Catatan Perjalanan
Banyak yang dilihat, banyak yang didengar, banyak yang terlihat. Tak semua terekam, hanya secuil yang tercatat. Selamat berkunjung dan membaca catatan ini.
Namanya, Sarbini saja. Satu kata, seperti nama-nama orang besar atau yang pernah tercatat di sejarah. Saya yakin, beliau pun juga akan mencatatkan namanya sebagai salah satu orang besar. Coba perhatikan: Ibrahim, Muhammad, Sukarno, Syailendra, (Adolf) Hitler, Suharto (yang ini kontroversi), hanya satu kata nama saja. Profil beliau, selain di http://sarbini.net, bisa juga dilihat di Facebook pada link ini atau link ini.
Anak Banten, yang lahir dari kampung Onyam, Tangerang ini melewatkan masa kecilnya di kampung. Menamatkan SMP di pondok pesantren Yayasan Pesantren Islam (YAPI), Bangil-Jawa Timur. Lalu dia menghabiskan masa remajanya di pondok pesantren Daar el-Qalam, Tangerang yang dilanjutkan dengan menamatkan pendidikan S1 di Universitas Tujuh Belas Agustus (UNTAG) 1945 Jakarta.
Saya mengenalnya sejak perjuangan tahun ‘98. Mantan Ketua Senat Mahasiswa dan Presiden Mahasiswa UNTAG ‘45 Jakarta ini adalah aktivis dan pejuang tulen. Koordinator FKSMJ (Forum Komunikasi Senat Mahaiswa se-Jakarta) tahun 1998 ini adalah motor, inspirator dan motivator perjuangan mahasiswa. Sosoknya yang low profile acap kali hilang dari liputan dan wawancara media massa.
Saya ingat, ketika Jakarta membara pada medio Mei ‘98. Konstalasi politik tidak menentu pasca resesi ekonomi dan penembakan (pembunuhan?) mahasiswa serta bumi hangus Jakarta dan kota-kota lainnya di Indonesia. Berbagai lapisan masyarakat ingin menyampaikan aspirasi ke gedung DPR/MPR, tapi terhalang oleh pagar duri dan hadangan tentara bersenjata lengkap. Tak ada celah untuk bisa masuk kesana. Demo-demo mahasiswa hanya bisa terjadi di dalam kampus saja, tak bisa keluar karena dijaga aparat bersenjata.
Saya ingat, kami para pentolan pimpinan berbagai kampus Jakarta. Para Ketua-ketua Senat Mahasiswa atau perwakilannya yang tergabung dalam Forum Komunikasi Senat Mahasiswa se-Jakarta (FKSMJ) berkumpul di IKIP Jakarta, lalu menyusup dalam rombongan rektor IKIP Jakarta masuk ke Gedung DPR/MPR. Saat itulah kepemimpinan dan ketokohan Sarbini terlihat. Bertindak sebagai juru bicara FKSMJ, beliau dan kami mendesak pimpinan DPR/MPR meminta agar Suharto mundur dari Presiden Republik Indonesia dan diadakan Sidang Istimewa segera!
Saya menyaksikan, betapa pucat dan gugup muka Harmoko dan pimpinan Dewan yang lain, atas desakan mahasiswa menyampaikan agar Suharto mundur dari Presiden. Hasilnya, reaksi hebat para elit pemerintah dan aparat terhadap seruan ini. Wiranto sebagai Pangliman ABRI waktu itu langsung bereaksi bahwa seruan itu adalah seruan pribadi dan siap melindungi keluarga Suharto.
Kami memutuskan menginap di gedung DPR/MPR, dalam kepungan tentara bersenjata dan sniper yang mengincar di malam hari. Saking mencekamnya disana, sampai Syarwan Hamid dari Fraksi ABRI di DPR/MPR tidak berani keluar dari sana.
Ah, betapa mencekam malam itu. Bayangan peristiwa 27 Juli masih saja terbayang di mata. Apakah kami akan berakhir seperti ini?
Nostalgia, ya kenangan itu begitu melekat pada diri saya dengan Sarbini sebagai salah satu tokoh sentral dalam aksi ini.
