Light the World!

Cerahkan Dunia. Mari Saling Berbagi

Selamat Hari Pramuka: Riwayatmu Kini?

Pramuka

Pramuka

Hari (14-08) ini Hari Pramuka.

Teringat saya tentang gerakan kepanduan Indonesia ini. Teringat gerakan Pramuka hari ini, teringat pula saya akan masa lalu saya bersama gerakan ini.

Gerakan kepanduan (Inggris: Scouting) adalah sebuah gerakan pembinaan pemuda yang bertujuan melatih fisik, mental dan spritual—membentuk watak, akhlak dan budi pekerti luhur serta mendorong anggotanya untuk melakukan kegiatan positif di masyarakat.

Di Indonesia, gerakan kepanduan ini disebut Pramuka, singkatan dari Praja Muda Kirana. Artinya adalah orangmuda yang berkarya. Gerakan kepanduan sudah berdiri di Tanah Air semenjak zaman pergerakan. Menjadi kegiatan yang melatih kemandirian, kedisiplinan, kerja-sama tim, pembentukan karakter, cinta tanah air, dan hal-hal positif lainnya.

Dalam Pramuka, kita diajarkan cinta tanah air, cinta sesama, cinta alam dan cinta pada Tuhan. Teringat saya pada gerakan baris-berbaris, menyandang tongkat dengan baju yang dipenuhi oleh berbagai emblem penghargaan dan kegiatan. Di pinggang dengan gulungan tali dan pisau belati. Serasa sudah menjadi prajurit kecil, berbaris setia, menyanyikan lagu-lagu perjuangan. Kegiatan ini mengajarkan kedisiplinan, kerjasama tim, taat komando, kepemimpinan, dan fokus pada tujuan.

Diadakan juga acara kemping. Hidup di alam, membangun tenda, membentuk komunitas kecil—hidup bermasyarakat. Menjunjung alam, tidak merusak dan melindunginya. Diajarkan tali-menali, masak-memasak, membaca jejak, membaca sandi, berpetualang melintasi alam, bertahan hidup, memanjat tebing, menyeberangi sungai. Kerja-sama tim, kekompakan adalah hal pasti untuk mencapai kemenangan. Beradaptasi dengan alam, tidak merusak dan menggunakan apa yang sudah diberikan alam, adalah nilai perjuangan ketika harus bertahan hidup.

Diajarkan juga hidup bermasyarakat. Bagaimana bersosialisasi dan bermanfaat bagi orang banyak. Bukan menjadi benalu, tapi menjadi panutan, berkontribusi kepada kehidupan.

Gerakan Pramuka masih relevan dengan kekinian. Di tengah derasnya globalisasi dan gaya hidup moderen yang menafikan jati diri dan ke-Indonesiaan, Pramuka bisa menjadi salah satu gerakan yang membendung dan beradaptasi di tengah derasnya serbuan nilai-nilai asing. Pramuka menyiapkan generasi kepanduan, generasi muda yang berjati-diri Indonesia yang tahan banting, kuat iman, dan kuat kreatifitasnya.

Nilai dan semangat Pramuka masih membekas di dada dan kepala saya. Ketika lagu Indonesia Raya berkumandang, masih ada rasa haru dan patriotisme di jiwa saya. Tak bisa saya mencuekin ketika Indonesia Raya dan Merah Putih dikibarkan.

Tapi sekarang, sudah saya saksikan banyak anak muda bangsa yang masih tertawa, cuek—masa bodoh ketika Indonesia Raya dinyanyikan, tak hapal lagu Kebangsaan, lupa dengan Pancasila dan UUD 1945 serta masa bodoh ketika Sang Merah Putih terinjak dan terkulai layu.

Hari ini Pramuka seperti masa lalu, romantisme bagi sebagian orang. Anak muda lebih senang dengan kegiatan ekstra kurikuler yang lain dari pada ber-Pramuka. Pramuka tinggal menjadi romantisme saya, Anda atau siapa saja yang dulu pernah beruntung beraktifitas dalam Pramuka.

Saatnya kembali memajukan Pramuka. Menjadi kegiatan wajib ekstrakurikuler di Sekolah-sekolah atau Universitas. Jika negara-negara lain mewajibkan Wajib Militer untuk memaksakan cinta tanah air dan menyiapkan prajurit cadangan, maka seharusnya Indonesia bisa menjadikan Pramuka sebagai kegiatan menumbuhkan kembali nasionalisme, kerakyatan dan cinta alam. Tentu saja Pramuka yang diajarkan sekarang ini harus pula bisa menyesuaikan diri dengan semangat zaman, perkembangan teknologi dan kemajuan zaman. Sehingga nantinya, anak-anak muda yang dihasilkan adalah anak muda yang suka berkarya bisa beradaptasi dan berkreatifitas menyambut zaman baru.

