Light the World!

Icon

Cerahkan Dunia. Mari Saling Berbagi

Dua Orang Buta yang Tidak Menyerah

blind-manPagi ini saya melihat dua orang buta, beriringan berjalan dengan seorang perempuan muda. Dua orang buta memikul jualan, berupa kerupuk ikan. Antar bahu mereka dipasangi pikulan yang menggantungkan kerupuk-kerupuk. Dalam kebutaan menyusur jalan, si perempuan mudalah yang menjadi pemandu mereka.

Dua orang buta, menarik rasaku untuk membeli kerupuk yang mereka jajakan. Dua orang buta, walau punya kekurangan tak bisa melihat, telah mengusik hatiku. Bahwa cacat,atau kekurangan dan kelemahan fisik tidak membuat mereka menyerah pada nasib. Dan meminta iba pada orang banyak.

Mengingatkanku pada suatu malam buta. Ketika pulang dari suatu acara. Pada dini hari di saat banyak orang terlelap dalam mimpi indah. Seorang kakek tua renta, badannya kecil tapi berjalan cepat memikul beban yang berat. Dengan pikulan bambu di bahu, dia membawa beberapa barang dagangan. Sepertinya menuju pasar atau entah yang jelas untuk berdagang. Trenyuh pada diri, masih ada orang-orang yang bekerja keras dan susah. Apa yang bisa aku perbuat untuk mereka?

Dalam kekurangan, mereka telah menunjukkan tidak untuk menyerah pada hidup. Kekurangan adalah suatu fakta yang harus diterima. Tapi bukan syarat untuk menyerah.

Malu pada diri sendiri, dalam kesempurnaan apakah masih pantas untuk menyerah dan kalah? Hidup adalah perjuangan. Hidup adalah membuat karya. Orang yang terbaik adalah mereka yang mampu keluar dari ujian hidup. Orang yang tak kalah dan menyerah pada keadaan.

Pagi ini, aku mendapat pelajaran penting. Bahwa hidup haruslah berkarya. Jangan menjadi beban masyarakat!

Filed under: Inspirasi-Motivasi

Sekali Retak Sulit Utuh Kembali

crack-glass-bird-mdSekali retak, kalau tak hancur sulit untuk kembali.

Alam terkembang jadi guru. Pengalaman memberikan pelajaran yang terbaik, penuh hikmah. Menjaga kaca haruslah penuh kehati-hatian. Sekali retak, maka sulit untuk kembali seperti semula. Hanyalah menghitung waktu akan datangnya kehancuran. Apalagi kalau sudah berderai, sulit untuk mengumpulkan yang terserak, membentuk rupa seperti semula. Kalau pun bisa merangkai, seperti puzzle yang terbentuk, tetap saja tampak ketidak-utuhan.

Sekarang ini zamannya orang jualan “kecap”. Mengaku, “kecap gue yang yang nomor satu!” Obral janji, cari data, cara fakta, cari kesalahan orang lain. Semua mengaku diri, kelompok, organisasi dan partainya yang terbaik. “Pilih saya, pilih kami!”

Perlu kecerdasan otak dan kecerdasan nurani untuk menilai. Walau seperti sirup yang dihidangkan, barangkali racun yang terpendam. Kemasan boleh cantik, tapi isi lebih penting. “Kubak kulik, tampak isi”, demikian orang Minang katakan. Ketika dukupas kulitnya, maka tampaklah isinya. Teliti sebelum membeli. Jangan terayu pada pandang mata, jangan terbuai oleh suara. Ada skenario di balik panggung.

Sejarah adalah adalah jejak-rekam dari pengalaman. Belajarlah dari masa lalu, lalu bersiaplah untuk masa depan. Pandang jauh dilayangkan, pandang dekat ditukikkan. Jangan silau oleh pandang jauh, lubang di hadapan siap menjerumuskan. Jangan khusuk pada langkah kaki, tapi ranting menghantam dahi, singa di kejauhan siap menerkam tak disadari.