Singkat cerita, akhirnya Suharto pun tumbang digantikan Habibie yang penuh kontoversi. Mahasiswa terpecah dukung-mendukung dan menentang dengan meminta sidang istimewa MPR atau membentuk pemerintahan transisi atau pemerintahan rakyat. Isu berkembang menjadi fitnah, bahwa yang menentang Habibie adalah kelompok komunis. Kami pun dipetakan dalam grup komunis ini.
Tapi mana mungkin Sarbini, jebolan pesantren murid kesayangan kiyai bisa menjadi komunis? Dalam forum-forum diskusi dan seminar, lugas dan cerdas Sarbini menjawab fitnah dan tuduhan ini.
Kami menyebut Sarbini dengan istilah Buldozer. Ya, beliau adalah jagonya dalam retorika dan berorasi. Dalam setiap forum, beliau mampu melabrak para elit yang pasca runtuh Suharto mengklaim sebagai pihak yang paling berjasa dalam menjatuhkan Orde Baru, dan mengklaim sebagai “orang” dibalik gerakan mahasiswa. Sebagai pelaku langsung di lapangan, Sarbini tentu saja perlu meluruskan hal ini. Gerakan mahasiswa bersih dari kepentingan elit!
Kami menyebut dia si Buldozer! Argumentasinya jelas dan logikanya benar. Tentu saja para oportunis yang main di forum-forum mati kutu olehnya.
Pasca jatuhnya Suharto, gerakan mahasiswa masih melakukan reli-reli aksi. Sarbini masih saja berada di garis terdepan. Beliau mempelopori pertemuan-pertemuan ketua senat mahasiswa dan perwakilan mahasiswa secara nasional untuk menghasilkan sinergi perjuangan.
Ketika pemerintah tak lagi legitimate maka perlu dicari pemimpin alternatif, yang bisa menyatukan semua perbedaan dan menghindarkan Indonesia dari perpecahan dan kehancuran. Sarbini adalah salah satu orang yang menjadi otak dari pertemuan para tokoh bangsa dan mendorong mereka untuk bertemu. Pertemuan ini menghasilkan kesepakatan yang dikenal dengan Deklarasi Ciganjur. Dimana, dari pertemuan inilah naiknya popularitas Gus Dur, Megawati, Amien Rais dan Sri Sultan HB IX.
Sayang, tak banyak diharap dari pertemuan tokoh ini. Mereka masih takut untuk maju memimpin alih kepemimpinan nasional. Semenjak itulah kami menyatakan tidak lagi percaya kepada para elit, dan menyerukan POTONG SATU GENERASI!.
Sarbini adalah sahabat saya, yang lahir dari kancah perjuangan. Ketika mahasiswa terpecah dalam isu dukung-mendukung Habibie, menentang dan mendukung Sidang Istimewa, beliau tampil beda dengan argumentasi yang cerdas logis. Beliau belajar dari guru terbaik, dan tentu saja semua apa yang disampaikannya tak terbantahkan!
Pasca reformasi ‘98, sebagian mahasiswa balik ke kampus dan sebagian lagi sibuk dengan perjuangan. Ada juga yang masuk ke gelanggang politik praktis. Berbeda dengan Sarbini, ketika berbagai tawaran datang masuk afiliasi politik, sampai tawaran beasiswa dan dukungan dana dari berbagai funding. Beliau masih tetap dalam jalur independen dan bersih dari kepentingan praktis.
Ketika beberapa teman bergabung dengan berbagai partai politik, atau melanjutkan kuliah di luar negeri, Sarbini memilih mematangkan dan menyiapkan diri. Beliau belajar dari guru terbaik, dari aktivis angkatan ‘60an, ‘70an sampai ‘80an. Mahasiswa kesayangan dari Prof. Sri Soemantri, guru besar ilmu hukum tata negara ini kuat dalam landasan ilmiah. Murid kesayangan kiyai di pondok pesantren ini, kuat dalam dalam argumentasi agama dan ilmiah. Sehingga ketika pertentangan mahasiswa membelok ke isu politik, ekonomi sampai agama, maka Sarbini bisa selamat dan menang dalam hal ini.