Filed under: Indonesia, Organisasi/Komunitas

Sarbini, Sang Buldozer

sarbiniNamanya, Sarbini saja. Satu kata, seperti nama-nama orang besar atau yang pernah tercatat di sejarah. Saya yakin, beliau pun juga akan mencatatkan namanya sebagai salah satu orang besar. Coba perhatikan: Ibrahim, Muhammad, Sukarno, Syailendra, (Adolf) Hitler, Suharto (yang ini kontroversi), hanya satu kata nama saja. Profil beliau, selain di http://sarbini.net, bisa juga dilihat di Facebook pada link ini atau link ini

Anak Banten, yang lahir dari kampung Onyam, Tangerang ini melewatkan masa kecilnya di kampung. Menamatkan SMP di pondok pesantren Yayasan Pesantren Islam (YAPI), Bangil-Jawa Timur. Lalu dia menghabiskan masa remajanya di pondok pesantren Daar el-Qalam, Tangerang yang dilanjutkan dengan menamatkan pendidikan S1 di Universitas Tujuh Belas Agustus (UNTAG) 1945 Jakarta.

Saya mengenalnya sejak perjuangan tahun ‘98. Mantan Ketua Senat Mahasiswa dan Presiden Mahasiswa UNTAG ‘45 Jakarta ini adalah aktivis dan pejuang tulen. Koordinator FKSMJ (Forum Komunikasi Senat Mahaiswa se-Jakarta) tahun 1998 ini adalah motor, inspirator dan motivator perjuangan mahasiswa. Sosoknya yang low profile acap kali hilang dari liputan dan wawancara media massa.

Saya ingat, ketika Jakarta membara pada medio Mei ‘98. Konstalasi politik tidak menentu pasca resesi ekonomi dan penembakan (pembunuhan?) mahasiswa serta bumi hangus Jakarta dan kota-kota lainnya di Indonesia. Berbagai lapisan masyarakat ingin menyampaikan aspirasi ke gedung DPR/MPR, tapi terhalang oleh pagar duri dan hadangan tentara bersenjata lengkap. Tak ada celah untuk bisa masuk kesana. Demo-demo mahasiswa hanya bisa terjadi di dalam kampus saja, tak bisa keluar karena dijaga aparat bersenjata.

Saya ingat, kami para pentolan pimpinan berbagai kampus Jakarta. Para Ketua-ketua Senat Mahasiswa atau perwakilannya yang tergabung dalam Forum Komunikasi Senat Mahasiswa se-Jakarta (FKSMJ) berkumpul di IKIP Jakarta, lalu menyusup dalam rombongan rektor IKIP Jakarta masuk ke Gedung DPR/MPR. Saat itulah kepemimpinan dan ketokohan Sarbini terlihat. Bertindak sebagai juru bicara FKSMJ, beliau dan kami mendesak pimpinan DPR/MPR meminta agar Suharto mundur dari Presiden Republik Indonesia dan diadakan Sidang Istimewa segera!

Saya menyaksikan, betapa pucat dan gugup muka Harmoko dan pimpinan Dewan yang lain, atas desakan mahasiswa menyampaikan agar Suharto mundur dari Presiden. Hasilnya, reaksi hebat para elit pemerintah dan aparat terhadap seruan ini. Wiranto sebagai Pangliman ABRI waktu itu langsung bereaksi bahwa seruan itu adalah seruan pribadi dan siap melindungi keluarga Suharto.

Kami memutuskan menginap di gedung DPR/MPR, dalam kepungan tentara bersenjata dan sniper yang mengincar di malam hari. Saking mencekamnya disana, sampai Syarwan Hamid dari Fraksi ABRI di DPR/MPR tidak berani keluar dari sana.

Ah, betapa mencekam malam itu. Bayangan peristiwa 27 Juli masih saja terbayang di mata. Apakah kami akan berakhir seperti ini?

Nostalgia, ya kenangan itu begitu melekat pada diri saya dengan Sarbini sebagai salah satu tokoh sentral dalam aksi ini.

Singkat cerita, akhirnya Suharto pun tumbang digantikan Habibie yang penuh kontoversi. Mahasiswa terpecah dukung-mendukung dan menentang dengan meminta sidang istimewa MPR atau membentuk pemerintahan transisi atau pemerintahan rakyat. Isu berkembang menjadi fitnah, bahwa yang menentang Habibie adalah kelompok komunis. Kami pun dipetakan dalam grup komunis ini.

Tapi mana mungkin Sarbini, jebolan pesantren murid kesayangan kiyai bisa menjadi komunis? Dalam forum-forum diskusi dan seminar, lugas dan cerdas Sarbini menjawab fitnah dan tuduhan ini.

