu-ibu yang lain, kalau pada ngumpul eh malah ngegosip… hehe.he… Siapa dulu dong para suaminya… he.he….
tda_workshop2

Nah… Kalau para bapak yang ‘ngumpul, ngomongin apa kali ya..?? Yang pasti, tak jauh dari percepatan bisnis, sharing dan sudah tentu nasib TDA…:
tda_workshop3

Filed under: Member TDA, Perjalanan ,

TERNATE, PULAU YANG DIJAGA GUNUNG DAN LAUTAN

Kamis – Sabtu, 3 – 6 Oktober 2007 saya berada di Ternate untuk melakukan tugas kantor. Instalasi aplikasi e-UKM di PT Pos Ternate.

Ternate, sebuah pulau sebelah barat pulau Halmahera. Gabungan unik antara pantai dan pegunungan. Pulau Ternate dijaga oleh Gunung yang menjulang dan lautan yang terbentang. Di daratan terpancang gunung Gamalama setinggi 1.715 meter. Sementara pantainya di sebelah barat menghadap ke pulau Sulawesi, timur menghadap Pulau Halmahera, utara Samudera Pasifik dan Selatan gugusan kepulauan Maluku. Kalau mau lihat sekilas Ternate coba lihat gambar yang ada pada uang kertas Rp 1.000,- Ada gambar lautan dan pulau Maitara dan Pulau Tidore yang eksotik.

Selesai melakukan tugas instalasi aplikasi di PT Pos Ternate, saatnya melakukan jalan-jalan. Saya dan 2 teman lain yang juga melakukan instalasi aplikasi berbeda berencana hendak pergi jalan-jalan sekitar Ternate. Dari hotel kami jalan kaki ke terminal, naik kendaraan angkutan kota yang mengantar kami ke pantai yang berada di kampung Sulamadaha. Dalam perjalanan ke Terminal kami menemukan Benteng Oranye, benteng peninggalan Portugis yang dibangun abad 16. Sayang sekali, benteng ini tidak terurus dan keliatan kumuh dalam himpitan dereten warung-warung semi permanen di depannya.

sulamataha_hiriSesampai di pantai Sulamadaha, tampak lengang karena saat ini adalah bulan puasa. Para pengunjung dan pedagang tak kelihatan. Cuma beberapa orang yang seperti kami mendapati kesepian di pantai berpasir hitam dan menghadap ke Pulau Hiri.

Setelah berfoto sebentar, kami sepakat dengan supir angkot untuk mengantar kami keliling pulau Ternate dan mengunjungi beberapa tempat wisata lainnya. Disepakati ongkos untuk mengantar kami bertiga sejumlah Rp 75.000.

Dari pantai Sulamadaha yang berada di Utara pulau lalu kami bergerak menyisir jalan yang berada di tepi pantai, di kaki gunung Gamalama terus ke arah Barat pulau. Sebelah kiri kami, menjulang tinggi gunung Gamalama, sementara sebelah kanan menantang lautan luas.

Jalan yang menanjak, lalu menurun mengikuti kontur pegunungan dan pantai. Kampung demi kampung kami lewati. Kampung Takome, Kampung Loto, Kampung Togafo, Rua, Kalumata, Kayu Merah dan seterusnya. Mengingatkan saya akan perjalanan menyisir danau Maninjau di kampung halaman saya. Di satu sisi perjalanan danau luas membentang, di sisi lain perkebunan, perbukitan semakin menanjak terus ke atas. Supir kami, Pak Lutfi banyak bercerita tentang pulau ini dan konflik yang sempat melanda dan melukai para penduduknya.

