Feed on
Tulisan
Komentar

Sepulang dari Tanah Abang, mampir sebentar di Mesjid Al Hikmah yang berada di belakang Djakarta Theater. Rencana ingin menunaikan shalat Ashar terlebih dahulu, sebelum balik pulang naik Patas 44 Senen-Cileduk. Hatiku bahagia sekali saat ini. Dada serasa penuh sesak oleh rasa syukur, kenikmatan dan kebahagiaan. Rasa syukur ini begitu mendesak, sehingga perlu sekali rasanya, selepas shalat duduk sebentar mencurahkan isi hati. Ku buka tas jinjing notebook, mulailah aku menuliskan tulisan ini.

Setelah turun dari bus Kopaja 19 dari Tanah Abang di Sarinah, berjalan kaki menuju mesjid yang berjarak sekitar 250 meter dari jalan Sudirman. Berpapasan aku di keramaian jalan kaki dengan orang-orang pekerja kantoran, karyawan departemen store, dan para pekerja lainnya yang sehabis shalat, istirahat sore atau entah niat apa ramai sekali mereka di jalan. Melihat orang-orang berpakaian rapi, tertawa, bersama gerombolan mereka. Ada yang lalu-lalang, ada yang singgah di warung-warung makanan pinggir jalan. Lalu aku membandingkan dengan diriku, baju kaos kerah, celana jean dan cuma bersendal kulit, menenteng tas.

Lalu aku berkaca pada mereka dan pada diriku, siapakah yang lebih bahagia? Orang pekerja dengan aturan masuk kerja kantor mulai jam 08.00, lalu pulang pukul 17.00 atau lebih. Sementara aku? Aku adalah bos atas diriku sendiri, mau kemana saja, kapan saja terserah diriku.

Ya, seperti hari ini. Aku baru keluar rumah sekitar pukul setengah dua siang setelah seharian di rumah saja, buka laptop, buka internet browsing, memantau dan menjalankan bisnis dari rumah seharian. Setelah itu menuju Tanah Abang, sentra bisnis terbesar Asia Tenggara. Lalu kirim barang menggunakan jasa TIKI.

Sudah 2 bulan lebih aku menjadi manusia merdeka, manusia yang bebas menentukan nasib dan masa depanku. Tanpa tekanan kerja, tanpa belas kasih tangan orang lain. Ya, sudah 2 bulan lebih aku menjadi tangan di atas (TDA). Sebutan untuk orang merdeka yang tidak lagi mengharap rezeki dengan menjadi anak buah orang lain. Kutempuh dunia bisnis, dunia usaha tanpa kepastian pendapatan. Kutempuh dunia yang disebut oleh baginda nabi: “Sembilan dari sepuluh pintu rezeki itu ada pada berdagang/bisnis.”

Betapa nikmat menjadi TDA. Walau cuma recehan, walau cuma Rp 50 ribu yang didapat, tapi nikmatnya betapa aduhai bila dibandingkan dengan ratusan ribu hasil menjadi pekerja. Rezeki yang didapat dari keringat sendiri, atas kemauan sendiri, atas semangat menjemput rezeki yang tidak lagi dari hasil upahan, wow.. betapa nikmat dirasa. Saat ini aku adalah bos, aku adalah administrator, sekaligus aku adalah pengantar barang. Tapi aku yakin, insyaAllah tak lama lagi aku akan menanjak lebih tinggi. Saat ini adalah masa perjuangan dan penempaan!

Aku bersyukur padamu ya Allah, atas pelajaran dan pelatihan yang Kau ajar-latih padaku saat ini. Aku sangat percaya dengan pertolongan-Mu aku bisa meraih apapun yang aku inginkan. Aku telah mengizinkan diriku berubah, aku telah mengizinkan nasibku untuk menjadi lebih baik. Aku izinkan diriku untuk mendapatkan apapun yang aku inginkan dengan mudah dan menyenangkan. Terimakasih ya Allah, aku bersyukur atas tempaanmu. Saat ini aku penuh dengan kebahagiaan dan rasa syukur.