Kami menyebut Sarbini dengan istilah Buldozer. Ya, beliau adalah jagonya dalam retorika dan berorasi. Dalam setiap forum, beliau mampu melabrak para elit yang pasca runtuh Suharto mengklaim sebagai pihak yang paling berjasa dalam menjatuhkan Orde Baru, dan mengklaim sebagai “orang” dibalik gerakan mahasiswa. Sebagai pelaku langsung di lapangan, Sarbini tentu saja perlu meluruskan hal ini. Gerakan mahasiswa bersih dari kepentingan elit!

Kami menyebut dia si Buldozer! Argumentasinya jelas dan logikanya benar. Tentu saja para oportunis yang main di forum-forum mati kutu olehnya.

Pasca jatuhnya Suharto, gerakan mahasiswa masih melakukan reli-reli aksi. Sarbini masih saja berada di garis terdepan. Beliau mempelopori pertemuan-pertemuan ketua senat mahasiswa dan perwakilan mahasiswa secara nasional untuk menghasilkan sinergi perjuangan.

Ketika pemerintah tak lagi legitimate maka perlu dicari pemimpin alternatif, yang bisa menyatukan semua perbedaan dan menghindarkan Indonesia dari perpecahan dan kehancuran. Sarbini adalah salah satu orang yang menjadi otak dari pertemuan para tokoh bangsa dan mendorong mereka untuk bertemu. Pertemuan ini menghasilkan kesepakatan yang dikenal dengan Deklarasi Ciganjur. Dimana, dari pertemuan inilah naiknya popularitas Gus Dur, Megawati, Amien Rais dan Sri Sultan HB IX.

Sayang, tak banyak diharap dari pertemuan tokoh ini. Mereka masih takut untuk maju memimpin alih kepemimpinan nasional. Semenjak itulah kami menyatakan tidak lagi percaya kepada para elit, dan menyerukan POTONG SATU GENERASI!.

Sarbini adalah sahabat saya, yang lahir dari kancah perjuangan. Ketika mahasiswa terpecah dalam isu dukung-mendukung Habibie, menentang dan mendukung Sidang Istimewa, beliau tampil beda dengan argumentasi yang cerdas logis. Beliau belajar dari guru terbaik, dan tentu saja semua apa yang disampaikannya tak terbantahkan!

Pasca reformasi ‘98, sebagian mahasiswa balik ke kampus dan sebagian lagi sibuk dengan perjuangan. Ada juga yang masuk ke gelanggang politik praktis. Berbeda dengan Sarbini, ketika berbagai tawaran datang masuk afiliasi politik, sampai tawaran beasiswa dan dukungan dana dari berbagai funding. Beliau masih tetap dalam jalur independen dan bersih dari kepentingan praktis.

Ketika beberapa teman bergabung dengan berbagai partai politik, atau melanjutkan kuliah di luar negeri, Sarbini memilih mematangkan dan menyiapkan diri. Beliau belajar dari guru terbaik, dari aktivis angkatan ‘60an, ‘70an sampai ‘80an. Mahasiswa kesayangan dari Prof. Sri Soemantri, guru besar ilmu hukum tata negara ini kuat dalam landasan ilmiah. Murid kesayangan kiyai di pondok pesantren ini, kuat dalam dalam argumentasi agama dan ilmiah. Sehingga ketika pertentangan mahasiswa membelok ke isu politik, ekonomi sampai agama, maka Sarbini bisa selamat dan menang dalam hal ini.

Kematangan politik dan basis massa Sarbini teruji dalam perjuangan. Beliau adalah tokoh yang menjadi tangan kanan Sarwono Kusumaatmadja yang berhasil memenangkan dan mengantarkan Sarwono maju sebagai wakil DKI Jakarta pada DPR MPR RI periode 2004-2009. Sampai akhirnya dipercaya menjadi staf ahli parlemen di DPD bidang politik mendampingi Ir. Sarwono Kusumaatmadja.

Sekarang, setelah merasa saatnya tiba dan matang, beliau maju membawa aspirasi rakyat Banten sebagai calon legislatif DPR RI dari Partai Demokrat dengan nomor urut 8 dari daerah pemilihan Kota dan Kabupaten Tangerang. Dengan dukungan penuh dari KH. Drs, Ahmad Syahiduddin selaku pimpinan Pondok Pesantren Daar el-Qolam, Sarbini bertekad akan membawa dan membela kepentingan rakyat.

Tak diragukan lagi, saya percaya dengan latar belakang perjuangan yang teruji maka Sarbini akan mampu membawa aspirasi rakyat ke DPR MPR RI.

Selamat berjuang sahabat, kami para sahabatmu akan mendukungmu!

Wassalam,
Helsusandra Syam

http://hensyam.co.nr

Koordinator FKSJM (Forum Komunikasi Senat Mahasiswa se-Jakarta) tahun 2000.