Kematangan politik dan basis massa Sarbini teruji dalam perjuangan. Beliau adalah tokoh yang menjadi tangan kanan Sarwono Kusumaatmadja yang berhasil memenangkan dan mengantarkan Sarwono maju sebagai wakil DKI Jakarta pada DPR MPR RI periode 2004-2009. Sampai akhirnya dipercaya menjadi staf ahli parlemen di DPD bidang politik mendampingi Ir. Sarwono Kusumaatmadja.
Sekarang, setelah merasa saatnya tiba dan matang, beliau maju membawa aspirasi rakyat Banten sebagai calon legislatif DPR RI dari Partai Demokrat dengan nomor urut 8 dari daerah pemilihan Kota dan Kabupaten Tangerang. Dengan dukungan penuh dari KH. Drs, Ahmad Syahiduddin selaku pimpinan Pondok Pesantren Daar el-Qolam, Sarbini bertekad akan membawa dan membela kepentingan rakyat.
Tak diragukan lagi, saya percaya dengan latar belakang perjuangan yang teruji maka Sarbini akan mampu membawa aspirasi rakyat ke DPR MPR RI.
Selamat berjuang sahabat, kami para sahabatmu akan mendukungmu!
Wassalam,
Helsusandra Syam
http://hensyam.co.nr
Koordinator FKSJM (Forum Komunikasi Senat Mahasiswa se-Jakarta) tahun 2000.
Sekali retak, kalau tak hancur sulit untuk kembali.
Alam terkembang jadi guru. Pengalaman memberikan pelajaran yang terbaik, penuh hikmah. Menjaga kaca haruslah penuh kehati-hatian. Sekali retak, maka sulit untuk kembali seperti semula. Hanyalah menghitung waktu akan datangnya kehancuran. Apalagi kalau sudah berderai, sulit untuk mengumpulkan yang terserak, membentuk rupa seperti semula. Kalau pun bisa merangkai, seperti puzzle yang terbentuk, tetap saja tampak ketidak-utuhan.
Sekarang ini zamannya orang jualan “kecap”. Mengaku, “kecap gue yang yang nomor satu!” Obral janji, cari data, cara fakta, cari kesalahan orang lain. Semua mengaku diri, kelompok, organisasi dan partainya yang terbaik. “Pilih saya, pilih kami!”
Perlu kecerdasan otak dan kecerdasan nurani untuk menilai. Walau seperti sirup yang dihidangkan, barangkali racun yang terpendam. Kemasan boleh cantik, tapi isi lebih penting. “Kubak kulik, tampak isi”, demikian orang Minang katakan. Ketika dukupas kulitnya, maka tampaklah isinya. Teliti sebelum membeli. Jangan terayu pada pandang mata, jangan terbuai oleh suara. Ada skenario di balik panggung.
Sejarah adalah adalah jejak-rekam dari pengalaman. Belajarlah dari masa lalu, lalu bersiaplah untuk masa depan. Pandang jauh dilayangkan, pandang dekat ditukikkan. Jangan silau oleh pandang jauh, lubang di hadapan siap menjerumuskan. Jangan khusuk pada langkah kaki, tapi ranting menghantam dahi, singa di kejauhan siap menerkam tak disadari.
Mereka boleh saja jual citra, seperti tukang obat cuap-cuap suara. Awas, teliti dulu sebelum membeli. Pelajari program, teliti masa lalu, pelajari jejak-rekam sejarahnya. Jangan terpukau oleh janji-janji yang mengatasnamakan rakyat. Sekali mereka terhantarkan ke atas panggung, berjoget dia lupa pada massa. Cerita dan peran tunduk pada skenario, bukan pada selera penonton.
Ini pesta 5 tahunan, ataukah keprihatinan? Sekali salah memilih, maka menyesallah selamanya.
Hayo bung, ayo mbak, ayo kak, ayo bapak-ibu. Pilihlah yang terbaik. Kalau gelas sudah retak, jangan dipakai untuk minum kembali.
Jika laut terus menerjang
kemanakah arah pilihanmu?
ikuti pecah ombak – lalu terhempas di pasir pantai
atau pegang kemudimu, atur layarmu
berselancar di bibir gelombang
tetap terus menuju arah tujuan.
walau angin topan gemar bersorak – gentarkan semangat
walau gelombang menghadang pecah berbuih
pegang terus kemudi
layang jauh pandang matamu – awasi marabahaya
tembusi pekat, lincahlah bergerak
bukankah di seberang badai ada
teluk yang permai, dan tasik yang landai.