Aku percaya, saat ini aku sedang meretas jalanku untuk mencapai kemakmuran dan keberlimpahan, dimana itulah takdirku yang akan ditentukan.

Teras Mesjid Al Hikmah, 26 Juni 2008, 16.22 WIB, sebelum bersiap menuju pulang ke rumah.

Kenali dan Cintai

(Gambar diambil dari KDRI.WEB.ID)

Apa ukuran nasionalisme, jika Pancasila saja tidak hapal oleh warga bangsa? Apa ukuran nasionalisme, jika hanya dilihat pada tepuk tangan, sorak gempita pada pertandingan olahraga, atau pada adu tarik suara?

Silahkan ukur nasionalisme Anda, dengan parameter apa saja. Bila masih ada anak bangsa yang kelaparan, warga yang antre untuk mendapatkan beras murah, pedagang kecil yang menjerit oleh naiknya harga minyak tanah, dan keluhan banyak orang karena subsidi yang telah dicabut oleh para pengelola negara.

Salahkah warga negara mendapatkan subsidi, akan menjadi manjakah mereka karena subsidi? Sehingga dengan alasan ini subsidi yang men-sejahterakan mereka akhirnya dicabut! Bukankah suatu negara terbentuk dengan asumsi dasar untuk mensejahterakan warganya?

Jangan ukur kesejahteraan dan ukuran-ukuran lainya bagi warga negara ini dengan negara lain.

Sudah satu abad-100 tahun ditandai dengan Kebangkitan Bangsa ini. Terlepas dari kontreversi penanda awal ini, saat ini semarak merayakannya terasa dalam seremoni dan berbagai acara. Bangsa ini sudah merdeka, cita-cita mewujudkan masyarakat adil dan makmur masih jauh dirasa. Berbagai rezim berganti, berbagai kabinet telah bekerja dengan caranya masing-masing, sungguh jauh panggang dari api. Korupsi, kolusi dan nepotisme masih saja terasa, sampai saat ini yang disebut era reformasi.

8 tahun sudah reformasi bergulir. Terlepas dari kontroversi apakah reformasi sudah dimulai, atau bagaimana jalannya, toh hari ini masih saja kita saksikan pertengkaran demi pertengkaran masih terjadi. Demokrasi, kebebasan tak lebih dari kedok jahat yang digunakan oleh para politisi, seniman dan para aktivis demi menyurukkan niat mereka dalam memaksakan kebebasan nilai, hasrat kebebasan dan meniadakan nilai suci, cita-cita bangsa dan kemaslahatan bersama. Demi isu kebebasan, ego, hasrat individual menegasikan kepentingan bersama.

Semua orang sekarang bebas bersuara, bicara dan berpendapat. Dengan alasan kebebasan ini pula seakan norma-norma spritual atau religi seolah mati!

Bangsaku, apa yang kau cari. Apa yang kau tuju? Sudah 100 tahun era kebangkitan berlalu, sudah 63 tahun kemerdekaan diproklamirkan, dan sudah 8 tahun pula reformasi kami kumandangkan. Tapi masih seolah berjalan di tempat? Para kapitalis-pemilik modal seakan berpesta pora dalam mencari laba, lalu merusak bangsa. Para media, artis atau seniman seolah masa bodoh dengan keselamatan bangsa. Para politisi dan pemain zaman bermain dengan pola sendiri. Lupa pada blue print, nilai dasar yang dibuat para Pendiri Bangsa, lupa pada Tuhan. Seolah hubungan dengan Tuhan hanya persoalan pribadi, dan cukup ditandai dengan formalitas ibadah saja.

Apa yang bisa diharap pada warga yang tak hapal Pancasila, yang ketawa-ketiwi, cengengesan dan bercanda ria sementara Indonesia Raya tengah dikumandangkan? Ooo.. tak bisa kita mengukur nasionalisme dan komitmen kebangsaan seseorang hanya dari ukuran itu semata, mungkin seseorang akan berkata seperti ini.

Ya.. terlepas dari bantahan atau sinisme kebangsaan saya, saatnya sekarang kita bertanya pada diri sendiri: Sudah berbuat apakah kita untuk bangsa ini?