Filed under: Indonesia, Kawan, Tokoh

Sekali Retak Sulit Utuh Kembali

crack-glass-bird-mdSekali retak, kalau tak hancur sulit untuk kembali.

Alam terkembang jadi guru. Pengalaman memberikan pelajaran yang terbaik, penuh hikmah. Menjaga kaca haruslah penuh kehati-hatian. Sekali retak, maka sulit untuk kembali seperti semula. Hanyalah menghitung waktu akan datangnya kehancuran. Apalagi kalau sudah berderai, sulit untuk mengumpulkan yang terserak, membentuk rupa seperti semula. Kalau pun bisa merangkai, seperti puzzle yang terbentuk, tetap saja tampak ketidak-utuhan.

Sekarang ini zamannya orang jualan “kecap”. Mengaku, “kecap gue yang yang nomor satu!” Obral janji, cari data, cara fakta, cari kesalahan orang lain. Semua mengaku diri, kelompok, organisasi dan partainya yang terbaik. “Pilih saya, pilih kami!”

Perlu kecerdasan otak dan kecerdasan nurani untuk menilai. Walau seperti sirup yang dihidangkan, barangkali racun yang terpendam. Kemasan boleh cantik, tapi isi lebih penting. “Kubak kulik, tampak isi”, demikian orang Minang katakan. Ketika dukupas kulitnya, maka tampaklah isinya. Teliti sebelum membeli. Jangan terayu pada pandang mata, jangan terbuai oleh suara. Ada skenario di balik panggung.

Sejarah adalah adalah jejak-rekam dari pengalaman. Belajarlah dari masa lalu, lalu bersiaplah untuk masa depan. Pandang jauh dilayangkan, pandang dekat ditukikkan. Jangan silau oleh pandang jauh, lubang di hadapan siap menjerumuskan. Jangan khusuk pada langkah kaki, tapi ranting menghantam dahi, singa di kejauhan siap menerkam tak disadari.

Mereka boleh saja jual citra, seperti tukang obat cuap-cuap suara. Awas, teliti dulu sebelum membeli. Pelajari program, teliti masa lalu, pelajari jejak-rekam sejarahnya. Jangan terpukau oleh janji-janji yang mengatasnamakan rakyat. Sekali mereka terhantarkan ke atas panggung, berjoget dia lupa pada massa. Cerita dan peran tunduk pada skenario, bukan pada selera penonton.

Ini pesta 5 tahunan, ataukah keprihatinan? Sekali salah memilih, maka menyesallah selamanya.

Hayo bung, ayo mbak, ayo kak, ayo bapak-ibu. Pilihlah yang terbaik. Kalau gelas sudah retak, jangan dipakai untuk minum kembali.

Filed under: Indonesia, Inspirasi-Motivasi, Refleksi

Semoga Indonesia Terus Merdeka

63 tahun tak terasa kita sudah merdeka. Merdeka dalam pengertian sudah terlepas dari penjajahan fisik.

Apakah benar sudah merdeka sepenuhnya, dalam pengertian yang sebenarnya?

Mengutip “Tri Sakti” yang disampaikan oleh Bung Karno, kemerdekaan yang ingin dicapai adalah:

  1. Berdaulat di bidang politik;
  2. Mandiri dalam bidang ekonomo;
  3. Berkepribadian dalam bidang budaya.

Pertama, apakah kita sudah berdaulat dalam bidang politik? Bukankah saat ini masih ada kita temukan campur tangan asing (Barat) dalam kebijakan-kebijakan politik dan dalam negeri kita? Belum lama ini, anggota Kongres Amerika menyurati pemerintah untuk membebaskan para tokoh OPM (Organisasi Papua Merdeka). Ada apa dengan Amerika? Sehingga lancang mengurus urusan dalam negeri Indonesia? Belum lagi hal-hal lain, sampai pemilu dan cara berdemokrasi pun kita diajari dan meniru gaya Amerika. Bukankah sudah terbukti ratusan tahun, nilai bermasyarakat bangsa kita, yaitu musyawarah dan mufakat serta prinsip gotong-royong manjur dalam menjaga dan membentuk Indonesia?

Yang kedua, kemandirian dalam bidang ekonomi. Ah, jauh rasanya. Bukankah aset penting negara yang menguasai hajat hidup orang banyak ternyata telah banyak dikuasai oleh bangsa asing? Tanah, air, emas, minyak, mineral dan kandungan bumi lainnya ternyata bukan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat Indonesia? Tapi malah memperkaya kapitalisme asing?

Apalagi yang ketiga, berkepribadian dalam bidang budaya.