Kami singgah di menikmati Danau Tolire. Antara gunung dan lautan, di pinggang gunung terdapat sebuah danau. Danau ini seperti kawah, dimana di bawah terbentang danau yang berair hijau. Menurut Pak Lutfi, kalau kita melempar batu ke bawah danau maka batu itu akan menyisir ke tepi ke arah kita kembali.

tolire_lakeSebagaimana daerah lain, terdapat juga kepercayaan masyarakat sini bahwa danau ini dahulunya adalah sebuah kampung yang ditenggelamkan karena sebuah kesalahan. Hawa mistik terasa di danau ini, apakah karena air yang berwarna hijau penuh misteri, atau karena letak danau yang nun di bawah tak bisa kami dekati. Menurut Pak Lutfi, kalau kita beruntung (?) maka kita akan bisa melihat kemunculan buaya putih dari danau ini.

Melanjutkan perjalanan, kami terus bergerak menyisir jalan di pinggir pantai. Melewati kampung demi kampung dari Barat terus ke Selatan. Di pinggir jalan melewati kebun dan kampung masyarakat terbentang pohon-pohon cengkeh,pala dan kelapa. Kesederhanaan terlihat dari kampung-kampung yang dilewati. Pulau ini pernah jaya dengan hasil Cengkeh dan Buah Pala. Harga cengkeh rupanya masih belum menggembirakan. Tapi harga Pala lumayanlah, begitu paparan Pak Lutfi.

Bergerak ke Selatan, kami sampai di danau kecil yang bernama Danau Laguna. Yang ini unik pula. Dari jalan raya mobil angkot kami menepi. Di sebelah kanan terbentang lautan dan disebelah kiri jalan, sedikit menuruni ketinggian jalan, kami mendapati danau ini. Tidak terlalu besar, beberapa penduduk membuka peternakan ikan di pinggir danau ini.

Hari semakin sore, puasa yang dilakukan dan panas terik pulau Ternate serasa membakar kepala dan membuat dahaga. Kami melanjutkan perjalanan menyisir selatan pulau kembali ke arah barat. Sekitar 2 jam lebih kami lewati dalam perjalanan ini. Sekitar 42 kilometer panjangnya rute yang dilewati. Pusat kota telah dimasuki dan perjalanan ini pun segera berakhir.

Sayang, waktu yang singkat selama di Ternate membuat kami tidak banyak bisa mengeksplorasi tujuan wisata disini. Ada pulau Halmahera, Maitara, Tidore, Moti, Makian, Morotai dan lainnya.

senja_ternate

 

- Berbuka puasa, senja di Pantai Ternate

Kehidupan Islam sangat kental terasa di pulau ini. Bulan puasa, jangan berharap kita akan menemukan ada pedagang yang menjual makanan disini. Beda dengan Jakarta atau beberapa daerah lain di Indonesia dimana bebas orang berjualan. Di Jakarta, saya temukan ketika masuk bulan puasa, seharusnya orang-orang yang berjualan menutup kedainya, eh malah semakin banyak yang membuka kedai makanan secara terang-terangan.

Saat Jumatan masuk, toko-toko tutup dan dibuka kembali setelah Shalat Jumat selesai. Sebelum Maghrib, sebelum berbuka toko-toko sudah pada tutup. Saya sempat salah duga, wah, kehidupan Ternate sudah selesai dan malam pun akan menjadi sepi. Tapi ternyata saya salah, setelah orang-orang selesai berbuka dan menjalankan shalat Maghrib, sekitar pukul setengah delapan toko-toko kembali dibuka, dan kota kembali bergeliat.

Pulau ini pernah diamuk perang saudara. Bekas luka masih tersimpan di dada para penduduknya dan menyisakan sesal yang mendalam. Dari ceita Pak Abdulllah, manejer SDM PT Pos Ternate tempat kami menginstal aplikasi dan cerita Pak Lutfi supir yang mengantar kami, betapa kerusuhan yang melanda sekitar tahun 2000 – 2001 menyisakan luka dan penyesalan yang mendalam di hati mereka. Para elit yang bertarung, masyarakat kecil yang berantakan. Perang saudara telah telah terjadi antar mereka. “Jangan sampai terjadi lagi deh Pak!”, demikian ungkap Pak Lutfi kepada saya. Penyesalan terpancar dari mukanya.