Mereka boleh saja jual citra, seperti tukang obat cuap-cuap suara. Awas, teliti dulu sebelum membeli. Pelajari program, teliti masa lalu, pelajari jejak-rekam sejarahnya. Jangan terpukau oleh janji-janji yang mengatasnamakan rakyat. Sekali mereka terhantarkan ke atas panggung, berjoget dia lupa pada massa. Cerita dan peran tunduk pada skenario, bukan pada selera penonton.

Ini pesta 5 tahunan, ataukah keprihatinan? Sekali salah memilih, maka menyesallah selamanya.

Hayo bung, ayo mbak, ayo kak, ayo bapak-ibu. Pilihlah yang terbaik. Kalau gelas sudah retak, jangan dipakai untuk minum kembali.

Filed under: Indonesia, Inspirasi-Motivasi, Refleksi

Sang Elang

Mengalirlah sang waktu,

pada malam yang penuh rahasia, adalah milik mereka yang terjaga. Apa arti diri, bila tak paham akan makna?

Perjalanan telah ditempuh, tak ada kata pulang. Bukan perantauan lagi namanya, jika diputuskan tak akan lagi kembali. Kapal telah dibakar, majulah terus, tak mungkin lagi kembali.

Sang Elang telah sadar diri, tak ingin terkurung lagi dalam kandang si ayam. Terbang, gapailah sejauh cakrawala. Jika harus membubung, membubunglah setinggi-tingginya. Dan jika harus menukik, menukiklah setajam-tajamnya. Terkam mangsa di lautan, terkam di padang yang luas.

Tak usahlah takut pada badai. Elang sayapmu akan semakin kekar ketika berani menghadang angin. Sedang pipit, menyuruk ia di rimbunan pohon ketika mengahadapinya.

Elang terlahir untuk mengarungi cakrawala, menempuh lautan. Menjelajahi bumi yang luas, langit yang tak terbatas.

Filed under: Inspirasi-Motivasi, Life, Perjalanan Hidup, Sastra, Solilokui

Dendam sebagai Pemicu Sukses

Kebanyakan orang kalau ditanya, apa yang membuat mereka termotivasi dalam bekerja? Kebanyakan menjawab adalah karena mengejar kesuksesan, atau mendapatkan kepuasan pribadi. Ada pula yang bekerja karena didorong oleh hasrat mendapatkan kekayaan ataupun pencapaian materi.

Tapi ada pula orang yang mencapai kesuksesan karena didorong oleh semangat balas dendam. Ya, dendam telah menjadi pemicu, penggerak seseorang dalam mencapai apa yang diinginkannya. Terrry Garnett, mantan senior vice-president Oracle Corp., jelas-jelas mengatakan bahwa “dendam-lah” yang memicu dia mencapai keberhasilan sekarang ini.

Sewaktu masih di Oracle, Garnett sangat akrab dengan Larry Ellison, bos Oracle Corp. Mereka berdua melewati awal tahun ‘90-an dengan berkeliling dunia. Mereka berdua pernah merencanakan bisnis untuk mendirikan TV Interaktif. Pada tahun 1994 Ellison mengajak Garnett dan isteri berlibur ke Kyoto, Jepang saat bekas ibukota Kerajaan Jepang ini merayakan hari ulangtahun yang ke 1200.

Beberapa pekan setelah liburan ini, tiba-tiba Ellison memecat Garnett, dan membatalkan pendirian TV Interaktif yang mereka rencanakan berdua. Ia berusaha tenang dan keluar dari ruangan Ellison dengan perasaan hampa. Merasa mati rasa, Garnett mengemasi barang-barangnya. Tentu saja Garnett terluka oleh ini. Ia menghabiskan waktu berminggu-minggu untuk memahami alasan pemecatannya. Sampai-sampai Garnett menuntut Ellison karena merasa tidak adil tapi kemudian ia membatalkannya.

Karena murka, Garnett bersumpah pada diri, “Akan datang hari pembalasan!”

Kini, ia CEO Ingres Corp. Sebuah perusahaan piranti lunak yang berusaha menggerogoti pasar Oracle. Ketika ditanya, apakah Garnett termotivasi oleh dendamnya pada Ellison? Garnet menjawab, “Absolutely.”