Sulit rasanya sekarang ini mencari budaya Indonesia. Tengang-rasa, saling menolong, berat sama dipikul ringan sama dijinjing. Bulat air karena pembuluh, bulat kata karena mufakat, seciap bak ayam, sedencing bak besi sudah berganti one man one vote. Yang kuatlah akhirnya yang menang. Berganti dengan individualistik dan pendekatan kekuasaan serta yang terkuat.

Tingkah laku hedonisme, gaya hidup materialisme dan menghamba Barat. Anak muda yang berlaku lebih barat dari Barat. Sinetron, filem dan gaya hidup yang melakukan rekayasa sosial (social engineering) tak terasa menyuntikkan perubahan nilai pada anak bangsa. Jadilah mutan-mutan yang berjalan tanpa jati diri.

Bung Karno juga menyatakan: Kemerdekaan itu adalah jembatan emas. Dimana di seberangnya jalan terbelah dua. Yang satu menuju kesejahteraan sama rasa sama rata. Yang satu lagi menuju bencana nasional yang disebut dengan istilah sama ratap sama tangis.

Tinggal kita mau memilih jalan mana yang akan ditempuh. Sesungguhnya mempertahankan kemerdekaan lebih sulit dari merebutnya.

Saat ini, yang kaya semakin kaya. Yang miskin semakin teraniaya. Saatnya untuk berbuat apa saja untuk menyelamatkan bangsa dan negara. Berbuat sesuai bidang masing-masing. Para politikus bertobatlah dari mengkorupsi harta rakyat. Para pebisnis berjuanglah untuk memakmurkan orang banyak, keuntungan bukanlah semata mengejar pemuasan diri semata. Para pendidik, didiklah generasi baru bangsa dengan nilai sejati bangsa ini. Janganlah biarkan kami lupa dengan warisan nilai nenek moyang.

Selamat merdeka negeriku.

Filed under: Indonesia

Refleksi Kebangkitan Nasional dan Reformasi

Kenali dan Cintai

(Gambar diambil dari KDRI.WEB.ID)

Apa ukuran nasionalisme, jika Pancasila saja tidak hapal oleh warga bangsa? Apa ukuran nasionalisme, jika hanya dilihat pada tepuk tangan, sorak gempita pada pertandingan olahraga, atau pada adu tarik suara?

Silahkan ukur nasionalisme Anda, dengan parameter apa saja. Bila masih ada anak bangsa yang kelaparan, warga yang antre untuk mendapatkan beras murah, pedagang kecil yang menjerit oleh naiknya harga minyak tanah, dan keluhan banyak orang karena subsidi yang telah dicabut oleh para pengelola negara.

Salahkah warga negara mendapatkan subsidi, akan menjadi manjakah mereka karena subsidi? Sehingga dengan alasan ini subsidi yang men-sejahterakan mereka akhirnya dicabut! Bukankah suatu negara terbentuk dengan asumsi dasar untuk mensejahterakan warganya?

Jangan ukur kesejahteraan dan ukuran-ukuran lainya bagi warga negara ini dengan negara lain.

Sudah satu abad-100 tahun ditandai dengan Kebangkitan Bangsa ini. Terlepas dari kontreversi penanda awal ini, saat ini semarak merayakannya terasa dalam seremoni dan berbagai acara. Bangsa ini sudah merdeka, cita-cita mewujudkan masyarakat adil dan makmur masih jauh dirasa. Berbagai rezim berganti, berbagai kabinet telah bekerja dengan caranya masing-masing, sungguh jauh panggang dari api. Korupsi, kolusi dan nepotisme masih saja terasa, sampai saat ini yang disebut era reformasi.

8 tahun sudah reformasi bergulir. Terlepas dari kontroversi apakah reformasi sudah dimulai, atau bagaimana jalannya, toh hari ini masih saja kita saksikan pertengkaran demi pertengkaran masih terjadi. Demokrasi, kebebasan tak lebih dari kedok jahat yang digunakan oleh para politisi, seniman dan para aktivis demi menyurukkan niat mereka dalam memaksakan kebebasan nilai, hasrat kebebasan dan meniadakan nilai suci, cita-cita bangsa dan kemaslahatan bersama. Demi isu kebebasan, ego, hasrat individual menegasikan kepentingan bersama.

Semua orang sekarang bebas bersuara, bicara dan berpendapat. Dengan alasan kebebasan ini pula seakan norma-norma spritual atau religi seolah mati!

Bangsaku, apa yang kau cari. Apa yang kau tuju? Sudah 100 tahun era kebangkitan berlalu, sudah 63 tahun kemerdekaan diproklamirkan, dan sudah 8 tahun pula reformasi kami kumandangkan. Tapi masih seolah berjalan di tempat? Para kapitalis-pemilik modal seakan berpesta pora dalam mencari laba, lalu merusak bangsa. Para media, artis atau seniman seolah masa bodoh dengan keselamatan bangsa. Para politisi dan pemain zaman bermain dengan pola sendiri. Lupa pada blue print, nilai dasar yang dibuat para Pendiri Bangsa, lupa pada Tuhan. Seolah hubungan dengan Tuhan hanya persoalan pribadi, dan cukup ditandai dengan formalitas ibadah saja.