(01-06-05, update 20-03-09)
Pernahkah Anda menyaksikan, jam yang menjadi patokan waktu anda berjalan mundur? Jika selama ini kita menyaksikan arah putaran jam adalah bergerak dari kiri ke kanan. Sehingga arah ini menjadi patokan gerak juga bagi orang-orang, “Bergerak searah jarum jam.”
Lalu, bagaimana kalau seandainya gerak putaran jarum jam tidak mengarah ke kanan, tapi ke kiri? Nah lho! Iya, bagaimana kalau seandainya gerak jarum jam anda tidak lagi ke kanan tapi ke kiri, alias mundur?!
Sudah beberapa hari ini jam meja di rumah bergerak mundur, alis bergerak dari kanan ke kiri. Berbalik arah dari kebiasaan jarum jam biasa. Bermula dari suatu malam, tiba-tiba gerak jarum jam mati. Hari sudah menjelang larut tapi saya melihat jarum jam masih menunjukkan pukul setengah 9 malam. Saya pikir baterenya mungkin sudah habis.
Lalu saya ganti batere jam, setel jarum ke posisi yang normal sesuai waktu saat itu. Mesin jam mulai berdetak kembali. Saya pikir selesailah sudah.
Pagi hari, saya melihat jarum jam menunjukkan pukul setengah sembilan. Saya tak terlalu memperhatikan apakah sesuai jam dengan posisi waktu saat itu. Tapi saya mulai merasakan keanehan. Lalu beberapa waktu kemudian saya melihat jarum jam setengah delapan, wah ada yang nggak benar nih. Saya pikir mungkin jamnya mati, lalu saya ambil jam tapi masih mendengar detak mesin. Waduh! Ada apa ini?
Saya diamkan saja. Lalu beberapa saat kemudia saya melihat kembali ke jarum jam, nah lho, kok posisi jarum jam semakin jam mundur? Sementara waktu tidak lagi sesuai. Masa’ hari masih pagi tapi jam menunjukkan jam malam?
Walah! Jamku ternyata berjalan mundur!
Lalu pikiranku berkelana. Seadainya waktu—perjalanan hidupku bisa berjalan mundur pula, seperti gerak jamku tentu akan banyak cerita dan perancangan hidup yang berubah. Seandainya waktu bisa diulang kembali, tentu akan beda cerita hidupku hari ini.
Pada usia yang sudah kepala tiga, berlainan sekali pilihan jalan hidup yang kutempuh hari ini dibandingkan cita-cita masa laluku. Perjalanan hidup yang berkelok-kelok, jalan nasib yang berliku mencari arah tuju. Beragam jalur telah ditempuh, akhirnya sekarang masuk pada pilihan yang realistis dan yakin: Bahwa pilihan sebagai saudagar adalah pilihan hidup yang kupilih saat ini!
Sudah hampir setahun, tepatnya April 2009 aku sudah memutuskan enterpreneur sebagai jalan hidupku. Setelah sekitar 3 tahun bekerja sebagai karyawan pada salah satu perusahaan IT, aku memutuskan mundur keluar kerja tanpa tabungan dan persiapan material. Dengan Bismillah aku memutuskan berhenti, dunia kerja bukanlah duniaku. Dunia wirausaha—Tangan Di Atas adalah sesungguhnya jalan hidupku.
Terlambat memang, pada usia kepala 3 dan setelah berumah tangga kenapa aku baru menemukan jalan ini? Kemana saja aku berkelana selama ini? Pencarian jati diri, jatuh-bangun terantuk cobaan hidup. Kuliah yang tak selancar orang kebanyakan, terlambat tamatnya. Pencarian jalur hidup, jalan politik pun pernah kumasuki. Tapi itu bukanlah duniaku. Terlalu banyak yang harus dikorbankan pada dunia politik, dunia kerja dan sebagainya. Harus berani dan tega untuk membunuh atau menindas nurani sendiri.