Alhamdulillah, setelah memutuskan resign dari tempat kerja saya mulai bisa fokus menjalankan bisnis. Jika selama ini terbentur oleh rutinitas dan jadwal kerja, sekarang saya punya kebebasan waktu.

Bebas waktu, bebas finansial? Yang pertama sudah, dan yang kedua InsyaAllah semoga tercapai. Karena dengan dunia bebas sekarang ini InsyaAllah terbuka peluang menjemput rezeki Allah SWT.

Setelah menjalankan bisnis dengan menjual baju renang muslimah dengan merek bourgoutti, sekarang saya me-launching baju renang baru dengan merek GRESS. Buat webstore dengan WordPress, utak-atik lalu publish ke umum dengan mengirim ke milis TDA dan Hanya Wanita pada Senin, 05 Mei 2008.

Alhamdulillah, baru saja dilaunching, masuk sms yang menanyakan produk kami. Dan Alhamdulillah lagi, setelah itu langsung masuk order memesan baju renang GRESS. Chating dengan calon pelanggan, masuk uang ke rekening saya untuk memesan baju ini. InsyaAllah ini order pertama pembuka pintu rezeki yang lebih banyak lagi.

Semoga rezekiku semakin bertambah dan semakin banyak lagi syukur yang akan disampaikan.

Sang Elang

Mengalirlah sang waktu,

pada malam yang penuh rahasia, adalah milik mereka yang terjaga. Apa arti diri, bila tak paham akan makna?

Perjalanan telah ditempuh, tak ada kata pulang. Bukan perantauan lagi namanya, jika diputuskan tak akan lagi kembali. Kapal telah dibakar, majulah terus, tak mungkin lagi kembali.

Sang Elang telah sadar diri, tak ingin terkurung lagi dalam kandang si ayam. Terbang, gapailah sejauh cakrawala. Jika harus membubung, membubunglah setinggi-tingginya. Dan jika harus menukik, menukiklah setajam-tajamnya. Terkam mangsa di lautan, terkam di padang yang luas.

Tak usahlah takut pada badai. Elang sayapmu akan semakin kekar ketika berani menghadang angin. Sedang pipit, menyuruk ia di rimbunan pohon ketika mengahadapinya.

Elang terlahir untuk mengarungi cakrawala, menempuh lautan. Menjelajahi bumi yang luas, langit yang tak terbatas.

Meraih Impian

Sampailah sudah saya pada hari terakhir bekerja sebagai karyawan, setelah sebulan sebelumnya mengajukan diri berhenti. Sesuai peraturan kantor, surat pengunduran (memajukan diri) harus diajukan sebulan sebelum berhenti. Maka, Selasa 15 April 2008 tunailah sudah masa-masa “pengabdian”.

Ada debar-debar membayangkan masa depan, debar mengakhiri hari terakhir bekerja. Menyerahkan diri sepenuhnya pada Allah SWT, tak ada lagi jaminan “kesejahteraan” setiap akhir bulan.

Pagi sebelum berangkat, isteriku bertanya, “Ada yang jemput dari kantor ‘nggak?”

“‘Nggak ada”, jawabku.

“Kalau ‘gitu, Efa aja deh yang jemput kakak”, isteriku tersenyum menawarkan diri.

“‘Nggak usah”, sambungku. “Tunggu aja di rumah.”

Maka, berangkatlah aku ke kantor untuk terakhir kalinya. Hari ini aku selesaikan serah-terima pekerjaan, meeting dengan Manajer System Development untuk koordinasi pekerjaan dengan yang menggantikan. Alhamdulillah, sesuai dengan tawaran dia dan kesepakatan kami beberapa lalu saat aku mengajukan resign, mantan manajerku menawari aku untuk memberikan training kepada karyawan yang menggantikan. Beliau minta aku menyusun proposal penawaran. Ya, Alhamdulillah deh. ‘Nggak ‘nganggur amat, ada rezeki yang telah menunggu :)

Sesaat menjelang pulang dari kantor, lewat chatting isteriku menyampaikan, “Kak, nanti sebelum sampai rumah, sms Efa ya. Nanti Efa jemput di depan.”