Garnett hanyalah satu kisah contoh betapa dendam, perasaan terluka mampu membuat seseorang bangkit dan melawan. Banyak kita saksikan, betapa dendam bisa memicu seseorang untuk meraih kesuksesannya. Baik pada bisnis, organisasi ataupun perebutan kerajaan—tentu saja kita bisa saksikan pada sejarah raja-raja Jawa, atau pun belahan dunia lain. Dari seseorang yang tidak ada apa-apanya, malah bisa menjadi yang diperhitungkan dan meraih puncak karena dendam ini. Dari pecundang menjadi pemenang.

Kita pun tentu punya dendam masing-masing, yang menggerakkan perjalanan hidup kita sampai pada saat ini. Ada yang digerakkan oleh dendam negatif. Kisah raja-raja, kudeta berdarah telah menurunkan dendam berkelanjutan sekian turunan. Ada pula yang bisa mengelola perasaan dendam ini menjadi energi positif, mencapai kebaikan-kebaikan, dan akhirnya menyantuni atau mengasihi orang yang pernah menzalimi dia.

Dendam sangat powerfull dalam menggerakkah seseorang. Ia menjadi motif, faktor penggerak. Barangkali inilah yang menjadi alasan (reason) seseorang mengejar apa yang diiinginkan. Faktor dendam, bisa karena merasa pernah disakiti, dilecehkan, dihina, baik oleh seseorang ataupun pada kenyataan sosial.

Saya pribadi, mengejar pencapaian saya juga oleh dendam. Dahulu ketika pertama di Jakarta saya tinggal dengan paman. Beliau seorang pengusaha konveksi. Dunia beliau tentu saja beda dengan saya. Dunia saya adalah dunia mahasiswa. Dunia saya adalah ingin berhasil dalam pendidikan. Beliau ingin saya menjadi pebisnis. Merasa pernah diremehkan di rumah, lalu saya berusaha menjadi orang nomor satu di kampus. Saya buktikan saya bisa menjadi yang terbaik dengan tidak di jalan bisnis. Saya buktikan dengan beberapa kali saya masuk koran dan televisi. Tapi ternyata itu tidak ada artinya bagi paman saya. Saya malah bersumpah, saya tidak akan jadi pedagang! Eh, malah sekarang saya masuk ke dunia ini, heh.he..

Anda pun tentu punya kisah sendiri. Dan akhirnya saatnya pun tiba, kita berhasil meraih capaian kita. Dahsyat sekali energi dendam ini. Bahkan, Pak Roni sendiri pun mengakui kuatnya faktor dendam ini menggerakkan seseorang. Pada suatu makan pagi dengan saya di DT Bandung, Juni 2007, Pak Roni bahkan ingin ada orang yang menghina dia. Dari penghinaan inilah beliau ingin menjadikannya sebagai pembakar untuk mencapai hal yang lebih baik.

Anda tentu punya dendam, saya pun juga. Hampir semua orang juga punya dendam. Lalu, bisakah dendam ini menjadi energi positif yang menggerakkan kita? Mari kita buktikan!

Filed under: Inspirasi-Motivasi

Burung Garuda, Bukan Anak Ayam!

garuda2Pagi ini (26/01/08) saya tercenung setelah membaca tulisan harian Kompas. Sebuah tulisan dari Profesor Koh Young Hun. Bercerita tentang kemajuan dan etos bangsa Korea dan komparasinya dengan Indonesia.

Beberapa tahun ini orang sangat kagum dengan kemajuan Korea. Bagaimana sih bangsa ini bisa maju dan masuk dalam jajaran elit dunia? Betapa etos bangsa ini telah memajukan Korea.

Sejak tahun ‘70-an pemerintah Korea telah membangun dan mengembangkan kualitas bangsa Korea, dengan membentuk empat sikap, yaitu: pertama, sikap rajin bekerja tanpa banyak bicara. Menyelesaikan pekerjaan betapapun kecilnya. Kedua, sikap hemat, sebagai bentuk dari rajin bekerja dan menghargai hasil yang didapat. Ketiga, sikap self-help, yaitu sikap mandiri dan sebagai bentuk kepercayaan diri. Kelima, sikap kooperasi, saling bekerjasama. Keempat sikap inilah yang menjadi etos bangsa Korea dan berperan besar dalam memajukan Korea menjadi bangsa yang moderen terdepan.