“Yah, gajah sama gajah bertarung pelanduk mati terinjak di tengah-tengah.”

Hotel Nirwana, Ternate 06 Oktober 2007


Filed under: Perjalanan ,

Perjalanan ke Jambi dan Muara Bulian

jambiSenin sampai Minggu (24 – 30 September 2007) yang lalu saya dapat tugas dari kantor ke Jambi dan Muara Bulian. Instalasi aplikasi e-UKM di kantor Pos daerah.

Dari pusat kami berangkat bertiga, saya, Iwan dari Bandung dan Riri dari Depok. Kami berasal dari 3 perusahaan yang berbeda yang menjadi tim konsultan Depkominfo untuk menyosialisasikan dan instalasi aplikasi Warmasif. Aplikasi ini terdiri dari 3 modul aplikasi yaitu e-UKM, e-Perpustakaan dan e-Kesehatan. Saya kebagian menginstal dan melatih penggunaan modul aplikasi e-UKM.

Berangkat dengan Lion Air, perjalanan udara menuju Jambi sempat membuat sedikit sport jantung. Sebelum memasuki Jambi, guncangan awan tebal membuat pesawat terguncang dan memaksa para penumpang untuk mengucap doa semoga selamat. Dari kaca jendela terlihat embun dan air deras membasahi. Cuaca mendung dan awan tebal penuh dengan air.

Hujan deras menyambut ketika pesawat mendarat di bandara Sultan Thaha Jambi. Untung ada petugas pos Jambi yang menjemput sehingga kami tidak jadi kebingungan mencari kendaraan untuk membawa kami ke penginapan.

Kantor Pos Jambi tepat berada di pinggir Sungai Batanghari. Sungai besar yang melintasi 2 provinsi Sumatera Barat dan Jambi yang bermuara di wilayah timur Sumatera.

Sayang belum ada koneksi internet di kantor Pos Jambi sehingga aplikasi tidak bisa dijalankan secara online dan bisa diakses dari mana saja. Sayang sekali, seandainya infra struktur lokal sudah mendukung, maka betapa bergunanya aplikasi ini untuk menampilkan informasi komoditi daerah. Transaksi bisnis bisa berlangsung dari mana saja secara online.

Demikian juga di Muara Bulian, tentu saja lebih kurang fasilitas dan pendukungnya dibanding dengan Jambi. Muara Bulian, ibukota Kabupaten Batang Hari. Sebuah daerah baru berkembang, dan tentu saja sangat sepi buat kami yang terbiasa dengan hiruk-pikuk Jakarta.

Sangat disayangkan, proyek pemerintah yang sebenarnya berniat baik untuk memajukan daerah tidak bisa atau belum bisa dijalankan. Saat sampai di daerah, perangkat keras yang akan digunakan masih berada di gudang. Tidak ada jaringan, tidak ada kabel listrik, tidak ada perangkat pendukung!

Setelah membeli kabel listrik, kami cuma bisa sekedar menginstal aplikasi di server lokal dan tidak bisa di-online-kan. Pelatihan juga tidak maksimal diberikan, karena tidak ada petugas khusus yang akan menjalankan aplikasi. Coba bayangkan, untuk Pos Muara Bulian petugas yang ditraining sebagai administrator dan operator sistem dirangkap oleh satu orang, dan itu adalah petugas loket. Saat lagi ditraining, sambilan dengan jaga loket. Ketika ada orang yang datang bertransaksi pos maka terpaksa kami ditinggalkan…hm…

Ada 1 server dan 4 PC branded, 1 Printer multifungsi sebagai mesin copy dan scanner, kamera, dan UPS. Bisa bernilai puluhan juta itu, tapi di Muara Bulian terpaksa disimpan di gudang besi oleh petugas Pos sana. Mereka tidak berani menaruh di luar karena tidak ada ruangan khusus untuk ini dan tidak ada petugas keamanan yang menjaga kantor pos. Bisa-bisa kantor Pos dijebol maling karena barang-barang ini terlibat transparan dari luar.