Isteriku masih tetap ingin menyambutku secara istimewa. Walau tak jadi menjemput langsung ke kantor tapi paling tidak jemput ke depanlah. Untuk diketahui, rumah (lebih tepatnya kontrakan) kami agak masuk ke dalam dari jalan raya.

nirwana-kom Acer 4920, sang pengganti

Selesai shalat Maghrib, dengan tas ransel besar kusandang barang-barang terakhir dari kantor. Sesaat kutatap komputerku yang kuberi nama nirwana-kom yang telah menemaniku selama 2 tahun 10 bulan ini semasa berjuang sebagai karyawan. Suka-duka, dialah yang menemami perjuanganku sebagai karyawan.

Setelah menyampaikan selamat tinggal dengan beberapa teman yang belum pulang dan menyampaikannya juga melalui intranet maka kutinggalkan kantor. Kuhirup udara kebebasan pertama setelah full TDA di malam Jakarta yang sesak berasap.

Sesampai gang masuk rumah, isteriku sudah menyambutku. Tersenyum dia, “Kak, makan pisang bakar dulu yuk.” Dia menawarkan, rupanya dia mau menyambut secara istimewa. Lalu kami menuju warung yang menjual pisang bakar, walau akhirnya makan bakso juga akhirnya di warung sebelahnya.

Kami ‘ngobrol-ngobrol, dan saya sangat menikmati saat-saat ini.

…………………….

Pagi Rabu ini, setelah Shalat Shubuh, kubuka laptop mulai menulis. Duet Opick dan Tasya menemani.

“Bersujud kepada Allah, bersyukur sepanjang waktu. Setiap nafasmu, seluruh hidupmu semoga diberkahi Allah….”

Banyak hal yang ingin diceritakan, tapi sedikit yang tertulis. Beberapa langkah akan ditapaki untuk mencapai mimpi. Hari ini adalah hari pertamaku bebas dari rutinitas harian seperti biasa. Tak ada lagi degup kuatir keterlabatan, berpacu di pagi yang macet menuju kantor. Gesit mendapatkan bus kota yang kosong, atau sekedar mendapatkan bangku tempat duduk.

Selamat tinggal “zona nyaman”. Dikaulah masa lalu, kuhadang masa depan. Kuraih mimpi. Jika selama ini rezekiku sudah terjatah, maka sekarang adalah masa menjemput dan menunggu rezeki yang tak pasti. Ya, dengan potensi ketidakpastian ini berarti Allah sudah menetapkan rezeki tidak lagi terbatas. Berarti ada potensi rezeki besar tak terbatas disana.

Semoga Allah ridha dengan pilihanku ini.

‘… Kelompok blogger dan hacker yang selalu bertindak negatif adalah pelakunya. Hal ini membuktikan, yang namanya blogger dan hacker Indonesia belum bisa mencerminkan citra positif,’ tegas Roy Suryo kepada detikNET, Kamis 27/3/2008.

Apa pendapat, komentar Anda para penggiat menulis (blogger) melalui media internet? Sudah tentu, beberapa orang blogger yang merasa tertohok oleh pernyataan Roy Suryo (RS) ini menjadi gundah, gelisah dan geram. Tidak tahu, apakah pernyataan RS di atas adalah benar atau “pelintiran wartawan”, maka Riyogarta, seorang blogger menginisiasi mengadakan dialog terbuka dengan RS dalam forum khusus.


Maka, Jumat 11/04/2008 bertempat di kampus Universitas Budi Luhur dan disiarkan langsung (live streaming) oleh Universitas Bina Nusantara berlangsunglah dialog antara blogger dengan Roy Suryo. Dialog yang bertema “Membuat Blogger Positif untuk Indonesia” sempat diprotes oleh Riyogarta sebagai pemrakarsa acara. Sebab awalnya bukan judul ini yang diajukannya, tapi malah usulan tema dari Roy Suryo sebagai undangan yang diterima.