Profesor Koh Young Hun mengkomparasikannya dengan bangsa Indonesia. Berawal dari kekaguman beliau dan keyakinannya Indonesia pun bisa seperti Korea. Bukankah empat kualitas sikap tersebut di atas sebenarnya sudah menjadi milik dan budaya bangsa Indonesia?

Tercenung saya; benar! Bukankah sifat-sifat di atas telah menjadi budaya bangsa kita? Rakyat kita adalah bekerja keras. Etos kita, kerjakan apa yang bisa dikerjakan. Mulai dari hal yang kecil. Petani kita adalah pejuang ulet, nelayan kita adalah nelayan yang tangguh. Allah sendiri melalui Al-Quran telah menjelaskan, bahwa Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum kalau tidak mereka sendiri yang mengusahakannya. Kerja bukan semata persoalan kerja belaka, tapi adalah menjadi bagian dari ibadah. Karya besar masa lalu, menunjukkan hasil kerja besar bangsa ini.

Sifat hemat; bukankah telah menjadi peribahasa bangsa ini? Hemat pangkal kaya! Lalu sifat mandiri, sudah pasti dan terus didengung-dengungkah oleh Bung Karno. Berdikari! Berdiri di kaki sendiri, itu ucapan terkenal beliau ketika mengawali berdirinya negara Indonesia. Sikap kooperasi, apalagi itu. Sifat gotong-royong, berat sama dipikul ringan sama dijinjing telah menjadi ucapan-ucapan orangtua yang diwariskan ke anak-cucu. Di kampung-kampung, pembangunan rumah dan pembukaan ladang dikerjakan bersama-sama antar warga.

Sepertinya ada yang salah, atau bermasalah dengan bangsa ini. Sifat dan etos bangsa ini sekarang entah kemana berada. Berganti dengan pemalas, boros, egoisme, individualistik dan sebagainya.

Sebuah Ilustrasi bagus disampaikan oleh sang Profesor. Ada sebuah kisah. Seorang pemburu telah menangkap seekor anak burung garuda dan mengurungnya bersama anak-anak ayam di sangkar ayam. Dikurung lama sampai ia menjadi jinak. Pada suatu hari datanglah seorang peneliti unggas. Beliau heran melihat ada anak garuda di sangkar ayam. Beliau menyatakan ke pemburu bahwa itu adalah anak garuda, tapi sang pemburu tertawa menyatakan bukan dan itu adalah anak unggas. Sang peneliti ngotot dan ingin membuktikannya. Sang pemburu mempersilahkan. Lalu anak garuda dikeluarkan dari kandang, dan disuruh terbang. Ternyata tidak bisa!

Sang pemburu menegaskan, benarkan itu anak unggas bukan anak garuda. Tapi sang peneliti tetap yakin bahwa itu adalah anak garuda. Lalu, anak garuda dihampiri, dia belai kepalanya sambil membisikkan kata-kata: “Wahai anak burung, sesungguhnya engkau adalah anak garuda. Orangtua dan bangsamu adalah jago terbang dan raja angkasa. Cobalah belajar kepakkan sayapmu, engkau akan bisa terbang tinggi.” Sang peneliti membisikkan kata-kata sambil membelai kepala anak garuda.

Lalu sang anak burung dilepas dan mulai mengepakkan sayapnya. Pertama sungguh berat dan menyakitkan. Tapi lama-lama mulai lancar dan semakin jauh dan semakin tinggi.

Kurang lebih, walau saya tambahkan sedikit cerita di atas tapi memang demikianlah kira-kira ilustrasi tentang bangsa ini yang disampaikan oleh Sang Profesor.

Selama ini kita terlalu dibesarkan oleh mitos, tapi lupa pada etos. Bangga pada cerita, kejayaan dan warisan masa lalu. Betapa hebatnya Borobudur, warisan-warisan hebat lainnya. Tentang para pahlawan yang berani, tapi kehilangan etos pada hari ini. Seperti Garuda yang lupa terbang. Menjadi anak ayam saja yang hanya bisa melamun dan menonton kehebatan orang lain.