Pemerintah kalau ingin mengadakan proyek, seharusnya melihat kesiapan daerah terlebih dahulu. Baik persyaratan manusia dan sarana pendukung. Jangan mengadakan proyek sekedar asal jalan saja. Niat baik jangan sampai jadi sia-sia. Jangankan mengoperasikan server dan komputer yang canggih, pakai operating system Linux pula. Untuk mengoperasikan komputer dan mengenal sistem komputer saja mereka masih bingung. Ini malahan mereka langsung disuruh mengoperasikan server dan komputer berbasis Linux. Wah!

Terlepas dari kondisi di atas, ada beberapa kenangan yang melekat pada saya tentang daerah Jambi. Salah satu yang unik yang saya lihat adalah jalanan di Jambi beraspal rapi, tapi ada yang membedakan dengan daerah lain. Yaitu jalanan yang beraspal bercampur batu kerikil, dimana jalanan di daerah lain cuma bermaterialkan aspal atau dengan campuran pasir saja.

Satunya lagi, kala malam menjelang di Jambi, maka kita akan melihat langit kota Jambi dipenuhi oleh burung-burung gereja. Jumlah mereka bukan puluhan, tapi ratusan dan ribuan. Burung-burung ini beterbangan dan bergantungan di kabel-kabel listrik, tiang-tiang dan sela-sela gedung. Luar biasa, banyak sekali dan ramai sekali cicit suaranya.

Filed under: Perjalanan

Perjalanan ke Bandung

Alhamdulillah, Sabtu-Minggu (9-10 Juni) saya berada di Bandung.

Awalnya, saya berkenalan dengan Kang Komar (Ustad Komarudin Chalil, manajer pelatihan DT Bandung). Saya tertarik dengan ceramah beliau di Mesjid Daarut Tauhid Jakarta. Materi yang disampaikan begitu luar biasa. Saya menemukan benang merah yang saya cari-cari setelah menonton filem The Secret. Saya sempat diskusi kecil dengan beliau, dan memperkenalkan fenomena The Secret. Beliau belum pernah menontonnya, dan tertarik untuk menonton. Lalu saya tawarkan untuk nonton bareng dalam acara yang digagas teman-teman TDA Bandung.

Ingin melanjutkan diskusi, dan memperkenalkan beliau dengan teman-teman TDA Bandung maka saya berencana ingin pula ikut serta nonton bareng di Bandung.

Selain itu sudah lama saya dan isteri berniat pergi ke Bandung, mewujudkan rencana lama. Khususnya kami ingin melihat suasana Daarut TauhidBandung.

Ternyata Kang Komar berhalangan datang karena ada acara mengisi materi pelatihan di Jakarta. Namun saya tetap pergi. Selain memang karena ingin nonton dan melihat dinamika TDA Bandung, saya juga mengantarkan pesanan baju renang koleksi toko online kami (efashion.co.nr) ke Pak Fauzi buat isterinya.

Dan ternyata beberapa member TDA Jakarta ada juga yang berangkat kesana.

Jadilah Sabtu pagi saya dan isteri nebeng dengan Pak Roni ke Bandung. Janjian jam 7 pagi di ITC Permata Hijau. Pak Roni dan isteri selain atas undangan Pak Fauzi juga ada acara bisnis di Bandung.

Jam 8 dari sana kami menjemput Pak Iim, Pak Indra dan Pak Muslih (Tim TDA IT) di Mangga Dua Square. Bertujuh kami pergi ke Bandung. Sepanjang perjalanan, banyak canda yang dibuat. Apalagi kalau bukan mencandai Pak Indra yang masih jomblo (Pengumuman: Pak Indra masih single dan ingin cari isteri nih..he.he. . jangan marah ya Pak.. )

Law of Attraction Bekerja-Terbukti!

Sampai di tempat acara Gedung Pos Indonesia Bandung, sekitar pukul 12. Sesi pertama pemutaran filem sudah selesai. Kami tak dapat ikutan nonton bareng.