Tahun 1993 merantau ke Jakarta, berharap pada perubahan hidup tidak dengan cara berdagang. Kebanyakan orang kampungku merantau ke Jakarta adalah ingin mencari kerja atau berusaha (berdagang). Tapi aku ingin melanjutkan pendidikan, kuliah. Tapi nasib dan pengharapan di Jakarta tidaklah seindah bayangan. Perjalanan dan pencarian menempuh berbagai liku dan kisah. Tak terbayang dan tak terniat sedikit pun untuk menjadi pengusaha atau berdagang (berbisnis).
Tapi apa yang terjadi hari ini? Hampir setahun sudah aku memutuskan full bisnis, full TDA. Banyak harapan dan gairah yang aku rasakan, bahwa dunia wirausaha, dunia tangan di atas adalah sebenarnya pilihanku. Tak lagi mencari gaji, tapi menjemput dan menerima rezeki Allah SWT yang tak berbatas!
Memang terlambat gairah dan jalan hidup ini kutemukan. Seandainya waktu bisa berjalan mundur, beberapa tahun atau puluh belasan tahun yang lalu, tentu akan kurancang nasib dan jalan hidupku. Tentu akan berlainan cerita hari ini. Aku hari ini tentulah tidak lagi masih berjuang mandiri.
Terkadang iri pada anak-anak muda yang masih belia atau muda usia, tapi sudah mandiri dalam ekonomi. Kalau saja kesadaran hidup ini kuperoleh saat masih usia belasan, atau paling tidak katakanlah aku sudah mulai bisnis pada usia dua puluhan tentu sudah banyak pencapaian diri.
Seandainya waktu bisa berjalan mundur, seperti jam mejaku sekarang ini. Tentu saja banyak cerita dan akan berlainan diriku saat ini. Tapi hidup adalah rahasia, sekarang ini yang bisa lakukan saja yang terbaik. Berbuat, bekerja, berusaha, berdoa, bekerja dan ikhlas pada apa yang diperoleh. Sabar, tawakal dan bersyukur pada apa saja yang didapatkan. Tentu Allah SWT akan mengerti, bahwa tidak ada usaha yang tidak akan mendapatkan hasil.
Betapa Kehidupan Sangatlah Berharga
Malam ini, Minggu 01 Februari sebuah email dari Friendster masuk ke dalam inbox Gmail-ku. Sebuah reminder tentang ulangtahun sahabatku K. innalillahi wa innalillahi rajiuni, sang sahabat ini sudah almarhum beberapa waktu lalu. Tapi akun dia di FS masih ada dan belum di-update statusnya. Database server FS mencatat hari ulangtahunnya, dan otomatis akan mengirimkan reminder kepada semua teman-teman yang terkoneksi dengan sahabat K ini.
Sedikit berdesir di dada, aku mencoba melihat halaman akun K di FS. Tak ada yang berubah pada status akun dia, hanya pada bagian comment aku melihat masih ada komentar-komentar yang disampaikan oleh para kawan yang menyampaikan duka-cita dan doa. Aku panggil isteriku, kami membaca komentar atau testimoni tentang K.
Tak terasa, sekian bulan sudah K telah pergi. Walau sedikit lama belum berhubungan, teringat serasa baru kemarin pernah bersahabat dengan K. Terbayang kami pernah akrab di kelas eksekutif (ekstensi) UBL. Terkadang beberapa kali main band di studio musik, jalan-jalan dan berbagai kegiatan lainnya.
Memang kematian bisa menjemput kapan saja, tak tua, tak muda. Sehat atau sakit dia pasti datang.
Isteriku jadi berkata, “Kak, Efa jadi takut ni setelah melihat FS teman kakak tadi.”
“Kenapa?”, tanyaku.
“Efa tiba-tiba ingat akan mati. Efa jadi takut, kalau kematian itu datang sementara belum banyak amal dan bekal yang dibawa….”
Aku tertegun.
Aku meneruskan membaca beberapa testimoni terakhir dari teman-teman di FS-nya K. Walau dia telah tiada, masih ada beberapa komentar atau testimoni yang tampil di halaman FS dia. Barangkali isteri beliau yang meng-approve testimoni ini.
Entah mengapa, aku semakin menjadi tergetar. Teringat sang sahabat yang meninggal muda, meninggalkan seorang isteri yang belum lama dinikahi dia.
Ya Allah, betapa umur adalah rahasia-Mu. Setiap kita memperingati hari ulang tahun, pada hakikatnya itu adalah petanda semakin berkurang jatah umur.