Dengan dimoderatori Abimanyu, acara ini diberi kata sambutan oleh Rektor UBL Prof. Ronny Rahman Nitibaskara, seorang ahli kriminologi. Sebagai seorang ahli kriminologi, beliau bisa memprediksi akhir dari dialog ini, ada 2 kemungkinan:

  1. Roy akan mengakui kalau dia melakukan penyimpangan, kemudian memperbaikinya dengan tidak melakukan penyimpangan;
  2. Roy akan bertahan, dengan segala penyimpangannya, karena sudah terlanjur basah.

Kemudian dialog ini dibuka dengan pernyataan Riyogarta yang menyatakan landasan dialog ini adalah ingin mengkonfirmasi langsung ke RS dengan beberapa pernyataannya yang sering menyinggung para blogger dengan menyatakan blogger adalah negatif. Sebagaimana kita ketahui, RS seringkali menyampaikan pernyataannya yang negatif tentang para blogger, hacker dan praktisi IT di Indonesia.

RS menyatakan bahwa ada bias dalam pernyataannya yang dikutip oleh media massa. Hanya sekilas saja ucapan dia yang dikutip dan menghilangkan bagian lain pernyataannya.

Para insan media adalah penyampai berita. Sudah tentu, agar berita yang diusung oleh medianya bisa menjadi daya tarik buat pembaca, pemilihan judul yang sensasional dan konten berita biasanya hanya mengambil nilai tertentu saja, tidak mungkin semua pernyataan, wawancara akan dimuat dalam konten yang terbatas.

Ketika sesi tanya-jawab dibuka oleh moderator, langsung saya mengacungkan tangan meminta kesempatan bicara. Saya nyatakan, saya mengapresiasi atas keberanian RS datang pada forum terbuka ini. Dan saya akui bahwa, RS ahli dalam berkomunikasi. Dengan ratusan massa yang mengunjungi dialog ini, saya pikir beliau akan dihakimi. Tapi itulah jagonya dia, malah tepukan tangan yang dia dapatkan. Dapat massa juga dia rupanya.

Mengenai pernyataan RS bahwa ucapannya dipelintir oleh wartawan, saya nyatakan bahwa RS rupanya punya mainan baru lagi. Setelah sebelumnya berkonfrontir dengan para blogger dan hacker, sekarang malah dengan wartawan. Saya pikir, untuk sekelas Detik dan Kompas (yang memuat pernyataan RS), dengan track record yang lama dalam media tentu mereka tidak akan mau main-main dengan isi berita. Sebab, kalau salah yang disampaikan ini akan mempengaruhi kredibilitas mereka.

Boleh saja RS menyatakan bahwa pernyataan dia yang benar adalah “ada beberapa blogger” yang bertindak negatif yang diucapkannya.Tapi kalau kita compare dengan pernyataan beliau yang saya kutip di atas, sangatlah berbeda. Tertulis jelas, “Kelompok blogger dan hacker“, ini sudah bicara komunitas, kelompok, dan mengeneralisir blogger, bukan lagi bicara individual-individual.

Belum lagi pada penggunaan istilah bahasa, para orang IT tentu sudah paham apa arti istilah hacker. Hacker tidaklah pernah membuat kerusakan, hanya sekedar mengingatkan dan malah menjadi partner pada beberapa orang untuk menguji kehandalan sistem atau software yang mereka buat. Barangkali maksudnya RS adalah cracker yang melakukan pengrusakan pada beberapa website. Tapi, ya… masa’ RS ‘nggak tahu apa arti dan perbedaan hacker dengan cracker.

Pada kesempatan bicara ini, saya melanjutkan dengan menyarankan RS agar menulis. Sebab, pada khasanah intelektual dunia, itu diwariskan dalam bentuk tulisan. Selama ini, barangkali saya kurang baca saya tidak menemukan tulisan-tulisan RS baik dalam bentuk buku, koran ataupun blog. Supaya pernyataannya jangan dianggap lagi dipelintir oleh media, hendaknya RS menuliskan pikiran-pikirannya itu dalam tulisan atau di blog. Dengan adanya tulisan-tulisan ini, orang bisa membaca siapa itu Roy Suryo. Sehingga ketika ada hal yang kontroversial, orang tinggal membaca atau sudah mengerti siapa dia dari tulisan-tulisannya.