Saya menyiapkan barang bawaan, nebeng stan salah satu peserta expo mengeluarkan koleksi baju renang kami. Sayang, pesanan baju renang untuk isteri Pak Fauzi yang ukuran M habis, namun puteri beliau akhirnya yang berminat membeli dengan ukuran lain.

yusefSementara itu terlihat Pak Yusef dan Pak Try sedang menunggui stan TDA-Book Club. Koleksi dan alat-alat permainan yang dibawa membuat para pengunjungan begitu antusias

Sungguh dahsyat melihat semangat teman-teman Bandung dalam sesi kedua acara diskusi. Beda semangat Jakarta, beda pula semangat Bandung. Sesi diskusi disampaikan oleh Pak Eddy Djoti dari rahasiahidup.com. Pak Roni juga ikut sharing. Acara dipandu oleh Pak Fauzi. Luar biasa, ternyata acara ini tidak hanya diikuti oleh peserta dari Bandung saja, ada dari Jakarta, Surabaya, Wonosobo, dan dari Duri, Riau.

giftvcdmr_yusefSesi kedua ini begitu seru. Pak Eddy menyampaikan sharing-nya. Beliau juga memberikan kejutan hadiah VCD The Secret yang sudah diterjemahkan ke Bahasa Indonesia. Apalagi di akhir acara Pak Yusef “Mr. Fire” Hilmi membakar penonton dengan materi dan praktik motivasi-inspirasinya. Luar biasa, sharing peserta juga membuat acara ini bergemuruh.

Sudah lama saya mencari-cari ingin mendapatkan filem The Secret. Selesai nonton bareng The Secret yang pertama di Jakarta Design Center, Jakarta beberapa waktu lalu saya mencoba hubungi panitia untuk mengkopi filemnya. Rupanya panitia tidak bersedia karena terikat dengan perjanjian untuk tidak memperbanyak filem. Saya terobsesi terus. Lalu di kantor saya searching di Internet. Dapat! Tapi dalam bahasa asli non-teks. Tapi tak apalah, bisa ngerti dikiti-dikit juga ‘kan…?

Pencarian dan usaha tak pernah berhenti. Ada teman TDA yang punya VCD-nya dalam teks Inggris. Saya ingin mengkopi dari beliau. Syaratnya saya transfer uang untuk sekedar pengganti burning CD. Karena lagi bokek waktu itu, tak jadi saya mendapatkannya. Dari Pak Zaidi saya mendapatkan free VCD The Secret, tapi non-teks. Akhirnya, ketika lagi nge-lapak di Karawaci saya mendapatkan versi bukunya yang baru beredar.

Saya yakin, insyaAllah suatu saat saya akan mendapatkan VCD The Secret dengan teks Bahasa Indonesia. Kenapa saya menganggap ini penting dan ingin sekali? Karena saya ingin juga mengajak orang-orang kenalan saya untuk ikut pula menonton filem ini. Diantara mereka tentu ada yang tidak fasih bahasa Inggrisnya.

Lalu, law of attraction bekerja! Kehendak adalah energi yang terkirim ke semesta. Saya telah berhasrat dan meminta, dan keajaiban pun tercipta. Allah telah merespon keinginan saya.

Selesai acara diskusi di gedung Pos Bandung, para pembicara dan peserta mulai meninggalkan tempat. Pak Eddy saya hampiri. Saya nanya bagaimana beliau bisa membuat The Secret dengan teks Bahasa Indonesia. Maksud saya, ingin medapatkan kopian VCD-nya dan berapa yang mesti saya bayar sebagai pengganti usaha dan VCD. Ternyata apa yang saya dapatkan?

“Untung bapak sekarang menemui saya, nih saya kasih VCD-nya”, Pak Eddy memberikan VCD ke tangan saya. “Tinggal satu saja.”