Sang Baginda Muhammad SAW bersabda, “Perbanyaklah mengingat kematian”. Bahwasanya, memang kematian (maut) itu adalah guru/pelajaran yang terbaik.
Biasanya selama ini, berita kematian adalah menjadi hal biasa saja bagiku. Tapi entah mengapa malam ini aku begitu tergetar dan ketakutan. Teringat pada umur yang berjalan serasa sia-sia. Apa sajakah yang telah berharga dan amal yang telah dibuat?
Seandainya memang kematian menjemputku saat ini, apa amalku? Teringat dosa dan kesia-sian yang dilakukan. Teringat pada umur yang belum berharga. Teringat pada bekal yang akan dibawa, teringat belum ada yang berharga yang akan ditinggalkan.
Kupandang isteriku yang sudah mulai terlelap tidur, kupandang “wahai isteriku, seandainya aku pergi, apa yang akan terjadi padamu?”
Bayangan-bayangan kekuatiran pada yang akan kuhadapai seandainya maut menjemput. Kekuatiran pada isteri yang sendirian ditinggalkan.
Dengan bergetar kubasuh tubuh ini dengan wudhu’. Kutegakkan shalat Taubat, dan pada sujud terakhir tak tahan lagi aku tersedu-sedu. Takut pada dosa, azab yang akan dihadapi di alam kubur. Terbayang dosa dan kesia-siaan semasa hidup. Terbayang kurangnya amal dan bekal dibawa dan ditinggalkan.
Bergetar hebat badan ini, tersedu-sedan. Seandainya tak takut membangunkan isteri karena sedu-sedan ini, mungkin sudah melolong aku minta ampun dan menangis.
Ya Allah, ternyata belum banyak hal yang berharga yang aku perbuat selama ini. Banyak salah dan dosaku. Seandainya masih berkenan Kau panjangkan umurku, berikan aku kesempatan berbuat banyak hal baik dan berbuat amal. Ampunilah salah dan dosaku, ya Allah.
Tak terasa air mata terus mengalir. Betapa meruginya diri selama ini.
Dengan membaca istighfar, aku memohon ampun dan memohon kepada Allah. Berikanlah aku kesempatan untuk memperbaiki diri, berbuat amal dan meninggalkan kebaikan.
Benar kata Sang Nabi, bahwa pada kematian itu terdapat pelajaran yang sangat besar.
Terimakasih ya Allah, Engkau telah memberikan kesadaran dan peringatan pada diriku. Betapa selama ini kematian berlalu saja di depanku. Bahkan ketika mengantarkan yang mati ke kuburan pun, tak banyak bekas hinggap di hatiku. Seakan itu adalah peristiwa biasa saja. Ada yang datang tentu saja ada yang pergi.
Tapi malam, ini sebuah peringatan dan pelajaran sangat besar telah kudapatkan. Terimakasih dan segala puji bagi-Mu, ya Allah atas peringatan ini. Jika ada umurku, tentu saja aku masih diberi kesempatan oleh-Mu.
Terimakasih sahabatku K. Engkau memang telah pergi, semoga inilah yang terbaik buatmu. Semoga Allah SWT mengampuni dosamu, dan menempatkan engkau di tempat yang terbaik. Pada sisa akhir hidupmu, Allah telah memberikan hidayah dan hadiah kepada dirimu, Engkau telah dipanggil masuk Islam. Semoga kehidupan baru di alam sana memberikan kebahagiaan padamu. Tinggallah kami yang hidup ini yang masih belum tentu masa depan sejati kami, apakah kami akan mendapatkan neraka atau surga. Apakah kami akan mendapatkan kebahagiaan tertinggi dengan bisa bertemu dengan Allah SWT.
Ya Allah, ampunilah segala dosaku. Berikanlah kesempatan bagiku untuk membahagiakan isteriku. Berikanlah kami anak keturunan yang menjadi penyejuk mata, menjadi penerus kebaikan dan yang akan mendoakan kami apabila kami telah tiada.
Ya Allah, sesungguhnya tiada Tuhan selain diri-Mu. Aku bertaubat kepada-Mu. Betapa zhalimnya diri ini selama ini. Berikanlah kesempatan padaku untuk berbuat baik, untuk meninggalkan warisan yang terus mengalirkan doa dan memberikan keselamatan padaku nanti.