Apa yang bisa diharap pada warga yang tak hapal Pancasila, yang ketawa-ketiwi, cengengesan dan bercanda ria sementara Indonesia Raya tengah dikumandangkan? Ooo.. tak bisa kita mengukur nasionalisme dan komitmen kebangsaan seseorang hanya dari ukuran itu semata, mungkin seseorang akan berkata seperti ini.

Ya.. terlepas dari bantahan atau sinisme kebangsaan saya, saatnya sekarang kita bertanya pada diri sendiri: Sudah berbuat apakah kita untuk bangsa ini?

Filed under: Indonesia, Solilokui

Kecewa dengan Filem Ayat-ayat Cinta

Sabtu, Malam minggu (01/03) kemarin saya dan isteri berkesempatan menonton filem Ayat-ayat Cinta (AAC) di bioskop di daerah Blok M. Rencana mau mononton yang main sekitar jam 7-an malam.

Bioskop yang berada di lantai 6 Blok M Plaza dipenuhi oleh orang-orang yang antri dan lesehan menunggu jadwal tayang. Hal ini mengingatkan saya saat ikut mengikuti histeria filem Ada Apa dengan Cinta beberapa tahun lalu. Gegap-gempita orang-orang yang penasaran oleh bujuk-rayu iklan.

Kami ikut mengantri, ternyata tiket sudah habis untuk 2 jadwal tayang ke depan. Hanya tersisa untuk main jam 21.45. Okelah, karena penasaran jadilah kami memesan tiket untuk 2 jam ke depan.

Ternyata, filem AAC tidaklah sehebat novelnya. Sangat disayangkan, kedahsyatan dan misi yang dikandung oleh Kang Habib dalam novelnya hancur oleh kepentingan lain! Tulisan ini adalah sebagai bentuk kekecewaan saya terhadap hasil filem mini.

Novel aslinya, bolehlah dikatakan sebagai novel islami. Tapi menonton filem ini saya sungguh kecewa. Tak saya temukan kekuatan Islam dan idealisme seperti novelnya.

Separoh filem ini yang saya temukan adalah kegagapan, atau barangkali kegagalan sutradara dalam menterjemahkan tulisan ke bentuk visual. Sepertinya sutradara gagap dalam menerjemahkan isi novel ke dalam bentuk gambar. Potongan-potongan cerita yang tidak utuh dan ganjil. Seakan memaksakan jalan cerita seperti alur novel. Barangkali alasan klise, kalau ingin mengikuti alur cerita mungkin waktu 2 jam tidak akan cukup. Tapi yang saya temukan, alur cerita yang tidak utuh. Seakan yang kita lihat hanyalah penggalan-penggalan cerita yangtidak bersinergi.

Pemilihan peran yang tidak pas, lucu melihat tokoh-tokoh yang diusung tidak mewakili figur novel. Wajah-wajah Mesir yang digantikan oleh wajah melayu. Visualisasi yang tidak berhasil mengangkat alam dan jiwa Mesir sungguh sangat disayangkan karena memang lokasi shooting tidak dilakukan di Mesir. Dalam pendahuluan novel Kang Habib, digambarkan Mesir yang panas luar biasa, betapa sulitnya Fahri menjalani masa-masa disana, kurang berhasil diangkat oleh filem ini.

Memang tidak mudah untuk mengangkat cerita yang bertemakan dakwah, berlabelkan Islam ke dunia filem. Apalagi bagi seorang yang tidak berkecimpung dalam dakwah dah kurang mendalami agama. Seorang sutradara senior saja, Charul Umam ketika pertama kali ditawari untuk menggarap filem ini memerlukan berkonsultasi terlebih dahulu ke seorang ustad. Sang ustad menyarankan, kalau ingin menggarap filem ini maka dia mesti nyantri terlebih dahulu. “Mas, kalau memang jadi membuat film itu, mbok sampeyan nyantri dulu di Mesir barang tiga bulan, biar bisa tahu persis bagaimana khas kehidupan di sana.” (Baca eramuslim.com). Akhirnya Hanung yang menggarap filem ini. 

Bisa kita bayangkan, filem ini jauh dari alam dan budaya Mesir, apalagi jauh dari Islam.