” Hah!?” Di tangan saya sudah ada VCD The Secret dengan bahasa Indonesia. Sesuatu yang sudah lama saya cari-cari, sekarang sudah berada di telapak tangan. Berapa nih harganya Pak?”

“Ambil aja, buat bapak.”

Sungguh, saya surprise sekali! Terimakasih Pak Eddy, semoga kebaikan bapak menjadi ladang amal dan dibalas pula dengan kebaikan berganda.

Saya berpikir, bagaimana ya caranya agar VCD ini pun dapat diedarkan terbatas di lingkungan teman-teman TDA. Karena dalam pengantar teks filem ini tertulis, “alih bahasa khusus buat komunitas TDA.” Barangkali teman-teman TDA-Book Club, TDA-Media atau TDA-Manajemen bisa membuat solusi atas ini.

Ternyata my dream telah menjadi nyata. Ke Bandung pun adalah salah satu dream saya. Sudah lama saya tak mengunjungi dan wisata ke daerah ini.

Nginap di DT Bandung

Setelah selesai acara, kami bertujuh yang bareng dari Jakarta jalan-jalan ke sebuah factory outlet/FO (saya lupa namanya). Bagus sekali rancang-bangun lokasi FO ini. Memadukan lokasi belanja busana dan makanan. Terpadu dalam suatu lokasi dan taman yang indah. Bandung memang oke punya dalam hal wisata belanja busana.

Setelah mengantarkan Pak Iim cs ke travel (mereka mesti balik ke Jakarta malam itu juga), kami–Pak Roni-isteri dan saya-isteri menuju ke Geger Kalong, tempat DT (Daarut Tauhid-Aa Gym) berada. Kami merencanakan menginap disana. Kami memilih menginap di cottage DT.

Bagus sekali penginapannya, sayang saya lupa memotret cottage-nya. Model cottage berupa rumah papan yang terdiri 2 tingkat. Suasana islami kental di sekitar DT.

Setelah shalat Isya di Mesjid DT (ternyata Aa Gym ada persis di depan saf shalat saya), kami jalan-jalan melihat sekitar lokasi DT. Luar biasa konsep DT ini. Dalam pikiran saya, lokasi DT Bandung adalah suatu wilayah terpadu pesantren, kegiatan bisnis dalam satu lokasi tertentu atau suatu komplek bangunan pesantren. Tapi bayangan saya meleset. Wilayah DT ternyata menyatu dengan perumahan/wilayah penduduk. Tak ada sekat tembok atau pagar pesantren, atau wilayah eksklusif pesantren disana. Yang ada hanyalah keterpaduan wilayah. Dari satu titik berkembang ke lingkungannya. Ternyata, perubahan itu bisa kita mulai dari diri sendiri, dan berkembang ke lingkungan, tanpa mesti menunggu atau mengawalinya dari hal yang ideal terlebih dahulu.

Sambil berjalan-jalan (duh, mesra sekali kali ya, dua pasangan suami isteri jalan-jalan malam), kami melihat-lihat ke sekitarnya. Banyak santri di sekeliling. Banyak unit-unit bisnis yang hidup di sekitarnya. Tanpa sengaja, kami melihat Aa Gym hendak pergi. Beliau tengah menyiapkan sepdea motornya.

aagym“Mau foto nggak?”, beliau menawarkan ke kami.

“Apa kabar A’?”, kami menyapa beliau.

“Mau nyoba motor baru nih”, kata Aa.

“Mau foto nggak?”, sekali lagi beliau menawarkan. Yah, tentu saja kami tak akan menolak. Jadilah kami-Pak Roni dengan isteri, saya dan isteri -masing-masing bergantian berfoto dengan Aa Gym.

Setelah berfoto dengan Aa Gym, kami makan malam di warung/restoran sederhana di depan mesjid DT. Saya mendapat telpon dari teman lama di kampus dulu (www.bl.ac.id). Namanya Ikhsan. Kami janjian di DT malam itu untuk ketemuan. Teman saya ini sekarang punya usaha memproduksi kaos dengan label SIX Clothing dan punya toko di Parahyangan Plaza.