Riyogarta sepakat dengan pernyataan saya, dan malahan beliau menawarkan domain gratis untuk Roy Suryo dan menantang untuk ‘ngeblok. Silahkan diisi dan tulislah. Jika RS menyatakan blogger negatif, dan menyarakan para blogger ini bisa menjadi positif maka dia harus bisa memberi contoh bagaimana menjadi blogger yang positif.

Tapi… Roy Suryo menolak. Beliau menyatakan tiap orang punya alasan untuk berkomunikasi. Setiap orang punya pilihan layer apa yang dipilih. RS tidak memilih dalam bentuk blog atau tulisan.

Akhir acara ini tidak ada kesepakan yang dibuat, atau konklusi konkrit yang didapat. Acara berakhir dengan tanda-tanya, apa sih motif Roy Suryo dengan pernyataan-pernyataannya dan kebenarannya. Sebab setiap jawaban dan pernyataan yang disampaikan Roy Suryo pada sesi ini selalu saja panjang lebar dan bias dari fokus masalah.

Pagi ini hari begitu cerah. Langit begitu bersih, matahari bersinar mulai memanaskan, seakan melupakan orang bahwa beberapa minggu, atau beberapa bulan yang lalu betapa matahari seakan enggan hinggap di Jakarta, sebentar-bentar saja lalu hujan menggantikannya.

Hari ini adalah hari-hari terakhir saya bekerja di kantor. Serasa semangat orang bebas telah meliputi diri, baru sadar ternyata saya harus menggenapkan hari-hari penghabisan di tempat kerja. Setelah pamit sama isteri, dengan langkah terburu menuju jalan raya untuk mendapatkan bus metromini berangkat kerja. Menegur tetangga, tersenyum dan ramah-tamah sedikit sambil melanjutkan perjalanan.

Sampai di jalan raya, stop metromini, buru-buru naik lewat pintu belakang. Harus sigap, bila tidak mau tersungkur karena kebiasan bus tak mau benar-benar berhenti untuk menaikkan penumpang. Jadi penumpang harus cekatan.

Saya mendengar kondektur menegur, lalu saya bertanya, “Kenapa?”

“Risletingnya Pak”, jawab kondektur sambil tersenyum melirik ke bawahku. Saya melirik ke bawah, “Astaga!”, saya kaget sekali! Reflek tas yang saya sandang menutupi bagian “itu”, lalu tangan sigap memasang risluiting celana yang menganga.

Malunya minta ampun. Ternyata sepanjang perjalanan dari rumah, sekitar 300 meter bagian tengahku menganga, barangkali berkibar tak tahu aku! Coba bayangkan, berapa orang yang kupapasi sepanjang perjalanan. Nyengir, malunya bukan main!

Untunglah mood saya lagi baik pagi ini. Coba bayangkan, kalau mood saya tidak baik, atau penerimaan saya kurang baik terhadap teguran kondektur ini, “‘Ngapain nih kondektur sok akrab, atau ‘negur-negur segala!?” Sambil berprasangka yang bukan-bukan saya malah mencuekin dia.

Tentu bisa dibayangkan sepanjang perjalanan ke kantor, bagian tengahku menganga dan orang-orang sudah pasti melirik, ada yang menyengir, ada yang melotot, ada yang tertawa. Walah! Sudah pasti seharian ini saya penuh dalam prasangka, “Kenapa ya orang-orang pada ‘nyengir, pada tersenyum, pada ketawa di depan, atau di belakangku. Tentu saja sehari ini saya penuh dengan curiga dan prasangka yang macam-macam.

Terimakasih bang kondektur. Tak terkira betapa berterimakasihnya saya kepadamu. Coba banyangkan, seandainya dikau tak menegurku, atau sungkan, atau takut, tentu seharian ini diriku penuh dengan ledekan, bahan gosipan orang-orang se Jakarta!

Tegurlah saya, jika saya punya kekhilafan atau kesalahan!

Older Posts »