Rupanya kita butuh Para Pembisik pada hari ini. Para provokator dan penyemangat yang menyadarkan dan membangkitkan. Makanya saya tak heran, betapa menjamurnya para motivator pada hari ini. Bangsa ini rupanya perlu Penyadar rupanya. Yang akan menyadarkan bahwa bangsa ini adalah Burung Garuda, bukan burung pipit, apalagi anak ayam!

Ayo, sadar dan bangkit bangsaku. Kita bisa seperti mereka! Jayakan bangsa ini!

Filed under: Indonesia, Inspirasi-Motivasi ,

KNOWLEDGE IS POWER!

knowledge

Ketika membaca koran beberapa hari yang lalu (Kompas, 26 September 2007), tulisan yang mengupas tentang orang terkaya di Amerika versi majalan Forbes saya terpana, bahwa orang terkaya saat ini bukanlah orang yang bergerak dalam usaha pertambangan, otomotif, atau usaha konvensional lainnya.

Selama ini sudah tercitra, untuk menjadi terkaya adalah dengan menguasai sumber daya alam saja. Tapi kenyataan saat ini sudah berbeda.

Coba perhatikan, dari daftar orang terkaya di Amerika, ditempati oleh orang-orang yang mengelola knowledge dalam kegiatan usahanya. Urutan teratas masih—selama 14 tahun—ditempati oleh Bill Gates dari Microsoft Corp, dengan harta sekitar 59 miliar dollar AS (sekitar Rp 560 triliun). Pada urutan ke-4 ada Larry Ellison, pendiri dan CEO Oracle, dengan kekayaan 26 milliar dollar AS.

Tahun ini masuk daftar baru, urutan ke-5 yaitu pendiri Google Inc, yakni Sergey Brin dan Larry Page. Kekayaan kedua anak muda berusia 34 tahun ini senilai 18,5 milliar dollar AS.

Sementara untuk daftar lainnya berasal dari kalangan investor, juragan minyak dan lain-lain.

Yang menarik dari daftar di atas, tampilnya sosok-sosok yang bergerak di bidang teknologi informasi (IT), seperti dari Microsoft, Oracle, dan Google. Hal ini seperti memperlihatkan bahwa peluang ekonomi telah berubah dari berbasis sumber daya (resource-based economy) ke ekonomi berbasis pengetahuan (knowledge-bases economy).

Selama ini sejarah kekayaan umat manusia adalah berbasis pada sumber daya alam, seperti, minyak, mineral, hutan, dan lain-lain. Tapi kini sumber daya alam bukanlah faktor utama lagi. Mengutip ucapan Peter Drucker, dari Management Challenges for the 21st Century:

“Aset paling berharga bagi perusahaan pada abad ke-21 adalah pengetahuan dan pekerja terdidik. Pengetahuan telah menjadi modal bagi pembangunan ekonomi, menggantikan sumber daya alam yang tidak dapat menjadi andalan lantaran dapat terdepresiasi, bahkan memunculkan perusakan lingkungan yang ujungnya merugikan umat manusia”.

Sumber daya alam tidak dapat lagi diandalkan karena dapat terdepresiasi. Pada sisi lain, ilmu pengetahuan justru terus berkembang.

Orang kini telah menemukan kekuatan baru nonfisik yang selalu terbarukan, itulah yang disebut knowledge atau ilmu pengetahuan.

Paparan lebih lanjut Kompas menyampaikan, nilai semua logam emas yang pernah ditambang dari zaman sebelum Mesir kuno sampai penambangan moderen, seperti di Freeport, termasuk cadangan negara Amerika Serikat di Fort Knox, bernilai hanya kurang dari nilai enam perusahaan komputer/TI, yakni Microsoft, Intel, IBM, Cisco, Lucent, dan Dell. Dan pasti jauh lebih besar lagi kalau Google dan Oracle dimasukkan.

Luar biasa!