Selesai makan malam, kami balik ke cottange. Saya dan Ikhsan melanjutkan pembicaraan di penginapan.

Malam semakin larut, Ikhsan mesti balik.

Dingin malam di Bandung mengantar saya jatuh ke peraduan (eh, pelukan…..:D)

Lembang is Beautiful Land

Yah, kami memutuskan Minggu pagi ini akan kesana. Kapan lagi kalau ke Bandung nggak berwisata. Bisnis boleh, tapi memanjakan diri dengan plesiran mesti jugalah. Jangan nyari duit aja bisa, tapi memanjakan diri lupa…

Selesai shalat Shubuh yang diimani oleh Aa Gym, lalu beliau sebentar memberikan pengantar ceramah yang disiarkan langsung oleh MQ-FM dan Radio PRO 2 FM Jakarta serta dipancar-luarkan oleh radio lainnya secara nasional. Aa Gym mesti ke Tangerang pagi ini untuk mengisi acara dan dilanjutkan siangnya di Masjid Istiqlal dalam pengajian bulanan MQ.

Sarapan pagi masih lama disiapkan oleh pihak penginapan, yaitu pukul 7.

me_mylove3Pagi itu kami berjalan-jalan sekitar lokasi DT. Sempat berfoto mesra dengan pasangan masing-masing di teras rumah Aa Gym (suiit..suit…. ;) ). Lalu kami melanjutkan meninjau lokasi-lokasi unit usaha DT. Ada Radio MQ-FM dan MQ-TV. Dari papan nama korporasi MQ (Manajemen Qolbu) ternyata terdapat banyak unit-unit atau grup bisnis MQ (mirip dengan unit-unit yang ada di TDA ya? Ada TDA-Manajemen, TDA-QS, TDA-Media, dll :) ). Bisa dilihat pada foto yang terdapat disini.

mq

Setelah selesai sarapan pagi yang diisi diskusi kecil dengan Pak Roni tentang The Founding Father Indonesia, diskusi kebangsaan lalu merembet ke hal lain, kami bersiap diri untuk menuju ke Lembang. Daerah dataran tinggi di sebelah utara Bandung.

Sepanjang perjalanan, panorama alam begitu mempesona. Semilir angin Lembang, sejuk membelai masuk dari jendela mobil. Kami memutuskan ingin ke Observatorium Boscha, lokasi romantis dengan teropong bintangya. Tapi hari Minggu ternyata Boscha tutup. Kecewa juga, masa’ tempat wisata hari Minggu tutup? Bukankah pada hari libur itu sebenarnya pengunjung paling banyak? Ada-ada saja ini kebijakan pengelolanya.

Yah sudah, lalu kami memutuskan ke Rumah Stroberi. Dalam bayangan kami, tempat ini adalah kebun stroberi yang mana pengunjung bebas memetik buah stroberi.

Cukup sulit juga kami mencari lokasi Rumah Stroberi. Tak banyak petunjuk yang terdapat di jalanan. Sempat nyasar ke utara Lembang, nanya sana-sini. Kata orang, “malu bertanya maka.. mari jalan-jalan….”, he.he.. dengan perjuangan tidak malu bertanya, akhirnya kami dapati juga lokasinya.

me_mylove1Rumah Strobery memadukan konsep wisata agro dengan restoran. Akhirnya, orang-orang yang datang kesana bukannya ke kebun stroberi tapi malah makan-makan. Memang, sangat bagus lokasi makan disini. Terperdaya juga kami, niat awal ingin melihat kebun stroberi dan memetiknya, malah makan siang disini. View dataran tinggi, meja-meja makan yang bertebaran di lereng bukit, dengan payung-payung menjadikan makan siang terasa nikmat.

me_bdg1Harus saya akui, menu makan siang yang disajikan oleh rumah makan stroberi ini (saya tak menyebut Rumah Stroberi lagi, karena bisnis utamanya yang saya lihat ternyata adalah restoran. Kebun strobery yang dijual dalam namanya ternyata hanyalah sekedar penarik saja).