Tapi yang paling mengecewakan dan mengkuatirkan saya adalah rusaknya akidah dan runtuhnya nilai-nilai Islam oleh filem ini. Hebatnya kekuatan gambar atau filem adalah secara halus membuat masyarakat menjadi permisif, dan lupa pada idealisme. Bayangan Fahri yang ahli agama dan menjaga akhlak, digambarkan suka berduaan dengan Maria. Padahal dalam Islam dilarang berduaan dengan yang bukan muhrim. Gambaran Aisha yang seorang akhwat, menundukkan pandangan dan sejuk dipandang, berganti dengan seorang wanita yang mau beradu-pandang dengan Fahri. Dan yang paling parah adalah betapa beraninya sutradara menggambarkan adegan perciuman, dan suasana malam pertama antara Fahri dan Aisha. Apa sih maksud yang ingin diangkat oleh adegan ini? Ingin menunjukkan malam pertama? ‘Kan tidak mesti dengan berciuman, cukup masuk kamar lalu matikan lampu, penonton akan mengerti kok…

Dalam Islam, membicarakan atau membawa suasana kamar tidur, hubungan suami-isteri ke luar rumah dan menceritakan ke orang lain adalah tabu. Ini berani sang sutradara, dan betapa naifnya. Dalam bayangan kita, seorang ikhwan dan ikhwat itu lugu, tidak berani beradu pandang. Tapi dalam filem ini, kesan yang kita tangkap, betapa tingginya jam terbang antara Fahri dan Aisha dalam hubungan dengan lawan jenis. Dimulai dengan adu pandang, lalu tahu-tahu mereka berdua sudah nyosor berciuman dan langsung rebahan. Saya tidak melihat ini filem dakwah, seakan saya melihat filem barat atau sinetron murahan.

Belum lagi, cerita poligami Fahri dengan dua isteri. Dalam Islam, mana boleh itu isteri-isteri tinggal dalam satu atap. Ini yang kita lihat, Fahri dan isteri pertamanya membawa isteri keduanya tinggal bersama, di rumah isteri pertamanya pula. Digambarkan, kedua isterinya bersebelahan kamar. Jadi, Fahri harus bergiliran menyambangi kedua isterinya yang bersebelahan kamar. Wah…wah… kacau ini…

Ah, pokoknya banyak kekurangan filem ini. Kalau mau diteruskan akan banyak kritik saya lainnya terhadap filem ini. Jadinya, sepanjang menonton filem ini, saya berdua dengan isteri bukannya menikmati, malah berdiskusi dan mengkritisi….

Saya tidak tahu bagaimana tanggapan Habirurahman, pengarang AAC. Sejauhmana dia terlibat dalam pembuatan filem ini. Semestinya beliau harus mengklarifikasi filem ini. Dan Hanung, sebagai seorang sutradara ternyata tidaklah seideal tulisan yang beliau tulis di blognya untuk mengantarkan filem ini. Seorang Sutradara, kalau dia seorang seniman sejati, maka dia akan teguh memegang idealismenya. Tidak mau tunduk pada kepentingan pemilik modal. Dia terus berjuang menyampaikan idealismenya.

Akhirnya, saya hanya melihat ada pertarungan dua kepentingan dalam filem ini: antara idelalisme dan kapitalisme. Ada kepentingan pemilik modal, kepentingan ekonomi dan motif terselubung dalam filem ini. Apalagi setelah saya tahu produser dan perusahaan yang mengusung filem ini sama dengan yang memproduksi sinetron-sinetron murahan dan merusak generai muda dan anak-anak Indonesia.

Filed under: Indonesia, Religi

Burung Garuda, Bukan Anak Ayam!

garuda2Pagi ini (26/01/08) saya tercenung setelah membaca tulisan harian Kompas. Sebuah tulisan dari Profesor Koh Young Hun. Bercerita tentang kemajuan dan etos bangsa Korea dan komparasinya dengan Indonesia.

Beberapa tahun ini orang sangat kagum dengan kemajuan Korea. Bagaimana sih bangsa ini bisa maju dan masuk dalam jajaran elit dunia? Betapa etos bangsa ini telah memajukan Korea.

Sejak tahun ‘70-an pemerintah Korea telah membangun dan mengembangkan kualitas bangsa Korea, dengan membentuk empat sikap, yaitu: pertama, sikap rajin bekerja tanpa banyak bicara. Menyelesaikan pekerjaan betapapun kecilnya. Kedua, sikap hemat, sebagai bentuk dari rajin bekerja dan menghargai hasil yang didapat. Ketiga, sikap self-help, yaitu sikap mandiri dan sebagai bentuk kepercayaan diri. Kelima, sikap kooperasi, saling bekerjasama. Keempat sikap inilah yang menjadi etos bangsa Korea dan berperan besar dalam memajukan Korea menjadi bangsa yang moderen terdepan.

Profesor Koh Young Hun mengkomparasikannya dengan bangsa Indonesia. Berawal dari kekaguman beliau dan keyakinannya Indonesia pun bisa seperti Korea. Bukankah empat kualitas sikap tersebut di atas sebenarnya sudah menjadi milik dan budaya bangsa Indonesia?