Dalam konteks Indonesia, hal ini menimbulkan tantangan baru bagi kita dalam merespon perkembangan zaman. Perlu dikembangkan usaha yang bergerak dalam bidang teknologi. Kita tidak bisa lagi menyandarkan diri pada ekonomi yang bersumber daya alam semata, tapi perlu mendorong munculnya gerakan-gerakan inovasi, pemanfaatan dan pertumbuhan ilmu pengetahuan.

Peran technopreneur sangat penting dalam menjawab perkembangan ekonomi baru.

Sekarang adalah zamannya kedigjayaan knowledge. Knowledge is Power!

Hotel Matahari 2, Jambi 29 September 2007 – 22.07 WIB


Filed under: Inspirasi-Motivasi

Pengaruh Lingkungan

Masjid1Ada sebuah contoh yang bagus yang disampaikan oleh Andrew Matthews dalam bukunya Bahagia Sekarang (Terjemahan dari judul asli Happiness Now).

Pernahkah anda memasuki WC umum yang sangat bau sehingga anda ingin muntah? Akan tetapi, anda perlu menggunakannya sehingga masuk juga akhirnya.

Anda perhatikan, apa yang terjadi?

Ketika lima menit kemudian baunya tidak lagi menyengat seperti semula.

Ada prinsip yang berlaku disini, kita terbiasa dengan lingkungan kita.

Lingkungan mempengaruhi kita. Bergaullah dengan orang yang menderita, maka kita pun akhirnya menderita. Dan kita pun akhirnya menganggap penderitaan itu normal! Jika ingin berbahagia, maka bergaullah dengan orang-orang yang berbahagia.

Ketika kita masuk ke lingkungan orang-orang pembohong dan korup, pada awalnya mungkin akan merasa tidak nyaman. Tapi lama-lama kita akan menganggap itu sebagai hal yang normal dan pada akhirnya kita pun akan menjadi seperti mereka.

Kenapa bangsa ini dipandang berbudaya korup dan tidak efektif? Karena lingkungan atau sistem telah membiasakan orang-orang baik menjadi korup. Orang-orang yang pada awalnya kritis dan bersih, karena lingkungan akhirnya terkontaminasi, terinfeksi juga. Sikap ini lama-lama menjadi budaya dan dianggap sebagai hal yang biasa.

Jika bergaul dengan Pandai Besi, maka kita pasti akan mendapatkan asap. Contoh bagus lain disampaikan oleh Baginda Muhammad SAW, Jika bergaul dengan tukang minyak wangi maka kita pun akan mendapatkan bau wangi. Bergaullah dengan orang-orang sholeh maka kita pun akan terpengaruh kesholehannya.

Seringkali orang ingin merubah nasibnya—ingin hidup lebih baik—tapi masih hidup dalam lingkungan yang tidak mendukungnya untuk menjadi lebih baik. Kita perlu keluar dari lingkungan yang tidak mendukung dan masuk pada lingkungan yang mendukung kita menjadi yang kita inginkan.

Jika ingin menjadi orang yang kritis, maka kita perlu masuk ke lingkungan orang-orang kritis. Pada awalnya mungkin asing, tapi kelamaan kita akan terbiasa dan menjadi normal.

Jika ingin menjadi pebisnis, maka masuklah ke lingkungan pergaulan pebisnis, jangan masuk lingkungan orang-orang pekerja. Pada awalnya mungkin akan kagok dengan pikiran-pikiran, sikap dan gaya hidup mereka, tapi pada akhirnya kita akan menganggap normal dan beradaptasi dengannya.

Kita semua terpengaruh—terinfeksi—oleh orang-orang dan sikap-sikap di sekeliling kita.

Mulai sekarang, pilihlah lingkungan yang mendukung kita ingin menjadi seperti yang diinginkan.

Hotel Gemilang, Muara Bulian Jambi, 28 September 2007 – 15:38 WIB


Filed under: Inspirasi-Motivasi

Light The World!

Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Selamat datang di blog pribadi saya. Panggil saja saya Syam. Hanyalah manusia biasa yang ingin menjadi LUAR BIASA. Semua orang adalah guru dan setiap tempat adalah sekolah. Mari saling berbagi.
Lebih lengkap Tentang Saya
Wassalam,
Helsusandra Syam (hensyam2000@yahoo.com)