Aamien ya Allah….
(Jakarta, 01-01-2008: 23.58
Silahkan klik tanda “Play” pada tampilan youtube di bawah untuk mendengarkan lagu. Untuk mendownload lagu, silahkan menuju link ini: http://www.michaelheart.com/Song_for_Gaza.html
WE WILL NOT GO DOWN (Song for Gaza)
(Composed by Michael Heart)
Copyright 2009
A blinding flash of white light
Lit up the sky over Gaza tonight
People running for cover
Not knowing whether they’re dead or alive
They came with their tanks and their planes
With ravaging fiery flames
And nothing remains
Just a voice rising up in the smoky haze
We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight
Women and children alike
Murdered and massacred night after night
While the so-called leaders of countries afar
Debated on who’s wrong or right
But their powerless words were in vain
And the bombs fell down like acid rain
But through the tears and the blood and the pain
You can still hear that voice through the smoky haze
We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight
Pagi ini saya menyaksikan di televisi, seorang anak kecil Palestina terkapar buta. Mukanya hancur dan matanya tak bisa melihat lagi. Israel menjatuhkan bom ke tempat tinggalnya, bom yang mengandung cairan kimia. Asapnya pekat dan membakar daging, malah sampai ke tulang. MasyaAllah, kemana warga dunia? Kemana PBB, Amerika yang mengaku pejuang HAM? Kemana negara-negara Arab?
Pada tayangan lainnya, satu ambulan penuh mayat bergerak cepat membelah kota yang hancur. Ada para ibu, ayah yang menangis histeris menyaksikan ananda tercinta tergeletak tak bernyawa. Ada jejeran anak-anak lugu yang berbungkus kain kafan, dan ada lagi yang belum. Asap hitam pekat dan putih membumbung dari kota yang luluh-lantak. Tak ada lagi tempat yang aman, rumah, sekolah, mesjid jadi sasaran bom peluru kendali. Tak cukup rasanya, sekedar air mata saja kita berikan ke Palestina.
Per hari ini (13-01) sudah 920 lebih warga Gaza tewas. Setiap menonton TV, hanyalah mendapatkan kabar setiap hari puluhan dan ratusan orang yang tewas. Hari demi hari, hanyalah menghitung jumlah orang yang mati.
Tak habis pikir, sekolah PBB, rumah sakit, ambulan, dan wartawan pun diserang. Dari TV saya menyaksikan seorang wartawan Televisi yang sedang meliput, ditembak berkali-kali. Setelah terkapar, sang wartawan mengangkat tangannya—mungki tanda menyerah atau minta ampun, tapi ditembak lagi berkali-kali sampai tak bisa bergerak lagi.
Seluruh dunia bersatu-padu mengutuk agresi Israel atas tanah Palestina. Mereka tak lagi memandang agama dan bangsa. Persoalan Palestina adalah persoalan kemanusiaan. Seluruh warga dunia bersimpati, tapi kenapa pemerintahannya masing-masing banyak yang membisu?
Sudah jelas, apa yang dilakukan Israel sekarang ini adalah holocaust. Basmi habis warga Palestina demi pembentukan Israel Raya yang terbentang dari Mesir sampai Irak. Maka, pembantaian tak berkemanusiaan harus dilakukan terhadap warga Palestina. Bisa kita lihat, sasaran agresi adalah para anak-anak dan wanita. Karena merekalah penerus generasi Palestina. Setelah wanita terbunuh dan tak lagi menghasilkan anak, setelah anak-anak habis, maka siapakah lagi yang akan meneruskan generasi Palestina?
Aah… Kok bisa ya, negara-negara pengusung HAM bisa berdiam diri melihat kekejaman ini? Rumah sipil, wanita dan anak-anak dibantai, sekolah PBB tempat berlindung diroket, rumah sakit dibom, ambulan diserang, wartawan diberondong peluru. Tempat-tempat terlarang dan dilindungi oleh hukum internasional….
Untuk melawan sedikit pejuang Hamas, Israel mengerahkan seluruh angkatan perang dan puluhan ribu tentara. Menjatuhkan bom-bom kimia berbahaya. Apakah yang terjadi…..?