Tercenung saya; benar! Bukankah sifat-sifat di atas telah menjadi budaya bangsa kita? Rakyat kita adalah bekerja keras. Etos kita, kerjakan apa yang bisa dikerjakan. Mulai dari hal yang kecil. Petani kita adalah pejuang ulet, nelayan kita adalah nelayan yang tangguh. Allah sendiri melalui Al-Quran telah menjelaskan, bahwa Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum kalau tidak mereka sendiri yang mengusahakannya. Kerja bukan semata persoalan kerja belaka, tapi adalah menjadi bagian dari ibadah. Karya besar masa lalu, menunjukkan hasil kerja besar bangsa ini.

Sifat hemat; bukankah telah menjadi peribahasa bangsa ini? Hemat pangkal kaya! Lalu sifat mandiri, sudah pasti dan terus didengung-dengungkah oleh Bung Karno. Berdikari! Berdiri di kaki sendiri, itu ucapan terkenal beliau ketika mengawali berdirinya negara Indonesia. Sikap kooperasi, apalagi itu. Sifat gotong-royong, berat sama dipikul ringan sama dijinjing telah menjadi ucapan-ucapan orangtua yang diwariskan ke anak-cucu. Di kampung-kampung, pembangunan rumah dan pembukaan ladang dikerjakan bersama-sama antar warga.

Sepertinya ada yang salah, atau bermasalah dengan bangsa ini. Sifat dan etos bangsa ini sekarang entah kemana berada. Berganti dengan pemalas, boros, egoisme, individualistik dan sebagainya.

Sebuah Ilustrasi bagus disampaikan oleh sang Profesor. Ada sebuah kisah. Seorang pemburu telah menangkap seekor anak burung garuda dan mengurungnya bersama anak-anak ayam di sangkar ayam. Dikurung lama sampai ia menjadi jinak. Pada suatu hari datanglah seorang peneliti unggas. Beliau heran melihat ada anak garuda di sangkar ayam. Beliau menyatakan ke pemburu bahwa itu adalah anak garuda, tapi sang pemburu tertawa menyatakan bukan dan itu adalah anak unggas. Sang peneliti ngotot dan ingin membuktikannya. Sang pemburu mempersilahkan. Lalu anak garuda dikeluarkan dari kandang, dan disuruh terbang. Ternyata tidak bisa!

Sang pemburu menegaskan, benarkan itu anak unggas bukan anak garuda. Tapi sang peneliti tetap yakin bahwa itu adalah anak garuda. Lalu, anak garuda dihampiri, dia belai kepalanya sambil membisikkan kata-kata: “Wahai anak burung, sesungguhnya engkau adalah anak garuda. Orangtua dan bangsamu adalah jago terbang dan raja angkasa. Cobalah belajar kepakkan sayapmu, engkau akan bisa terbang tinggi.” Sang peneliti membisikkan kata-kata sambil membelai kepala anak garuda.

Lalu sang anak burung dilepas dan mulai mengepakkan sayapnya. Pertama sungguh berat dan menyakitkan. Tapi lama-lama mulai lancar dan semakin jauh dan semakin tinggi.

Kurang lebih, walau saya tambahkan sedikit cerita di atas tapi memang demikianlah kira-kira ilustrasi tentang bangsa ini yang disampaikan oleh Sang Profesor.

Selama ini kita terlalu dibesarkan oleh mitos, tapi lupa pada etos. Bangga pada cerita, kejayaan dan warisan masa lalu. Betapa hebatnya Borobudur, warisan-warisan hebat lainnya. Tentang para pahlawan yang berani, tapi kehilangan etos pada hari ini. Seperti Garuda yang lupa terbang. Menjadi anak ayam saja yang hanya bisa melamun dan menonton kehebatan orang lain.

Rupanya kita butuh Para Pembisik pada hari ini. Para provokator dan penyemangat yang menyadarkan dan membangkitkan. Makanya saya tak heran, betapa menjamurnya para motivator pada hari ini. Bangsa ini rupanya perlu Penyadar rupanya. Yang akan menyadarkan bahwa bangsa ini adalah Burung Garuda, bukan burung pipit, apalagi anak ayam!

Ayo, sadar dan bangkit bangsaku. Kita bisa seperti mereka! Jayakan bangsa ini!

Filed under: Indonesia, Inspirasi-Motivasi ,

Light The World!

Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Pangulu_Kayo Selamat datang di blog pribadi saya. Panggil saja saya Syam. Hanyalah manusia biasa yang ingin menjadi LUAR BIASA. Semua orang adalah guru dan setiap tempat adalah sekolah. Mari saling berbagi.
Lebih lengkap Tentang Saya
Wassalam,
Helsusandra Syam (hensyam2000@yahoo.com)