Sebagai penunggu pesanan nasi liwet, kami memesan jus stoberi campur susu. Duh nikmaat..!! Segar, jus yang kami minum mampu memijit urat-urat syaraf kelelahan siang ini. Pak Roni sampai megap-megap oleh kejuatan rasa asam-manisnya stroberi. Lumayan, buat obat ngantuk…:)

nasiPaket nasi liwetnya teryata luar biasa! Nasi yang disajikan unik sekali. Ditanak dengan periuk dan disajikan langsung dengan periuknyadi atas meja. Dimasak dengan campuran teri, dan beberapa bumbu yang unik, harum nasi yang berbumbu sungguh memancing selera makan. Paduan ikan asin, ayam goreng, tahu-tempe goreng, lalapan, dan tentu saja sambalnya (wuissh.. saat menulis tak terasa air liur saya tertelan) nikmat. Nggak percaya? Liat aja di foto Pak Roni dan isteri begitu lahap makannya. Tentu saja saya juga dong.. nggak terasa sampai 2 kali saya nambah makan. Kalau tak diingatkan isteri, bisa-bisa tak kehitung berapa nambah nasinya. Untung aja nggak ada petai, bisa-bisa gelagapan saya nggak bisa ‘nahan selera…he.h.eh.

nikmatMakan besar siang ini adalah salah satu makan terenak dalam hidup saya. Tak rugi rasanya paket nasi liwet untuk ukuran 4 orang seharga Rp 75 ribu rupiah. Jus stroberi per gelas seharga Rp 10ribu. Makan ber-tambuah (‘nambah maksudnya) sampai 2,5 kali. Pak Roni aja juga nambah (kalau gak salah 3 kali ya Pak nambahnya?). Wah, gawat nih! Kemungkinan besar kantuk akan menyusul siang ini…:D

Kami berfoto-foto di lokasi Rumah, eh restoran stroberi. Jepret, sana jepret sini. Pokoknya, acara wisata kami di Bandung ini bisa bikin iri teman-teman yang nggak ikutan, atau malah yang pulang duluan ke Jakarta.

tergiurSelesai makan, Pak Roni rupanya masih tertarik dengan kue stroberi (apa ya, nama kuenya? Saya lupa nanya tuh). Roti bakar dengan isi stroberi di dalamnya, dimasak dalam cetakan bulat, sehingga roti ini hasilnya berbentuk bola. Walau sudah makan besar kekenyangan, tetap saja kami memesan dan menikmati roti ini….

Perut sudah kenyang. Kami mesti meninggalkan tempat ini. Selesai shalat Zhuhur yang dijamak-qasar dengan Ashar, lalu kami beranjak pergi.

Pukul 3 sore saya dan isteri meninggalkan Bandung dengan travel. Pak Roni dan isteri masih tetap disana, karena masih ada urusan bisnis hari Senin.

Kenangan Bandung tak terlupakan. Suasana ketenangan yang tidak seribut di Jakarta. Udaranya yang sejuk begitu menyegarkan. Pemandangan alam dan suasana kota Bandung menjadi idaman buat saya.

Suatu saat, terniat di hati kami, kami mesti ke Bandung lagi. Kalau tidak untuk kunjungan wisata paling tidak untuk kunjungan lainnya. Barangkali, suatu saat kami akan tinggal di Bandung…???

Entahlah, oh Jakarta, dikau masih memelukku….

Filed under: Perjalanan, Sisi Lain

Light The World!

Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Selamat datang di blog pribadi saya. Panggil saja saya Syam. Hanyalah manusia biasa yang ingin menjadi LUAR BIASA. Semua orang adalah guru dan setiap tempat adalah sekolah. Mari saling berbagi.
Lebih lengkap Tentang Saya
Wassalam,
Helsusandra Syam (hensyam2000@yahoo.com)